Sebaik-baik dari kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya (H.R. Bukhari)
Tampilkan postingan dengan label penting diketahui peruqyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penting diketahui peruqyah. Tampilkan semua postingan

Selasa

Sakit, Gejala Sakit dan Kesembuhan


Yang disebut penyakit dalam kehidupan manusia sehari-hari itu sebetulnya adalah gejala sakitnya (simtoma). Jika berlangsung lama maka terjadi penumpukan di bagian sakitnya itu dan atau menyebar ke area/sektor lainnya.

Adapun sakit yang sesungguhnya adalah akar dari segala penyebabnya itu.
Ada penyebab utama, ada pula penyebab ikutan (tambahan).

Ketelitian dan ketekunan membedakan dan memilah, memposisikan masing-masing sebab serta upaya memperbaikinya itu menjadi "seni" dalam proses terapi.
Adapun kesembuhan, itu adalah wilayah mutlak ALLaah swt.

Kesembuhan itu bukan milik makhluk.
Bagi makhluk, kesembuhan itu hanya sampai pada batas harapan bersamaan saat awal dilakukannya proses terapi, pada saat proses itu dijalankan dan di saat akhir prosesnya.

Sebab utama sakit dan kerusakan lainnya itu adalah jiwa buruk-jahat (nafs syarr) dan kesalahan dari perbuatan demi perbuatan (amal suu`). Baik secara sepihak berasal dari dirinya sendiri, atau murni berasal orang lain atau secara bersamaan dari andil keduanya.
Yang jelas, nafs syarr dan 'amal suu` itu pilar dari segala penyebabnya.

Nabi shallaLLaahu 'alaihi wasallam bersabda,

وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

Kami berlindung kepada ALLaah dari kejahatan jiwa kami dan dari kesalahan perbuatan kami.
(HR. An-Nasaa-i 1387, Ibnu Majah 1882. Shahih)


Sebab-sebab ikutan adalah segala sebab yang merupakan rangkaian proses setelah kedua hal di atas, termasuk jin pengganggu, virus, bakteri patogen, racun, benturan, luka, buly, cacian, ancaman, pujian berlebih, dan sebagainya.

• Memperbaiki dasar penyebabnya adalah fondasi dari terapi.
• Menghilangkan sebab-sebab ikutannya menjadi pelengkap proses terapi.
• Menyempurnakannya adalah dengan menyertakan harapan sembuh di awal, di saat dan di akhir setiap proses terapi kepada Zat Pemilik Kesembuhan, ALLaah swt.

Jika sembuh itu diberikan di dunia maka hendaklah bersyukur dengan sebenarnya syukur. Bersemangat menuliskan sejarah hidup di sisa waktu dengan sebaik-baiknya tulisan berupa niat dan amal. Jadilah dirinya semakin taat dan dekat dengan Khaliqnya dan jadilah dirinya semakin bermanfaat bagi para makhlukNya.

Jika sembuh itu ditunda pemberiannya di dunia setelah penantian panjang dalam proses terapi dan berharap, maka hendaknya dia berbahagia karena penyerahan kumpulan dari sekian kali proses dan harapan itu akan diserahkan dalam dua jenis penyerahan:

1• dalam bentuk penghindar dan pencegah keburukan demi keburukan di masa depannya yang semula keburukan itu sudah ditakdirkan terjadi atas dirinya selama hidup di dunia.

2• dalam bentuk pahala besar dari sekian upaya dan harapannya yang semua itu akan diterimanya di akhirat atas kesabarannya tidak isti'jal.
* isti'jal: tergesa ingin dapatkan segera, dan saat tdk mendapatkannya dia kecewa.


عَنْ أَبِي سَعِيدٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا”، قَالُوا: إِذًا نُكْثِرُ قَالَ: “اللَّهُ أَكْثَرُ”
(رواه أحمد ١٠٧٠٩).

Dari Abu Sa’id berkata; Nabi ﷺ  bersabda:​
​“Tidak ada seorang muslimpun yang berdoa dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa atau pemutusan tali silaturrahim, kecuali ALLaah akan memberinya salah satu dari tiga kemungkinan;​
​- disegerakan pengabulan doanya (di dunia ini), atau​
​- disimpan/ditabung sebagai pahalanya untuknya untuk (diberikan) di akhirat,​
​- atau ia dijauhkan dari keburukan yang setara nilainya (dengan doa itu)”.​

Para sahabat berkata: “Jika demikian kita perbanyak (berdoa yang banyak) saja”, beliau bersabda: “ALLah memiliki yang lebih banyak (sebagai balasan dan pengkabulan)”​
(HR. Ahmad  10709).


قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Katakanlah (Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.

[Surat Az-Zumar (39): 10]


___R. Rosyadi

Senin

Gangguan Jin dan Penguasaan Syaitan

Gangguan Jin dan Penguasaan Syaitan
(Kepada orang sholih maupun tholih)

Kita tengok dulu kisah nyata berikut ini,

عَن عَطَاءُ بْنُ أَبِى رَبَاحٍ قَالَ قَالَ لِى ابْنُ عَبَّاسٍ أَلاَ أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى . قَالَ هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ إِنِّى أُصْرَعُ ، وَإِنِّى أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِى . قَالَ إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ . فَقَالَتْ أَصْبِرُ . فَقَالَتْ إِنِّى أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ ، فَدَعَا لَهَا

Dari ‘Atho’ bin Abi Robaah, ia berkata bahwa Ibnu ‘Abbas berkata padanya, “Maukah kutunjukkan wanita yang termasuk penduduk surga?” ‘Atho menjawab, “Iya mau.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Wanita yang berkulit hitam ini (umum Zufar radhiyaLLaahu 'anhaa), ia pernah mendatangi Nabi shallaLLaahu ‘alaihi wa sallam, lantas ia pun berkata, “Aku menderita penyakit shoro' dan auratku sering terbuka karenanya. Berdo’alah pada ALLaah untukku.” Nabi shallaLLaahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Jika mau sabar, bagimu surga. Dan jika engkau mau, aku akan berdo’a pada ALLaah supaya menyembuhkanmu.” Wanita itu pun berkata, “Aku memilih bersabar.” Lalu ia berkata pula, “Auratku biasa tersingkap (kala aku terkena shoro'). Berdo’alah pada ALLaah supaya auratku tidak terbuka.” Nabi –shallaLLaahu ‘alaihi wa sallam– pun berdo’a pada ALLaah untuk wanita tersebut.
(HR. Bukhari no. 5652 dan Muslim no. 2576).
_______



Siapapun bisa terkena gangguan jin pengganggu. Apakah itu orang sholih maupun orang tholih.
Tetapi penguasaan syaitan hanya kepada mereka yang tholih saja.


1. Orang shalih bisa mendapatkan gangguan dari jin pengganggu sebagai bagian ujian kehidupan yang bisa jadi karena kesalahan-kesalahan yang tidak sampai ke derajat rusak imannya. Hal ini sebagaimana sangat mungkinnya dia terkena virus demam berdarah karena kecerobohan/kelalaiannya menjaga kebersihan lingkungan dan keseimbangan stamina dirinya. Selama yang bersangkutan tidak terganggu sedikitpun ketaatan dan loyalitasnya kepada ALLaah swt, maka dia tidak bisa disebut dikuasai syaitan.

2. Orang tholih terganggu dengan gangguan jin secara nyata yang orang kebanyakan jelas bisa menilainya: seperti kesurupan, kelainan jiwa, sakit yang peralatan medis tidak menemukannya, dan sebagainya.. dan sekaligus dominan kehidupannya dikuasai syaitan seperti tidak sholat, senang berjudi, minum kamar, berekonomi ribawi, buruk akhlak dan sebagainya..

3. Orang tholih yang tampak menurut orang lain hidup sehat, keluarga sukses, ekonomi lancar, sosialnya dermawan dan dihormati...dan seterusnya dengan keadaan yang tidak beriman, memusuhi agama ALLaah swt,..dan seterusnya yang ketholihannya jelas-jelas sudah menjadi bagian dari sekutu syaitan.


*Tholih = antonim (lawan kata) dari sholih.
_____

Perlu kita bedakan antara gangguan jin pengganggu dengan penguasaan syaitan.

_____


QS. Az-Zukhruf (43): 36

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

Dan barangsiapa berpaling dari pengajaran ALLaah Yang Maha Pengasih (Al-Qur'an), Kami biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya.


____________

Kaitannya dengan QS. An-Nahl (16): 99-100 dan QS. Al-Isra' (17) :65


إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sungguh, setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan.

(Arabic Ibn Kathir Tafseer)

وقوله "إنه ليس له سلطان على الذين آمنوا وعلى ربهم يتوكلون" قال الثوري ليس له عليهم سلطان أن يوقعهم في ذنب لا يتوبون منه وقال آخرون معناه لا حجة له عليهم وقال آخرون كقوله "إلا عبادك منهم المخلصين".

Imam Ats-Tsauri mengatakan bahwa syaitan itu tidak memiliki kekuasaan atas mereka (orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya) untuk menjatuhkan mereka ke dalam dosa yang mereka tidak bisa bertaubat darinya. Sedangkan yang lainnya mengatakan, artinya, tidak ada hujjah bagi syaitan atas mereka. Yang lain lagi mengatakan, yang demikian itu sama seperti firman-Nya: “Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlish di antara mereka.”
[QS. Al-Hijr (15): 40]


إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ

Pengaruhnya hanyalah terhadap orang yang menjadikannya pemimpin dan terhadap orang yang mempersekutukannya dengan ALLaah.

(Arabic Ibn Kathir Tafseer)

"إنما سلطانه على الذين يتولونه" قال مجاهد يطيعونه وقال آخرون اتخذوه وليا من دون الله.

"وهم به مشركون" أي أشركوا في عبادة الله ويحتمل أن تكون الباء سببية أي صاروا بسبب طاعتهم للشيطان مشركين بالله تعالى

وقال آخرون معناه أنه شركهم في الأموال والأولاد.

Mujahid mengatakan: “Yakni, mentaatinya [syaitan].” Ulama lainnya mengatakan: “Mereka menjadikannya sebagai pelindung selain ALLaah".

walladziina Hum biHii musyrikuun (“Dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan ALLaah.”) Maksudnya, mereka menyekutukan syaitan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.
Huruf ba’ bisa jadi sebagai ba’ sababiyyah, artinya, karena ketaatan mereka kepada syaitan, mereka menjadi musyrik kepada ALLaah Ta’ala.

Ulama lainnya mengatakan bahwa artinya, syaitan itu bersekutu dengan mereka dalam harta benda dan anak-anak.

[Surat An-Nahl (16): 99-100]



إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ ۚ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ وَكِيلًا

“Sesungguhnya (terhadap) hamba-hamba-Ku, engkau (Iblis) tidaklah dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga.”


(Arabic Ibn Kathir Tafseer)

وقوله تعالى "إن عبادي ليس لك عليهم سلطان" إخبار بتأييده تعالى عباده المؤمنين وحفظه إياهم وحراسته لهم من الشيطان الرجيم ولهذا قال تعالى "وكفى بربك وكيلا" أي حافظا ومؤيدا ونصيرا وقال الإمام أحمد حدثنا قتيبة حدثنا ابن لهيعة عن موسى بن وردان عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال "إن المؤمن لينض شياطينه كما ينض أحدكم بعيره في السفر" ينض أي يأخذ بناصيته ويقهره.

Firman-Nya: (“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka.”) Yang demikian itu merupakan pemberitahuan ALLaah Ta’ala tentang dukungan yang diberikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan pemeliharaan yang Dia berikan kepada mereka dan dijaganya dari syaitan yang terkutuk. Oleh karena itu, ALLaah Ta’ala berfirman: wa kafaa birabbika wakiilan (“Dan cukuplah Rabmu sebagai Penjaga.”) Yakni, penjaga, pendukung dan penolong.

[Surat Al-Isra' (17): 65]

_______


1. Sulthoon Syaitan سُلْطَان  yang dimaksud adalah penguasaan penuh oleh syaitan yang menjadikannya dita'ati, dipatuhi, berlarut dalam kesalahan dan menjadi enggan bertaubat, dan sebagainya.
Gangguan di sini lebih kepada keimanan dan kualitas beragama (aqidah, ibadah dan akhlak). Sulthan syaitan yang menguasai sehinggajiwa kita menjadi rusak dan tenggelam dalam kefujuran.
Sulthan syaitan yang seperti inilah yang tidak bisa menguasai hamba-hambaNya yang dimaksud dalam ayat-ayat tersebut di atas.

2. Sedangkan gangguan di sektor sarana prasarana hidup (kesehatan, harta, keluarga, status sosial, interaksi sosial, dan sebagainya), itu bisa menimpa siapapun. Baik sholih maupun tholih.
________


R. Rosyadi

Sabtu

Pemutus (hubungan/perjanjian) Masuk dalam Ungkapan Baro-ah


Sebagaimana penegasan NabiyuLLaah Ibrahim dan para Mukminin yang membersamai beliau..

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ

إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۖ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya,

Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain ALLaah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada ALLaah saja,”

kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, ”Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) ALLaah terhadapmu.” (Ibrahim berkata), “Ya Robb kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,
[QS. Al-Mumtahanah (60): 4]

Bisa dengan membacakan ayat-ayat terkait dengan baro-ah.
Bisa dengan redaksi yang disusun sendiri, apakah itu bahasa arab atau selainnya yang bisa dipahami.
(Keduanya juga masuk dalam kaidah Ruqyah Syar'iyyah).

Jadi tidak perlu merasa lebih baik menggunakan yang ini kerena sudah terbukti.. Dan tidak perlu menggunakan yang itu karena merasa ribet atau aneh..

Gunakan saja semuanya yang benar, baik dan bermanfaat.
Karena tidak setiap situasi itu sama perlakuannya. Dan tidak semua perlakuan itu harus sesuai situasinya. Mohonlah selalu kemudahan kepada ALLaah swt..
____________________


Tentang kisah sahabat mulia Sawaad bin Qoorib radhiyaLLaahu 'anhu...

perlu dicermati lagi cara pandangnya..

1. Ada riwayat yang menyebutkan sahabat Sawaad bin Qoorib  سواد بن قارب  itu dari Yaman dan ada yang menyebut sebelumnya tinggal di India (yang diriwayatkan dalam tafsir Ibnu Katsir). Yang benar adalah dari Yaman.

2. Pertanyaan Umar bin Khattab kepada Sawaad bin Qoorib (radhiyaLLaahu 'anhumaa) itu terjadi setelah Umar sebagai Amirul Mukminin, artinya setelah lebih dari 2 tahun setelah Islamnya Sawaad. Dan dari riwayat Imam al-Bayhaqi sebagaimana yang tercantum dalam tafsir Ibnu Katsir, kalimatnya sebagai berikut:

هل يأتيك رئيك الآن؟ فقال "منذ قرأت القرآن لم يأتني ونعم العوض كتاب الله عز وجل من الجن"

"Apakah 'prewanganmu' itu masih juga datang kepadamu?" Sawad menjawab, "Sejak aku membaca Al-Qur'an, dia tidak pernah lagi datang kepadaku. Dan sebaik-baik pengganti dari jin adalah Kitabullah."


Yang ingin membaca kisah lengkapnya di:

http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=324700

Atau di sini,

http://kisahmuslim.com/2701-jin-yang-shalih-mengamalkan-ketaatan.html

====================


Mencermati dengan cermat kisah Islamnya sahabat Sawaad bin Qoorib radhiyaLLaahu 'anhu..

Mengingat banyaknya postingan terkait dengan kisah sahabat Sawaad bin Qoorib radhiyaLLaahu 'anhu seorang mantan dukun yang beriman dan dikaitkan dengan pelepasan jin khodam/prewangan, maka perlu disampaikan penjelasan berikut..

Apakah betul secara fakta bahwa melepas jin khodam (baik dari sumber nasab maupun kasab/amalan perbuatan) dengan cara ruqyah (dan pemutusan ikrar) itu dikesankan sebagai suatu cara yang bukan lebih sederhana dan lebih mudah?

Betul, bahwa berinteraksi dengan Al-Quran adalah kebaikan luar biasa besar dalam membentuk jiwa. Sebagai suatu tazkiyyah yang dibutuhkan dari segala jenis kotoran baik yang lama ataupun yang baru.

Namun mendasari kisah sahabat Sawaad bin Qoorib radhiyaLLaahu 'anhu seorang mantan dukun terkenal yang kemudian berIslam, lalu menyimpulkan bahwa "ruqyah dan ikrar pemutus" dikesankan sebagai suatu yang kurang sederhana dan kurang menenangkan hati dibandingkan dengan mengisi hati dan diri dengan Al-Quran serta menjadikannya sebagai "sahabat" dalam keseharian - kemudian disebutkan bahwa khodam/prewangan dari bangsa jin akan pergi dengan sendirinya, maka perlu Mencermati kisah itu dengan lebih cermat lagi.
_________________


Kisah Dukun yang berIslam di hadapan Nabi: Sawaad bin Qoorib سواد بن قارب  radhiyaLLaahu 'anhu

1. Sawaad bin Qoorib dulunya adalah seorang dukun besar, selain itu juga dikenal sebagai penyair.

2. Jin prewangan sahabat Sawaad bin Qoorib itu sudah Islam terlebih dulu daripada Sawaad.

3. Beberapa kali jin itu mendorong Sawaad untuk menemui Nabi dan agar Sawaad beriman (jin itu yang mendakwahi Sawaad dengan caranya - bersyair)

4. Dialog Sawaad dengan Umar bin Khatthab tersebut terjadi setelah Umar menjadi Amirul Mukminin. Artinya itu sudah lebih dari 2 tahun semenjak keislamannya.
___________


Detail membaca informasi sangat diperlukan dalam melengkapi berbagai variabel yang mempengaruhi terjadinya suatu peristiwa. Variabel-variabel penting itu nantinya dibuuhkan untuk membuat analisa atau kesimpulan yang lebih akurat.

1. Dengan berIslam-nya lebih dulu jin prewangan Sawaad (radhiyaLLaahu 'anhu), menjadikan semua ikatan-ikatan batil antara mereka terputus. Setidaknya dari pihak jin-nya.

2. Dengan berIslamnya Sawaad, menyempurnakan terlepasnya ikatan itu dari pihak dirinya.

3. Totalitasnya melepas masa lalunya (perhatikan dialognya dengan sahabat Umar bin Khaththab radhiyaLLaahu 'anhu) mengelupas dan menghapus segala jejak masa lalunya yang pekat (sebagai dukun besar yang terkenal) yang akrab dengan jin perewangannya itu.

4. Sawaad yang dulunya selain dukun adalah juga seorang penyair. Interaksi Sawaad dengan Al-Quran yang kuat dan penuh nikmat itu tidak lepas dari dua latar belakang itu. Kekuatan Al-Quran dari dua aspek yang menjadi latar belakang kehidupan Sawaad bin Qoorib dirasakan oleh Sawaad menjadikannya cukup, tidak membutuhkan sumber kekuatan dari manapun lagi. Apalagi jin prewangannya sudah berIslam terlebih dahulu.
______________


Pelajaran 1

Sudahkah orang-orang yang selama ini memiliki ikatan kerjasama dengan jin kafir/fasiq mengalami yang dialami oleh sahabat Sawwad bin Qoorib...? (jin prewangannya Islam lebih dulu, bahkan kemudian mendakwahinya untuk berIslam).
Bukan hanya statusnya yang sama punya prewangan.

Kata kunci: Jin khadamnya Sawaad sdh Islam lebih dulu dan mendakwahinya, terlepas hubungan batilnya.
Dan inilah yang juga membuat Umar bin Khattab takjub dengan kisah keislamannya Sawaad.


Fakta,
Orang-orang yang sudah lama aktif dalam kajian keislaman dan dakwah, juga aktif membaca Al-Quran dan mengajarkannya, tidak sedikit yang masih melekat jin penyertanya (disadari/tidak oleh dirinya) baik dari jalur leluhur maupun amalan-amalan batil masa lalu..

Itu yang terjadi, berulang dan banyak dialami oleh para aktivis dakwah. Termasuk kepada para terapis Ruqyah yang juga aktivis dakwah. Pengulangan dalam jumlah yang banyak adalah POLA.


Pelajaran 2
Manakah cara yang lebih sederhana bagi orang-orang yang ingin segera bersih dari masa lalunya yang mempunyai ikatan-ikatan batil seperti itu, sementara mereka awam, tidak terbiasa berinteraksi dengan Al-Quran; (pilih)

A. Diruqyah secara intensif dengan berbagai cara yang sudah dikenal selama ini, kemudian juga dibimbing agar dekat dan nikmat dengan Al-Quran
Ataukah,

B. Cukup hanya disuruh banyak membaca Al-Quran, mempelajarinya, dan seterusnya... padahal yang bersangkutan tidak bisa membaca Al-Quran dan tidak terbiasa dengan itu. Dan untuk bisa seperti itu perlu proses yang panjang..



Jika dijumpai banyak sekali aktivis dakwah yang masih "nyangkut" jin-nya yang dulu terikat dengan perjanjian masa lalunya (baik nasab maupun kasab-nya). Maka bagaimanakah keadaannya dengan mereka yang awam dengan Al-Quran? Manakah yang lebih sederhana? (pilih)

A. Meruqyahnya dulu dan kemudian mengajaknya belajar dan mengkaji Al-Quran ataukah
B. Dengan mengajaknya dulu mempelajari Al-Quran hingga lancar, akrab dan hingga merasakan seperti yang sahabat Sawaad rasakan...?

==========


Diantara faktor yang memudahkan lepasnya ikatan-ikatan itu dengan cara yang sederhana dan cepat, bi idzniLLaah adalah;

1. Kesadaran dan pengakuan bahwa adanya ikatan-ikatan itu (nasab dan kasab) pada dirinya,
2. Keinginan kuat untuk bersih dari hal tersebut (perbaikan diri)
3. Memutus ikatan tersebut dan mendakwahi jin-nya. -- jin Sawaad sudah Islam terlebih dahulu
4. Selalu mentazkiyyah diri dengan amalan islami.

Adapun faktor yang menjadikan tidak sederhana dan sulit adalah:
Inginnya bersih, tapi tidak mau menyadari apalagi mengakui (bisa karena kejahilan atau pengabaian)
Persoalan jiwa yang harus diperbaiki lebih dulu (kesombongan, dendam, tidak mau memaafkan)


*Dalam kisah tersebut bukan jin tidak lagi mampu mengaksesnya, tetapi memang jin-nya prewangannya sudah berIslam lebih dulu daripada manusianya (sahabat Sawaad bin Qoorib radhiyaLLaahu 'anhu).


R. Rosyad
WaLLaahu a'lam.

Selasa

Seputar SEFT

Sekedar mengingatkan yang belum tahu... Menambahi yang sudah pernah..
Karena kejadiannya baru..
______


Dalam sebuah room diskusi, pembahasan tentag SEFT. Penjelasan disampaikan oleh  Praktisi-nya. Selain banyak anggota room yang bertanya/komentar, Saya juga ikut membahas.

Berikut dialognya...


Praktisi:

SEFT = Spiritual Emotional Freedom Technique.

SEFT, adalah terapi yang digabung menjadi satu ilmu. Disebut SEFT.
S+EFT
inti dasar dari seft, adalah SPIRITUAL+EFT

Ini adalah ilmu-ilmu gabungannya:
1. NLP
2. Systemic Desensitization
3. Psychoanalisa
4. Logotherapy
5. EMDR
6. Sedona Methode
7. Ericksonia Hypnosis
8. Provocative Therapy
9. Suggestion & Affirmation
10. Creative Visualization
11. Relaxing & Meditation
12. Gestald Therapy
13. Energy Psychology
14. Powerful Prayer
15. Loving kindness therapy

15 ilmu inilah yang digabungkan oleh pak Ahmad Faiz Zainuddin, founder SEFT.
Gabungan ilmu-ilmu ini, dipelajari di luar negri lebih dari 15 tahun.

Dalam proses terapinya, tidak semua ilmu digunakan. Tergantung problem pasiennya. Ilmu yang paling sering digunakan adalah:
1. Energy Therapy
2. Powerful Therapy
3. Loving Kindness Therapy

Energy Therapy adalah EFT, dengan menggunakan 9 atau 18 titik meridian, tergantung kondisi pasien.

Powerful Therapy dengan mengunakan 5 hal (yakin, fokus/khusyu', ikhlas, pasrah, syukur)

Loving Kindness Therapy dengan rasa sayang kita kepada pasien.



Saya:
Berarti jelas sekali yaa sumbernya SEFT dari ke 15 gabungan ilmu itu .

Kalau ditanya, SEFT itu terapi universal ataukah khusus untuk muslim?
Jika universal bagaimana caranya melakukan SEFT -nya tersebut?
Apakah menyebut juga nama ALLaah swt ataukah menyebutkan tuhannya masing-masing?



Praktisi:
Terapi SEFT bisa diterapkan kepada bayi, sampe nenek-nenek
Bisa kepada orang muslim atau orang kafir.
Pasien dipersilakan menyebut tuhannya. Kalo dia mau menyebut Alloh, silakan, menyebut Tuhan silakan.
____


Tanya:
Mas ..... diatas dijelaskan untuk menterapi non muslim boleh menggunakan  nama Tuhannya dia? Mengapa tidak diarahkan ke Robb-nya Orang Islam?



Praktisi:
Terima kasih pertanyaannya.

Kalo seperti Itu , memaksakan keyakinan. Tidak baik, pak.

Pasien akan merasa dipaksa.
Pasien akan merasa diislamisasikan.
Pasien akan merasa tertekan.

Buat saja dia nyaman dengan keyakinannya. Kita bantu terapi apa adanya.

Kita juga selipkan  doa untuk dia, siapa tahu Alloh beri hidayah.



Saya:
Contoh jika diilustrasikan bagaimana yaa?
Misalnya orang beragama Budha.. Secara praktek, redaksi kalimatnya bagaimana yaa?



Praktisi:
Terima kasih pak atas pertanyaannya.

Kalimat dasarnya:
SEFT sepertinya pengen seperti dokter.. Menyembuhkan siapa saja agama apapun..

Tapi mereka lupa kedokteran tidak melibatkan ikrar ketuhanan
Sedang SEFT melibatkan ikrar ketuhanan yang jika rela illah lain berarti musyrik

Maka saya gunakan SEFT tetep dengan menyebut Allah kalau perlu ikrar syahadat..
Karena niat utamanya dakwah.. Alloh, meskipun gigi saya cekot-cekot, saya terima rasa sakit ini. Dan saya pasrahkan kepadaMu kesembuhan saya

Silakan suruh mengganti sesuai keyakinan dia



Saya:
Berarti seperti ini ya kira-kira.. (saya copas sebagaimana besar kalimat anda)

Yaa budha yaa sidharta gautama, meskipun gigi saya cekot-cekot, saya terima rasa sakit ini. Dan saya pasrahkan kepadaMu kesembuhan saya.

Begitu yaa?



Praktisi:
Iya pak. Entah mereka nanti bicara apa.



Saya:
Berarti jika,
- yang menyebut Budha itu nanti sembuh...
- yang menyebut Wisnu itu juga sembuh..
- yang menyebut Jesus itu juga sembuh..
- yang menyebut dewa A, B, C dan seterusnya itu sembuh...

Artinya selain ALLaah (melalui SEFT) ini kita sadar/tidak memberi pengakuan bahwa memang banyak Tuhan yang semuanya sama-sama bisa memberi kesembuhan dan solusi-solusi lainnya itu yaa...

Nanti yang atheis .... (???)
Sembuh. Sementara misalnya dia bilang..

Saya yang tidak percaya kepada Tuhan apapun, meskipun gigi saya cekot-cekot, saya terima rasa sakit ini. Dan saya pasrah dengan sakit ini untuk kesembuhan saya.

Berarti yang menyembuhkannya bukan Tuhan yaa... Tapi keyakinan sembuh... (??)

Terus akidah kita sebagai Moslem Therapist, kemana?

Setahu saya, siapapun makhluk yang sakit yang menyembuhkan itu adalah ALLaah swt.

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

dan apabila aku sakit, Dialah (ALLaah swt) Yang menyembuhkan aku,
[QS. Asy-Syuara (26): 80]

____
➖➖➖➖➖➖

Cerita Demo Alam Ghaib


➖➖➖➖➖➖

Ada dua pilihan dalam memutuskan apakah iya atau tidak mengonsumsi air A, B dan C yang tidak bisa "diinderawi" kandungannya, secara material tampak sama-sama jernih, bening, tidak berbau dan sama-sama menghilangkan dahaga itu.

Pertama
Cukup dengan mengetahui sumbernya.

Kedua
Periksakan ke laboratorium yang terpercaya.
____________


Tambahan

Rekan-rekan praktisi Ruqyah Syar'iyyah yang qoddaraLLaah bertemu dengan penanganan kasus-kasus pengguna/praktisi tenaga dalam (berbagai versi perguruan dan aliran). Mulai dari
- yang menggunakan amalan-amalan dzikir tertentu,
- yang "diisi" oleh gurunya,
- yang dengan pernafasan yang diawali dengan diisi gurunya dan dicampur dzikir-dzikir tertentu,
- yang dengan pernafasan "murni" tanpa hal-hal di atas, yang pelakunya paham agama, pendakwah, berakidah baik, tidak meniatkan apapun dalam latihan-latuhan pernafasannya kecuali untuk kesehatan semata, serta berusaha cermat dalam mengamati setiap gerakan latihannya agar terhindar dari kesyirikan... Bahkan yang bersangkutan saat itu adalah juga praktisi Ruqyah Syar'iyyah..

Saat diruqyah dan kemudian saat meruqyah dirinya, ALLaah swt taqdirkan jin-jinnya bereaksi. Dan setelah beberapa kali ruqyahan, dia coba lagi ilmunya (yang bisa mengeraskan jari jemari, mengeraskan leher, menyalurkan hawa panas/dingin, dan sebagainya) sudah tidak bisa lagi sekalipun dengan upaya keras dengan teknik-teknik yang dia pelajari sebelumnya..

____

Talbis itu memang halus.. Sangat halus..
Fitrah manusia memang tidak bisa dengan hal-hal semacam itu. Syaitan "mengabulkan" angan-angab kita saat menginginkannya dengan berbagai cara dan jalannya.

Syaitan jin dan manusia selalu aktif berkolaborasi (saling memberi ilham masukan-masukan) untuk terus mengupdate produk-produk menarik yang penuh tipuan di dalamnya untuk menggaet kita masuk dalam perangkapnya.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.
[QS. Al-An'am (6): 112]

__________


BismiLLaahir rahmaanir rahiim

Ada seorang yang mulai meruqyah di tahun 1993 hingga sekarang berbagi pengalaman...

Orang itu mengatakan,
Lebih dari 200 praktisi pengobatan yang dulunya memiliki ilmu dari berbagai sumber dan berbagai cara yang "bisa mengobati berbagai macam jenis problem gangguan, yang jelas lebih dari 43 jenis di atas", tapi akhirnya berhenti dan bertaubat tidak mau lagi menggunakan ilmunya itu dan meminta untuk "di un-install" dibersihkan.

Intinya, para praktisi itu menilai bahwa bukan pada "manfaat/khasiat" apa yang terlihat dan terjadi. Karena jika itu ukurannya peluang masuk ke pintu ISTIDRAJ akan dimasuki tanpa disadarinya.

Dan lebih dari 200 orang itu merasa bersyukur, ALLaah swt selamatkan dari ISTIDRAJ.
___

Ukuran kita sebagai Terapis Islam tidak hanya melihat capaian-capaian obyektif materialnya karena semua itu ciri khas materialism-sekularism. Terutama hal-hal yang sifatnya "abstrak", unseen power, unseen energy - entah melalui "kekuatan" pikiran, kata-kata, inner power (melalui pernafasan, dan sebagainya), kekuatan gelombang otak, dan seterusnya.... Semua jenis itu membutuhkan sanad rangkaian ilmunya dan kejelasan sejarah pengambilannya yang menjamin keamanannya. Karena hal itu masuk dalam ranah ilmu abstrak, unseen energy, invisible worker/invisible power, kekuatan ghaib.

Harus ada garansi yang berasal dari sanad yang jelas dan aman secara syariat. Jika tidak, maka akan sangat terbuka peluang ISTIDRAJ yang terjadi..

________

Dari Uqbah bin 'Amir radhiaLLaahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ تَعَالى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنْهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Apabila engkau melihat ALLaah swt memberikan "dunia" kepada seorang hamba, sementara dia berada dalam penyimpangan, maka itu hakikatnya adalah istidraj

Kemudian Nabi ﷺ membaca firman Allah,

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” [QS. Al-An’am (6): 44]

(HR. Ahmad 17349, Thabrani dalam Al-Kabir 913, As-Shahihah, no. 414).


R. Rosyad

Sabtu

Seri Tanya Jawab TQ: Pengobatan Dengan Ari-Ari (Plasenta)

Tanya Jawab salah satu anggota Room TQ dengan ustadz Riyadh Rosyad.


Pertanyaan:
ustdz, ada sesepuh di Kampung penyuka kucing, satu hari saat shalat ada kucing melahirkan didepannya.

Biasanya kucing melahirkan, ari-ari (Plasenta)-nya itu dibersihkan dan dibawa pergi oleh induknya, tapi kali itu hanya anaknya yang dibawa. ari-arinya tidak.

Lalu oleh beliau, ari-ari itu dikeringkan. setiap ada wanita yang kesulitan melahirkan, ari-ari itu direndam beberapa saat lalu airnya dibacakan ayat-ayat Al-Quran lalu diminumkan ke ibu itu.. tidak lama si ibu mudah melahirkan sebagaimana kucing.

bagaimana ulasan nya tentang hal ini kah ustdz?



Jawaban:
Itu tercampur dengan sesuatu yang diharamkan.
Plasenta kucing tidak halal dikonsumsi. Baik secara zatnya atau cairan yang terkena bekasnya.
Ditambah lagi dengan menganggap punya keistimewaan karena lahir di sajadah.

Jelas sekali itu talbis / tipuan syaitan.



Pertanyaan:
berarti ini berlaku juga untuk ari-ari manusia itu ya ustdz?

yang orang-orang dulu itu juga bnyk gunakan.


Jawaban: 
Iya.

KAIDAH dan PERLAKUAN TERHADAP BENDA

Perlu dilihat/ditinjau dari:


1. Asal Bahan
Baik cara memperolehnya maupun jenis materialnya. Haq atau batil.

Contoh:
  • Guci. Ada yang terbuat murni dari tanah lempung; ada juga yang dicampur dengan tulang hewan.. (babi?) untuk mengeraskan. 
  • Senjata kuno, mètalnya bisa didapat lewat ilmu "menarik" secara ghaib dengan ritual tertentu.

Pilihan perlakuannya:
  • Kembalikan ke alam dengan sebelumnya dirubah total dari bentuk awalnya atau 
  • Dikembalikan kepada kepentingan umum dan pihak tersebut bisa dipercaya.



2. Cara Memprosesnya
Apakah dengan ritual ataukah tidak.

Contoh:
Batik kuno, senjata kuno / tradisional.

Pilihan perlakuannya:
  • Bacakan RID kemudian fungsikan sebagaimana mestinya dlm kebutuhan sehari-hari.
  • Jika tidak bisa difungsikan sehari-hari, maka rehab dulu ke bentuk lain sehingga bisa dipakai/difungsikan sehari-hari.



3. Fungsi
Menyerupai sesuatu yang dilarang syariat ataukah tidak.

Contoh:
  • souvenir (yang ternyata aslinya adalah jimat, kaligrafi berfungsi jimat sepenuhnya, bentuk sesembahan).
  • asli jimat atau tolak bala
  • asli sesembahan

Pilihan perlakuannya:
musnahkan secara total.



4. Bentuk/corak
Mengandung sesuatu yang dilarang syariat ataukah tidak.

Contoh:
  • furnitur yang berukuran hewan/simbol kekufuran.
  • guci bergambar atau berukir hewan/manusia.
  • boneka/mainan berkarakter tokoh terkenal, hewan buas, mirip sekali dengan aslinya,
  • kaos/sprei kain kasur sebagaimana boneka dan bersimbol kekufuran.
  • pajangan yang berkarakter/bersimbol seperti di atas. 
  • rumah yang dipakai untuk ibadah agama lain.
  • kaligrafi membentuk makhluk hidup, tercampur dengan simbol rajah/jimat.
  • benda tiruan yang bentuknya seperti benda nomor (2).


Pilihan perlakuannya:
  • hilangkan bagian-bagian yang tidak sesuai dengan kaidah syariat tersebut, kemudian difungsikan bendanya dalam kehidupan sehari-hari sesuai fungsinya.
  • jika masih memungkinkan, rehab total dari bentuk semula menjadi bentuk lainnya yang aman dan bermanfaat. 
  • jika tidak memungkinkan, maka musnahkan secara total.


R. Rosyad

Jumat

SAKIT, BEROBAT, SEMBUH

Dalam sebuah room diskusi dibahas..

Apakah perlu ada tazkiyyah dulu sebelum proses ruqyahan?

Berikut ini penjelasan prinsip-prinsip penting.



SAKIT, BEROBAT, SEMBUH
Oleh: R. Rosyadi


Setiap penyakit ada obatnya.
Setiap perobatan ada proses sembuhnya.

Yang perlu selalu dipahami dan disadari adalah:
Sakit dan obat itu keduanya dari ALLaah swt
Proses bekerjanya perobatan juga dari ALLaah swt, dan
Sembuh adalah dari ALLaah swt pula.

• Ada wilayah makhluk: upaya sembuh (berobat)
• Ada wilayah mutlak Al-Khaliq yang tidak ada sedikitpun dari makhluq, yaitu: izin kesembuhan



Memahami SAKIT

1. Masing-masing masalah/akibat itu karena ada sebabnya.

2. Secara umum, sebab masalah itu karena ada sesuatu yang salah.

3. Lihat sebabnya, pahami jika perlu digali hingga detail, setelah itu.



Proses TERAPI/BEROBAT

4. Berangkatlah dalam proses terapi, dari titik sebabnya itu.

5. Berharap sembuh adalah fitrah yang membuat kita semua selalu bergerak dalam amal.

6. Wilayah makhluk adalah ikhtiar, ijtihad, tajribah. Jadikan semua itu dinilai sebagai amal shalih. Perhatikan selalu niat dan cara.

7. Tertiblah dalam proses, semoga itu menjadikan bagian ihsan dalam amal.



Memahami SEMBUH

8. Kesembuhan itu mutlak wilayah ALLaah swt.

9. ALLaah swt telah menetapkan semua dengan prosedur sunnah-Nya. Jadilah ilmu yang dipelajari dan dijalankan makhluk.

10. Dan ALLaah swt juga menetapkan kejadian seperti pengecualian-pengecualian yang tidak memerlukan prosedur sunnahNya. Dan itu menunjukkan bahwa DIA-lah Yang Maha Qudrah atas sesuatu yang menjadi iradahNya.

11. Wilayah kita adalah
• Upaya melalui prosedur sunnahNya itu dan
• Doa akan harapan atas Qudrah - IradahNya itu.

12. Ijabah doa termasuk doa kesembuhan itu pasti diperoleh, apalagi kepada muslim.

13. Bentuknya 3 hal:
• Disegerakan penyerahannya di dunia, lalu sembuhlah dia dalam pandangan makhluk.
• Dikumpulkan doa-doa itu lalu diserahkan semuanya di akhirat sebagai tumpukan pahala yang sangat besar.
• Diwujudkan sebagai penghindar/pencegah keburukan di waktu mendatang saat masih di dunia (yang sudah ditakdirkanNya terhadap si pemilik doa), yang nilai daya cegahnya setara dengan bobot doanya itu.

14. Syaratnya Doa agar dikabulkan sebagai salah satu yang 3 itu:
• Tidak tergesa-gesa
• Tidak mengandung dosa
• Tidak dalam rangka memutus silaturrahim.


________

Perlu Tazkiyyah dulu ataukah langsung proses ruqyah/obat, lihat No 4 (berdasarkan 1, 2, 3)
Idealnya tetap melalui prosedur terbaiknya, sebagai wilayah makhluk untuk mendapatkan ihsan amal, no 7.

Asumsinya, kita ini semua tidak ada yang bersih..
فلا تزكوا أنفسكم .... falaa tuzakkuu anfusakum, "Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci" [QS. An-Najm (53) :32]

Sembuh/belum itu otoritasNya mutlak.
Kadang terlihat oleh makhluk seperti melalui proses-proses dan prosedur yang telah ditetapkan melalui sunnah (kawniyah)Nya. Kadang dalam pandangan makhluk tidak seperti prosedur pada umumnya.

Lakukanlah yang terbaik.. sebagai Ihsan kita.
Berharaplah dengan cara dan sikap terbaik... sebagai ihsan kita pula.
Lihat No. 8 sd 14.

-----

• Kadang orang yang diterapi sembuh tapi tidak mengantarkan kebaikan kepada dirinya..
• Dan bisa jadi terapis tidak mendapatkan kebaikan sekalipun yang diterapinya ditakdirkan sembuh.

----

Yaa ALLaah, jagalah selalu niat dan cara kami dengan segala yang Engkau ridhai..
Yaa ALLaah, kami memohon kepadaMu al-'aafiyah fid-dien wad dun-yaa wal aakhirah.. untuk kami pribadi dan untuk orang-orang yang Engkau datangkan kepada kami dalam berharap sembuh dariMu.

Aamiin..


Minggu

Serial Tanya Jawab TQ: Seputar Batu Akik

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang diajukan kepada ustadz R. Rosyad terkait dengan Batu.


Pertanyaan: 
Kami ada batu yang berbentuk jadi, siap pakai dan ada juga yang masih bongkahan. Bagaimana cara membersihkan batu-batu itu, ustadz?

Jawaban: 
1. Untuk yang sudah siap pasang (pakai), dipukul sampai hancur/remuk serpihan sekecil mungkin. Sebelumnya dilapisi lakban/isolasi/kain agar tidak melesat ketika dipukul. Kemudian di buang di tempat sampah.
2. Untuk yang bongkahan, cukup dibelah beberapa bongkahan. Kemudian dibuang jauh dari jangkauan manusia (laut, sungai..)

Sebelum dipukul, bacakan dulu (dengan niat mendakwahi):
- Ayat Kursi, 2 QUL (QS. Al-Falaq dan An-Naas)
- Al-Fatihah, QS. Al-Ikhlash
- QS. Al-Mukminun (23): 29,

وَقُلْ رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ

wa qur robbi anzilnii munzalam mubaarokaw wa anta khoirul-munziliin

Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat".

- Jika perlu, bacakan 2 kalimat syahadat.
__________________


Pertanyaan:
Saya punya batu-batuan untuk kalung dan gelang. Itu bagaimana ustadz?

Jawaban:
Jika terbuat dari bahan yang biasa dipakai cincin sebagaimana dijelaskan, maka perlakukannya juga sama.
___________________


Pertanyaan: 
Ustadz, terkait batu. Apakah semua batu untuk perhiasan itu harus dihancurkan? Bagaimana dengan permata berlian dan mutiara?

Jawaban:
Tentunya yang kita bahas itu berbeda dan tidak dimaksudkan untuk:
• jenis batu permata yang umum dan banyak dijual bersama emas/perak di toko perhiasan seperti berlian dan mutiara,
• yang harganya sama sesuai standar internasional dan
• yang dipasarkan di pasar perhiasan di manapun dan tidak hanya dipasarkan di kalangan terbatas/khusus bagi orang yang hobi saja atau kolektor saja.
_______________

Sabtu

BATU AKIK

Batu Akik (dan Sejenisnya) Untuk Cincin Maupun Yang Masih Batu Bongkahan


Banyak kasus terkait orang yang memiliki batu akik dan sejenisnya (lak-laki maupun perempuan, tua-muda) baik sebelum saat booming batu maupun sesudahnya. Yang sempat masuk dalam data kami berjumlah ratusan orang, dan dari kami sendiri ada lebih dari 50 orang. Itu kami anggap sebagai persoalan yang perlu dipahami oleh banyak pihak terutama para terapis.

Pemilik sebagian besar tidak berkeyakinan kepada batu itu memiliki kekuatan istimewa/ghaib, mereka beralasan hanya karena senang/koleksi/hadiah. Ada yang jumlahnya satu-dua butir maupun yang koleksi jumlah banyak. Sebagian lainnya sempat memperdagangkannya.

Rata-rata pemiliknya mengalami gangguan fisik, mental-emosional, lemah ibadah, hingga kisruh rumah tangga. Kasus semakin bertambah saat booming batu satu-dua tahun terakhir ini..

Beberapa yang diterapi merasakan berkurang drastis masalahnya saat menghancurkan batu-batu koleksinya itu. Bahkan banyak yang tanpa perlu diruqyah secara khusus.

Sebagiannya lagi (dirinya/anggota keluarganya) merasa panas/nyeri saat membacakan-meniupkan ke batu-batu mereka dengan ayat kursi dan 3 QUL.

90% pemilik beragama baik dan tidak ada keyakinan sama sekali kepada batu-batu yang mereka miliki itu.

Demikian banyak dan seringnya, maka jika ada keluhan (apapun) yang kurun waktu munculnya sekitar 1 atau 2 tahun belakangan ini, biasanya diantara pertanyaan kami adalah "punya batu akik atau tidak?"


Catt: di sini tidak terkait dengan pembahasan hukum cincin dan batu secara syariatnya.
________


Hadits Terkait dengan Cincin dan Mata Cincin

Jika dikumpulkan dari beberapa hadits tentang Nabi memakai cincin, maka bisa disimpulkan dan ditajmi' menjadi:

1. Awalnya Nabi pakai cincin dari emas/perak dengan diberi mata dari batu, memakainya di jari tangan kanan dengan batu menghadap telapak tangan. Kemudian Nabi membuangnya baik emasnya berikut batu-nya. Sambil mengatakan: "Demi ALLaah aku tidak akan memakainya lagi selama-lamanya  والله لا ألبسه أبدا". Kemudian diikuti oleh orang-orang yang sebelumnya sempat ikut membuat dan memakainya.

2. Seandainya hadits tentang membuang cincin perak itu tidak rancu (tidak tertukar) dengan membuang cincin emas, kemungkinan besar kaitannya dengan batu yang menyertainya.

3. Saat dakwah sudah ke manca negara Nabi memakai cincin perak dengan mata dari perak juga yang bertuliskan Muhammad RasuluLLaah محمد رسول الله  untuk tujuan sebagai stempel surat dan tidak pernah beliau memakainya sehari-hari.

4. Nabi menyarankan kepada laki-laki jika menginginkan pakai cincin agar memakai yang terbuat dari perak. Dan jika ingin memakaikan mata maka matanya juga dari perak dengan tidak menuliskan nama beliau.

5. Nabi melarang memakai cincin yang terbuat dari besi atau tembaga/kuningan.

____________


Beberapa Hadits tentang Cincin dan Mata Cincin.


حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اصْطَنَعَ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ وَكَانَ يَلْبَسُهُ فَيَجْعَلُ فَصَّهُ فِي بَاطِنِ كَفِّهِ فَصَنَعَ النَّاسُ خَوَاتِيمَ ثُمَّ إِنَّهُ جَلَسَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَنَزَعَهُ فَقَالَ إِنِّي كُنْتُ أَلْبَسُ هَذَا الْخَاتِمَ وَأَجْعَلُ فَصَّهُ مِنْ دَاخِلٍ فَرَمَى بِهِ ثُمَّ قَالَ وَاللَّهِ لَا أَلْبَسُهُ أَبَدًا فَنَبَذَ النَّاسُ خَوَاتِيمَهُمْ

Telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Nafi' dari Ibnu 'Umar radliyallahu'anhuma, bahwasanya RasuluLLaah ShallaLLaahu 'alaihiwasallam membuat cincin dari bahan emas. Cincin itu sering beliau pakai, dan beliau letakkan mata cincinnya di bagian dalam telapak tangannya. Orang-orang pun menirunya dan membuat cincin, kemudian beliau duduk diatas minbar dan mencopot cincinnya seraya mengatakan: "sesungguhnya aku selalu memakai cincin ini, dan aku meletakkan mata cincinnya di bagian dalam" kemudian beliau melemparkannya, sambil berkata: "Demi Allah, saya tidak akan memakainya selama-lamanya." Kontan para sahabat membuang cincin-cincin mereka.
(HR. Bukhari: 6160, Muslim: 3898)


أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ
اتَّخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ وَصَنَعَ فَصَّهُ مِنْ دَاخِلٍ قَالَ فَبَيْنَا هُوَ يَخْطُبُ ذَاتَ يَوْمٍ قَالَ إِنِّي كُنْتُ صَنَعْتُ خَاتَمًا وَكُنْتُ أَلْبَسُهُ وَأَجْعَلُ فَصَّهُ مِنْ دَاخِلٍ وَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أَلْبَسُهُ أَبَدًا فَنَبَذَهُ فَنَبَذَ النَّاسُ خَوَاتِيمَهُمْ

Telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Ayub dari Nafi' dari Ibnu Umar dia berkata; RasuluLLaah ShallaLLaahu 'alaihi wasallam memakai cincin emas dan meletakkan batu mata cincinnya berada dalam (telapak tangannya). Suatu hari ketika beliau berkhuthbah, beliau bersabda: " Memang kemarin saya telah mempunyai cincin dan memakainya, dan kuletakkan batu matanya dalam telapak tangan, Saya demi ALLaah, tidak memakai lagi selama-lamanya." Maka beliau kemudian menanggalkannya, lalu orang-orang pun mengikutinya.
(HR. Ahmad: 6049)

َ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ خَاتَمَ فِضَّةٍ فِي يَمِينِهِ فِيهِ فَصٌّ حَبَشِيٌّ كَانَ يَجْعَلُ فَصَّهُ مِمَّا يَلِي كَفَّهُ

Dari Ibnu Syihab dari Anas bin Malik bahwa RasuluLLaah shallaLLaahu 'alaihi wasallam memakai cincin perak bermata batu Habsyi di tangan kanannya. Beliau meletakkan mata cincinnya di sebelah dalam telapak tangannya.
(HR. Muslim: 3908)


عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّهُ رَأَى فِي يَدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاتَمًا مِنْ وَرِقٍ يَوْمًا وَاحِدًا ثُمَّ إِنَّ النَّاسَ اصْطَنَعُوا الْخَوَاتِيمَ مِنْ وَرِقٍ وَلَبِسُوهَا فَطَرَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاتَمَهُ فَطَرَحَ النَّاسُ خَوَاتِيمَهُمْ

Dari Ibnu Syihab dia berkata; telah menceritakan kepadaku Anas bin Malik radhiyaLLaahu 'anhu bahwa dia pernah melihat RasuluLLaah shallaLLaahu 'alaihi wasallam memakai cincin perak di tangannya selama satu hari, kemudian orang-orang pun ikut membuat cincin dari perak dan memakainya, lalu RasuluLLaah shallaLLaahu 'alaihi wasallam pun membuang cincin tersebut dan orang-orang pun ikut membuang cincin yang mereka kenakan."
(HR. Bukhari: 5419, Muslim: 3905)


عَنْ أَبِي بِشْرٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ وَكَانَ جَعَلَ فَصَّهُ فِي بَاطِنِ كَفِّهِ فَاتَّخَذَ النَّاسُ خَوَاتِيمَ مِنْ ذَهَبٍ فَطَرَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَطَرَحَ النَّاسُ خَوَاتِيمَهُمْ وَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ فَكَانَ يَخْتِمُ بِهِ وَلَا يَلْبَسُهُ

Dari Abu Bisyr dari Nafi' dari Ibnu Umar berkata, "RasuluLLaah shallaLLaahu 'alaihi wasallam memakai cincin emas, dan beliau menghadapkan mata cincinnya ke arah telapak tangannya. Lalu orang-orang ikut memakai cincin dari emas, maka RasuluLLaah shallaLLaahu 'alaihi wasallam pun membuang cincinnya dan diikuti oleh mereka. Setelah itu beliau membuat cincin dari perak yang beliau gunakan untuk menstempel, dan tidak memakainya."
(HR. Nasa'i: 5197).

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ خَاتَمُهُ مِنْ فِضَّةٍ وَكَانَ فَصُّهُ مِنْهُ

Dari Anas radhiyaLLaahu 'anhu bahwa Nabi shallaLLaahu 'alaihi wasallam memiliki cincin yang terbuat dari perak sedangkan batu cincinnya dari perak juga.
(HR. Bukhari: 5421)


عَنْ سَعِيدٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
أَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَكْتُبَ إِلَى بَعْضِ الْأَعَاجِمِ فَقِيلَ لَهُ إِنَّهُمْ لَا يَقْرَءُونَ كِتَابًا إِلَّا بِخَاتَمٍ فَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ وَنَقَشَ فِيهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ
حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ بَقِيَّةَ عَنْ خَالِدٍ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ بِمَعْنَى حَدِيثِ عِيسَى بْنِ يُونُسَ زَادَ فَكَانَ فِي يَدِهِ حَتَّى قُبِضَ وَفِي يَدِ أَبِي بَكْرٍ حَتَّى قُبِضَ وَفِي يَدِ عُمَرَ حَتَّى قُبِضَ وَفِي يَدِ عُثْمَانَ فَبَيْنَمَا هُوَ عِنْدَ بِئْرٍ إِذْ سَقَطَ فِي الْبِئْرِ فَأَمَرَ بِهَا فَنُزِحَتْ فَلَمْ يَقْدِرْ عَلَيْهِ

Dari Qatadah dari Anas bin Malik ia berkata, "RasuluLLaah shallaLLaahu 'alaihi wasallam ingin menulis surat untuk orang-orang di luar arab, lalu dikatakan kepada beliau, "Sesungguhnya mereka tidak mau membaca surat tanpa ada setempelnya." RasuluLLaah kemudian membuat cincin dari perak dan memberi ukiran Muhammad RasuluLLaah." Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Baqiyyah dari Khalid dari Sa'id dari Qatadah dari Anas sebagaimana makna hadits Isa bin Yunus. Namun ia menambahkan, "cincin itu tetap berada dijarinya hingga meninggal, lalu pindah ke Abu Bakar hingga meninggal, lalu pindah ke Umar hingga meninggal, lalu pindah ke tangan Utsman. Dan ketika Utsman sedang berada di dekat sumur, cincin itu jatuh. Utsman memerintahkan untuk mencarinya namun tidak ketemu."
(HR. Abu Daud: 3681)


حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ
أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ خَاتَمٌ مِنْ حَدِيدٍ فَقَالَ مَا لِي أَرَى عَلَيْكَ حِلْيَةَ أَهْلِ النَّارِ فَطَرَحَهُ ثُمَّ جَاءَهُ وَعَلَيْهِ خَاتَمٌ مِنْ شَبَهٍ فَقَالَ مَا لِي أَجِدُ مِنْكَ رِيحَ الْأَصْنَامِ فَطَرَحَهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مِنْ أَيِّ شَيْءٍ أَتَّخِذُهُ قَالَ مِنْ وَرِقٍ وَلَا تُتِمَّهُ مِثْقَالًا

Telah menceritakan kepada kami AbduLLaah bin Buraidah dari Bapaknya berkata, "Seorang laki-laki datang menemui Nabi shallaLLaahu 'alaihi wasallam, sementara pada jarinya terdapat cincin dari besi. Beliau bersabda: "Kenapa aku melihat perhiasan ahli neraka pada tanganmu?" laki-laki itu pun membuang cincinnya, setelah itu ia datang kembali dan di tangannya terdapat cincin dari tembaga, beliau lalu bersabda: "Kenapa aku mendapati bau berhala darimu?" laki-laki itu lalu membuang cincinnya seraya berkata, "Wahai RasuluLLaah, lalu aku harus memakai cincin dari apa?" Beliau menjawab: "Perak, dan jangan engkau genapkan (nilai cincin itu) menjadi satu mitsqal."
(HR. Nasa'i: 5100)


R. Rosyad



Baca juga (klik):
Tanya Jawab Seputar Batu.

Kamis

Era Jababiroh (Raja Diktator)

Kita Ditakdirkan Lahir dan Hidup di Era Jababiroh

Oleh: R. Rosyad



حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ سَالِمٍ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ
كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَشِيرٌ رَجُلًا يَكُفُّ حَدِيثَهُ فَجَاءَ أَبُو ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ فَقَالَ يَا بَشِيرُ بْنَ سَعْدٍ أَتَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأُمَرَاءِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ أَنَا أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ فَجَلَسَ أَبُو ثَعْلَبَةَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud Ath Thiyalisi telah menceritakan kepadaku Dawud bin Ibrahim Al Wasithi telah menceritakan kepadaku Habib bin Salim dari An Nu'man bin Basyir ia berkata, 
"Kami pernah duduk-duduk di dalam Masjid bersama RasuluLLaah shallaLLaahu 'alaihi wasallam. kemudian Basyir menahan pembacaan haditsnya. Kemudian datanglah Abu Tsa'labah Al Khusyani dan berkata, "Wahai Basyir bin Sa'd, apakah kamu hafal hadits RasuluLLaah shallaLLaahu 'alaihi wasallam berkenaan dengan Umara` (para pemimpin)?" kemudian Hudzaifah berkata, "Aku hafal Khutbah beliau." Maka Abu Tsa'labah pun duduk, kemudian Hudzaifah berkata, "RasuluLLaah shallaLLaahu 'alaihi wasallam bersabda:

  • 'Akan berlangsung nubuwwah (kenabian) di tengah-tengah kalian selama kurun waktu tertentu yang ALLaah kehendaki lalu Dia mengangkatnya (berakhir) bila Dia menghendaki untuk mengangkatnya (mengakhirinya).
  • Kemudian berlangsung khilafah 'ala minhajin nubuwah kekhilafahan sesuai sistem kenabian selama kurun waktu tertentu yang ALLaah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengangkatnya.
  • Kemudian berlangsung mulkan 'aadh-dhan (kerajaan "menggigit") selama kurun waktu tertentu yang ALLaah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengangkatnya.
  • Kemudian berlangsung mulkan jabriyatan (kerajaan diktator) selama kurun waktu tertentu yang ALLaah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengangkatnya.
  • Kemudian akan berlangsung kembali khilafah 'ala minhajin nubuwah kekhalifahan sesuai sistem kenabian.
Setelah itu beliau diam.
(HR. Ahmad: 17680)

_____________________


Zaman Jababiroh (mulkan jabariyan) periode ke-4 memang berbeda dengan 3 periode sebelumnya. Dan di zaman ini kita dilahirkan, orang tua kita dilahirkan, kakek nenek kita dilahirkan... dan seterusnya.

3 periode sebelumnya:

  1. Kenabian, ~ selama 23 tahun.
  2. Khilafah Rasyidah ('ala minhajin nubuwwah) ~ selama 30 tahun, dan
  3. Mulkan 'aadh-dhan, ~ era mulkan 'aadh-dhan eksis selama 1300 tahun (tahun 41 H sd 1342 H). Terdiri dari 3 bani besar kedisnatian berganti memimpin umat dengan segala pasang surut kualitas pemerintahan dan kepemimpinannya: Umawiyah, Abasiyah & Utsmaniyah, dan beberapa Mamalik, dan terakhir dipegang dinasti Utsmaniyah). Yang pasti, secara formal semua kekuasaan di era ini masih bersistemkan Islam dalam pemerintahan dan masyarakatnya. 


Berakhirnya kekhalifahan dinasti 'Utsmaniyah dimulai ketika pada 1909 Sultan Abd-ul-Hamid II dicopot kekuasaannya melalui kudeta militer, sekaligus memaksanya untuk mengumumkan sistem pemerintahan perwakilan dan membentuk parlemen untuk yang kedua kalinya. Ia diasingkan ke Tesalonika, Yunani.

Selama Perang Dunia I, ia dipindahkan ke Istana Belarbe. Pada 10 Februari 1918, Abd-ul-Hamid II meninggal tanpa bisa menyaksikan runtuhnya institusi Negara Khilafah tahun1924 M atau 1342 H.

____________

Jauh sebelum kejatuhan khilafah Utsmaniyah th 1924, kerajaan-kerajaan Eropa telah bergerak ke berbagai negeri yang di sana kerjaan-kerjaan Islam memerintah dan kaum muslimin hidup dalam sistem Islam.

Di Nusantara, kerajaan Islam tertua yang pertama adalah kerajaan Islam (Syiah?) Perlak-Aceh tahun 840 sd 1292 M. Kemudian kerajaan Samudra Pasai (Sunni) tahun 1267 sd 1521 M. Disusul penyebaran kerajaan-kerajaan Islam lainnya ke wilayah Sumatera lainnya.

Di Maluku, kerajaan Islam Tidore berdiri tahun 1110 M, kemudian Ternate 1257 M, disusul Jailolo, Bacan 1521 M wilayahnya hingga Papua Barat, kemudian disusul kerajaan-kerajaan lainnya.

Sulawesi, diawali dengan berdirinya Kesultanan Buton 1322 M, kemudian disusul abad 16 kesultanan Goa, Banggai, dan Bone abad 17.

Di Kalimantan, diawali kesultanan Berau (Kalimantan Utara) tahun 1377 M, kemudian kesultanan Paser 1516 M, kemudian kesultanan Banjar tahun 1526 M, dan disusul kerajaan-kerajaan lainnya di Kalimantan.

Di Jawa, kesultanan Cirebon lebih dulu berdiri 1430 M, kemudian Demak 1475 M yang kemudian disusul kerajaan-kerajaan Islam lainnya yang besar di Jawa (Banten 1524 M, Pajang 1568 M, Mataram 1586 M, Ngayogyakarta Hadiningrat 1755 M dan Surakarta Hadiningrat hingga sekarang).

Adapun kerajaan-kerajaan Islam di Papua dan Nusa Tenggara Barat merupakan perluasan dakwah dari kerajaan-kerajaan Maluku, Kalimantan, Sulawesi dan Jawa serta Madura.

_______

Masa kerajaan-kerajaan Eropa bergerak ke wilayah Islam.

Portugis masuk Malaka th 1511 M, sempat berkuasa hgg 1641 M. Yang menarik adalah digunakannya mata uang Portugis saat itu adalah Dinar Portugis (Dinheiro - DMP).

Belanda masuk lewat wajihah ekonominya VOC (wajihah ekonomi milik Freemasonry) tahun 1595 M dipimpin oleh Cornelius de Houtman (sebagian yang menetapkan dimulai tahun 1522 tidak sesuai dengan sejarah berdirinya kerajaan Islam Banten).
VOC berakhir tahun 1799 M karena kebangkrutan yang disebabkan banyaknya korupsi di internal petingginya. Kemudian pendudukan dilanjutkan penyerahannya kepada pemerintah kerajaan Belanda hingga pendudukan Jepang tahun 1942.
Berarti pemerintah Hindia-Belanda menduduki sebagian Nusantara sekitar satu abad dan selebihnya adalah VOC (lembaga dagang) yang sebagian besar elitnya berideologi Freemasonry.

Jika dihitung sejak masuknya Portugis-Inggris-Belanda ke tanah air itu sudah terjadi sejak abad 16 kemudian jatuhnya Khilafah Utsmaniyah pada abad 20, maka sebetulnya sudah terjadi pertarungan dalam banyak hal selama 300-400 tahun di seluruh wilayah kekuasaan umat Islam, termasuk di Nusantara.



Beberapa Organisasi Islam Nusantara yang Tumbuh Sebelum dan Sesudah Keruntuhan Khilafah 1924 M


1. SDI - SI
Sarikat Dagang Islam awal pertama didirikan Haji Samanhudi tahun 1905 sebagai gerakan ekonomi yang pada kongres pertama di Solo tahun 1906 berganti nama menjadi Sarikat Islam, kemudian menjadi gerakan dakwah-sosial-politik dengan nama resmi Sarikat Islam didaftarkan ke notaris di Solo oleh HOS Cokroaminoto pada tahun 1912 yang terus bermetamorfosa sebagai gerakan Politik bernama Partai Sarikat Islam tanggal 10 September tahun 1920.


2. Muhammadiyah
Muhammadiyah berdiri tanggal 18 November 1912 oleh KH Ahmad Dahlan - Muhammad Darwisy. Tahun 1909 beliau mencoba dakwah di kalangan elit dan ilmuwan dengan cara masuk ke Boedi Oetomo (BO) yang berdiri tahun 1908. Walaupun cukup mempengaruhi beberapa tokoh yang ada, beliau merasa sulit mengembangkan gerak dakwah di sana karena sebagian besar yang di BO adalah para tokoh Freemasonry. Maka beliau mendirikan sendiri organisasi dakwah dengan nama Persyarikatan Muhammadiyah.


3. Al-Irsyad
Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah (Jam’iyat al-Islah wal Irsyad al-Islamiyyah) berdiri pada 6 September 1914 (15 Syawwal 1332 H). Tanggal itu mengacu pada pendirian Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang pertama, di Jakarta. Pengakuan hukumnya sendiri baru dikeluarkan pemerintah Kolonial Belanda pada 11 Agustus 1915.

Tokoh sentral pendirian Al-Irsyad adalah Al-’Alamah Syeikh Ahmad Surkati Al-Anshori, seorang ulama besar Mekkah yang berasal dari Sudan. Pada mulanya Syekh Surkati datang ke Indonesia atas permintaan perkumpulan Jami’at Khair -yang mayoritas anggota pengurusnya terdiri dari orang-orang Indonesia keturunan Arab golongan sayyid, dan berdiri pada 1905. Nama lengkapnya adalah SYEIKH AHMAD BIN MUHAMMAD ASSOORKATY AL-ANSHARY.


4. Persis
Persatuan Islam (Persis) tanggal 12 September 1923 yang digagas oleh pendirinya H. Zamzam dan H. Muhammad Yunus, di Bandung.


5. Jam'iyatul Khair
Jam'iyatul Khair yang secara gerakan ormas sudah muncul awal abad 20 (1901 ?). Dan sekitar 1911 mendirikan pusat gerakannya di jalan Mas Mansur Tanah Abang. Sebagai organisasi yang menampung aspirasi baik Al-Alawiyyin, Al Masyaikh dan Al-Ajami, yang kemudian tanggal 27 Desember 1928 izin pertama berdirinya Ar-rabithah Al-Alawiyyah dari pemerintah Belanda, dan izin kedua 27 November 1929.


6. Nahdhatul Ulama
Berdiri tgl 31 Januari 1926 Oleh KH. Hasyim Asy'ari.....



** berlanjut....

Rabu

Serial Nafs: Testimoni Ikhtiar Nafs

Untuk Marqi (yang diterapi):

Terutama untuk Doa Ikhtiar Pembebas Nafs... ini bisa kita jadikan metode untuk mengetahui apakah ada Nafs pasien yang terpenjara atau tergadai oleh Jin maupun yang terlepas.


Contoh 1:
Pasien ibu-ibu sering rontok rambutnya dari SMA sampai sekarang sudah punya anak 1. Ketika saya tanya tentang nasab ternyata bapaknya dulu suka ngelmu dan simpan benda pusaka. Asumsi saya sakitnya ini bisa jadi ada Nafs di kepalanya yang sudah tergadai.

Ketika saya minta baca doa ikhtiar pembebas si ibu merasakan merinding dan ada terasa angin dingin masuk ke kepalanya. Wallahu a'lam apakah ini Nafsnya yang kembali atau bukan. yang jelas setelah itu merasaka agak ringan di kepalanya.



Contoh 2 :
Ada seorang muslimah sering kesurupan. Setelah digali nasabnya ternyata sama. Bapaknya masih aktif sebagai dukun dan masih menyimpan benda-benda pusaka 1 lemari.

Saat baca doa ikhtiar pembebas Nafs dia melihat ke 6 saudaranya sedang terpenjara dalam peti besar. Kami coba bebaskan dan berhasil. Asumsi ke 6 saudaranya Nafsnya sudah tergadai. Dan ternyata setelah kita bebaskan Jin penunggu peti itu marah-marah dan mengakui bahwa semua keluarganya sudah tergadai dengan si Jin yang selama ini membantu bapaknya.



Untuk Roqi:

Yang jelas lebih mempermudah mengidentifikasi penyakit ini karena medis atau non medis terutama ada kaitanya dengan Nafs yang terlepas atau tidak.



Selasa

Aku Sesuai Prasangka Hamba-Ku Kepada-Ku

Ana 'inda zhonni 'abdiy biyya


Lanjutan dari tulisan sebelumnya "KOREKSI"


Hadits Ana 'inda zhonni 'abdiy biyya itu harus disebutkan dulu secara lengkap. Karena hal tersebut dimaksudkan dengan keimanan dan keyakinan kepada ALLaah swt, berupaya selalu mendekat (taqorrub) dan mengingat (berdzikir) kepadaNya.

Husnuzh zhan kepada ALLaah swt adalah beriman dan yakin kepadaNya bahwa segala ketetapan dan keputusanNya itu adalah kebaikan semata bagi diri kita. Sehingga kita menjaga diri dengan selalu mengingatNya, mendekatkan diri dan selalu memohon pertolongan-Nya.

 عن جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ أنه يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ

Dari Jabir bin AbdiLLaah bahwa dia berkata: aku mendengar RasuluLLaah shallaLLaahu 'alaihi wasallam bersbda: "Janganlah salah seorang di antara kalian mati melainkan ia harus berhusnuzh zhon pada ALLaah.
(HR. Ahmad no. 14053, Muslim juga meriwayatkan dengan redaksi وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ )

Hadits-hadits terkait dengan
AKU sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي إِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

Dari Abu Hurairah dia berkata; Nabi shallaLLaahu 'alaihi wasallam bersabda: "ALLaah 'azza wajalla berfirman; 'Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari kecil."
(HR. Al-Bukhari: 6586, Muslim: 4832)


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ حَيْثُ يَذْكُرُنِي وَاللَّهِ لَلَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ يَجِدُ ضَالَّتَهُ بِالْفَلَاةِ وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِذَا أَقْبَلَ إِلَيَّ يَمْشِي أَقْبَلْتُ إِلَيْهِ أُهَرْوِلُ

Dari Abu Hurairah dari RasuluLLaah shallaLLaahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: 'ALLaah ta'ala berfirman: Aku bersama persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Demi ALLaah, ALLaah Ta'ala sangat gembira menerima taubat seseorang kamu, melebihi kegembiraan seseorang yang menemukan kembali barangnya yang hilang di suatu tempat yang luas. Barangsiapa mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Apabila ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari kecil.'
(HR. Muslim: 4927)

___________________________

Banyak yang memaksakan hadits-hadits itu sebagai dalil dari teori "Anda Adalah Seperti Yang Anda Pikirkan".
Prasangka kepada ALLaah Yang harus kita jaga dengan sebaik-baiknya prasangka (iman, yakin, amal) berubah menjadi kekuatan pikiran.

Jika ini dibiarkan dan tidak dikembalikan kepada tempatnya lagi bisa berubah sebagi ungkapan-ungkapan yang meniadakan ALLaah swt dalam kehidupannya. Yang ada adalah semua tergantung pikiran kita sendiri. Kalau pikiran buruk maka keburukan akan mengenai kita, dan jika pikiran baik (positif) maka kebaikan akan kita dapatkan.

Padahal, hadits-hadits shahih yang terkait dengan kalimat  أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي  'Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, itu berhubungan dengan:


  • Mengingat ALLaah swt yang terus menerus (perlu dijabarkan lagi tentang makna berdzikir). Bersama ALLaah swt dalam niat, konsep, praktek, permintaan dan harapan.
  • Taubatnya hamba kepadaNya. Pernyataan dan komitmen selalu kembali kepada ALLaah swt.
  • Taqorrub kepada ALLaah swt.

Jadi, prasangka di situ tidak kosongan terserah manusianya mau bagaimana maka akan terjadi seperti itu.
Segala sesuatunya bi masyii-atiLLaah  بمشيئة الله (dengan kehendak ALLaah) dan kita harus menyatakan itu dalam niat, pikiran, tindakan, permintaan dan harapan.


R. Rosyad

Kamis

PERHATIKAN DALAM MELAKUKAN TERAPI QURAN


Dalam proses melakukan Terapi Quran, perhatikan beberapa hal berikut:

1. Sebelum Terapi:

  • Niatkan mendakwahi: diri sendiri, klien, dan siapapun makhluk yang terlibat dalam permasalahannya.
  • Lakukan proses indentifikasi, anamnesa - diagnosa.
  • Bersihkan diri dan klien dari kekeliruan. Baik berupa perbuatan maupun barang/benda.



2. Saat Terapi:

  • Jaga Niat
  • Jika kondisinya memungkinkan libatkan klien dan keluarganya dalam proses: Tuntun/Talaqqi: Baca, tiup, usap, minum air TQ, dan seterusnya. Niatkan juga untuk mengajarkan dirinya dan keluarganya (orang yang menyertainya).



3. Sesudah Terapi:

  • Jaga Niat
  • Berikan bekal
    • Nasihat: Taqwa dan keyakinan iman dan hakikat hidup sebagai ujian, termasuk hakikat sakit/permasalahan.
    • Amalan yang terjangkau mampu dikerjakan oleh klien dan keluarganya. Betul-betul diukur sesuai dengan kadar kemampuannya tetapi tetap memadai.
    • Ingatkan lagi: Bersihkan lagi: perbuatan maupun barang. Termasuk sumber ekonomi-keuangan.
  • Tutup dengan kafarah majelis.



R. Rosyad_FTQ

MARQIY DIUJI, RAQIY DI (P)UJI

MARQIY (yang Diruqyah) DIUJI, RAQIY (yang Meruqyah) DI PUJI


Dalam terapi, selama kiat/cara/teknik terapi tidak keluar dari ranah syar'iah-nya, maka itu bisa dijalankan dan dikembangkan. Tidak ada mutlak-mutlakkan satu kiat lebih baik atau lebih unggul apalagi lebih benar dari kiat lainnya. Sekali lagi, selama manhaj utama tidak keluar dari kaidah syar'iyyahnya, maka semua kiat/cara/teknik itu Go ahead ... monggo.... silakan.

Yang barangkali lebih tepat ungkapannya adalah masing-masing kiat itu cocok dengan keadaan yang dihadapi sehingga taqdir kesembuhannya terjadi.

Ada kalanya yang begini cocoknya pakai kiat yang ini... kalau yang begitu pakai kiat yang itu... kalau yang begono pakai kiat yang ono...
Mintalah selalu kemudahan dan petunjuk ALLaah swt..

Ada marqiy (yang di ruqyah) yang sebelumnya sudah ke sana ke mari dengan diterapi sembilan Raqiy (peruqyah) yang berbeda dan juga dengan memakai sembilan kiat/teknik terapinya masing-masing, lalu akhirnya bertemulah dengan kita sebagai Raqiy yang ke sepuluh dan kita memakai kiat/teknik yang berbeda dari sembilan Raqiy sebelumnya. Kemudian ALLaah swt memudahkan proses terapinya hingga marqiy memperoleh kesembuhannya saat di tempat kita.

Keadaan ini perlu direspon oleh hati, pikiran, lisan serta sikap kita dengan sebaik mungkin, se-ihsan mungkin selaku Raqiy yang ke sepuluh.

ALLaah swt telah menaqdirkan kita menjadi salah satu mata rantai dari rantai-rantai asbab kesembuhan marqiy.

Jika seandainya ada sepuluh 'uqdah/buhul yang membelenggu penyakit/pengganggunya, maka sebetulnya sebelum ALLaah swt mendatangkan marqiy itu ke kita, sudah ada sembilan 'uqdah yang terlepas dengan pertolongan ALLaah swt melalui ke sembilan marqiy sebelum kita. Dan ALLaah swt menempatkan kita diujungnya saja sebagai mata rantai ke sepuluh, sebagai finishing penyempurna kesembuhan dariNya.

Kita masih beruntung dilibatkan dalam proses kesembuhanNya. Yang jika tanpa kitapun ALLaah swt bisa saja menaqdirkan marqiy memperoleh kesembuhanNya melalui cara yang dikehendakiNya.

Saat kita menghadapi marqiy dengan segala persoalannya sebetulnya yang sedang diuji oleh ALLaah swt bukan hanya marqiy dan keluarganya saja, tetapi kita sebagai Raqiy juga sedang diuji..

Liyabluwakum ayyukum ahsanu 'amalaa - dalam rangka menguji kalian, siapa yang paling ihsan dalam karyanya,

Meningkatkan diri dengan berbagai ilmu dan skil adalah bagian dari amanah sebagai terapis.. Dan selalu sadar, tunduk tawadhu' dengan segala ketentuan ALLaah swt adalah keharusan untuk mencapai tingkat terbaik (Ihsan) dalam menjalani (ujian) kehidupan.


اللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

​ALLaahumma a'innaa 'alaa dzikriKa wa syukriKa wa husni 'ibaadatiKa

​Ya ALLaah bantulah kami untuk (selalu) mengingatMu, bersyukur dan beribadah dengan sebaik-baiknya kepada Engkau. (HR. Ibnu Daud dan Ahmad)


R. Rosyad_FTQ

Selasa

Point Kunci Dalam Proses Terapi

POINT-POINT KUNCI DALAM PROSES TERAPI APAPUN
Baik Terapi Haq Maupun Batil



A. PRAKTISI - PELAKU

Praktisi atau pelaku dalam proses terapi perlu memiliki:
  1. Kekuatan kepahaman dan kesadaran
    • yang berasal dari Ilmu dan keyakinan
  2. Kekuatan energi
    • Jiwa
  3. Kekuatan Pancar
    • Mata dan atau lidah/ucapan

B. OBYEK SARAN
Menjadi lebih efektif, ketika ada:
1. Kekuatan keyakinan
  • Membenarkan
2. Kekuatan kebutuhan
  •     Mencari dan memilih
3. Kekuatan penerimaan/kemauan
  •     Membuka diri dan patuh menghilangkan semua faktor penghalang


C. AKTIF DAN EFEKTIF
Keduanya menjadi aktif dan efektif ketika ada:
1. Kekuatan Konten yang dipakai
  • Sumbernya HAQ ataukah BATIL
2. Kekuatan Penghubung yang menyambungkan
  • Kontak: lahiriah/jiwa, komunikasi
  • Media: yang dimakan, diminum, dilihat, didengar, difikirkan/dibayangkan, disentuhkan, menimbulkan segala goncangan perasaan-emotion, dan sebagainya).
3. Waktu dan atau Tempat yang tepat dan sesuai.


________________________



Contoh Penerapan Untuk Terapi Batil

Misalnya HYPNO (sis, tis, ....... aplikasi hypno lainnya)

A. PRAKTISI 
Diperlukan:
1. Kepahaman dan yakin tentang Hypno. 
Maka ada penyebaran ajarannya, penjelasan-penjelasan (yang seolah itu ilmiah), penguatan-pemguatan oleh orang-orang yang bergelar, terpelajar, testimoni, dan seterusnya. Termasuk ketika akhirnya diikuti oleh kalangan agamis maka semakin kuatlah keyakinan itu.
2. Energi jiwa yang kotor dan jahat (khobits/syarr). 
Hal itu bisa didapat melalui jalur wirotsah (nasab), meditasi, konsumsi haram, dan amalan kasab lainnya. Jika pelakunya muslim, taat dalam ibadah dan paham ilmu agama maka energi itu biasanya didapat secara nasab dan atau kasab masa lalunya. Biasanya dari sana. 
Dan jiwa-jiwa yang bekerja di situ hakikatnya adalah sekutu syaitan. Jiwa-jiwa yang sudah bertransaksi ilmu batil itu (sesuai jenjang kadernya) bisa menggerakkan/memerintahkan makhluk-makhluk pekerja sesuai sanad hypno-nya untuk menjalankan tugasnya.
Janganlah remehkan Nasab-Kasab,  itu juga yang bisa menjadi energi 'Ain bagi seseorang.
3. Pancaran hypno melalui dua hal yang dengannya energi jiwa (khobit-syarr) itu keluar, yaitu mata dan lisan. 
Jika secara nasab-kasab juga sudah tersedia dan bertempat di mata dan atau lidah maka itu semakin melengkapi kekuatan pancarnya. Contoh jin-jin yang masuk dari kasab latihan ketajaman mata dan ajaran filsafat.


B. UNSUR OBYEK SASARAN

Jika sudah terkondisi dengan 2 hal (yakin dan butuh). 

Kadang yakin itu tidak perlu lagi jika kondisi 2 (kebutuhan dan harapan untuk sembuh itu sudah sangat besar) maka sangat mudah dimasuki. Tinggal membuka gerbangnya saja, yaitu keadaan trance

Jika power praktisinya sangat kuat dan syarat 1 dan 2 terpenuhi maka obyek dalam keadaan "light trance" sudah cukup masuk pengaruh hypno (kondisinya seperti sadar, mata terbuka).

Jika power praktisinya biasa saja maka keadaan 3 harus dikondisikan sedalam mungkin, misalnya diajari pejamkan mata, mengikuti instruksi-intruksi lainnya seperti "tarik nafas" (memberi jalan kepada jin yang mau masuk), perintah membayangkan dan seterusnya.. hingga tercapai kondisi trance yang diharapkan. Trance seperti ini disebut "deep trance" atau "very deep trance".


C. KONTEN dan PENGHUBUNG
Konten
Perhatikan asal usul dan sejarah Hypno. Kekuatan kata-kata yang bisa mempengaruhi tindakkan maka itu perlu ditelusuri sumbernya. Karena mereka bersanad. Dan sanad itu dalam hal ini tersambung kepada sumber energi induk yang sebenarnya.

Penghubung
Jika terkait dengan kasus terapi maka penghubungnya adalah
  1. Kontak dan komunikasi langsung berhadapan atau lewat media telekominikasi, dan sebagainya.
  2. Jika di obyek/klien itu ada makhluk lain di dlm dirinya yg serumpun atau bisa tunduk mentaati kekuatan makhluk yang ada di praktisi maka itu mempercepat proses pengaruh hypno tersebut.

Waktunya bisa kapanpun yang mereka sepakati, walaupun kadang dipilih oleh praktisinya sesuai dengan "bawaan jin yang menjadi sumber powernya".

Tempat secara umum yang kondusif, hening untuk bisa lebih konsentrasi.

Bagi praktisi yang kuat power serta berpengalaman dan kondisi obyek sudah full dengan 3 keadaan, maka tentang tempat tidak lagi menjadi masalah. Di keramaianpun bisa.

Maka, "mendapatkan" obyek sasaran bisa memiliki ketiga kondisi itu menjadi suatu yamg penting. Jika sudah tersedia semua itu adalah sasaran yang sangat tepat. Kalau belum, maka dibuat pra kondisi untuk mengarah ke ketiga kondisi itu.

__________________________________



Penerapan dalam Terapi Quran

A. Praktisi-pelaku TQ
1. Ilmu yang terus ditambah 
Sehingga paham dan keyakinan mendalam dan teguh tidak mudah goyah. Dari sumber yang HAQ, Al-Quran dan Hadits, penjelasan ulama, tajribah (praktek) yang terus menerus, evaluasi dan perbaikan.
2. Jiwa, harus terisi dengan kekokohan
  • Spiritual : ibadah, dzikr
  • Moral: akhlaq mahmudah (terpuji) dalam segala aspek termasuk halal-haram
  • Mental: stabilitas emosional
3. Kekuatan pancar
Mata dan Lisan yang terjaga dari segala yang haram/syubhat serta diarahkan kepada yang halal/disukai secara syari'at.

B. Obyek Sasaran yang diterapi. 
Upayakan untuk mendapatkan ketiga hal tersebut:
  1. Dipahamkan hingga yakin tentang hakikat sakit, kesembuhan dan pengobatan.
  2. Diarahkan sehingga hanya memilih segala hal yang dibolehkan syariat dari apapun bentuk dan teknis terapinya.
  3. Disadarkan sehingga siap menjalani proses dengan ikhlas, berharap diridhai ALLaah swt serta bersemangat menghilangkan faktor penghalang dengan taubat (jika perbuatan) dan memusnahkannya jika barang.

C. Menggunakan kekuatan HAQ untuk mengaktifkan proses terapi.
  1. Pastikan bahwa yang dipakai semuanya memenuhi kaidah syar'iyyah di dalam terapi:
    • Dengan Kalam ALLaah atau Asma dan sifat-Nya.
    • Dengan bahasa arab atau selainnya yang dipahami maknanya (sesuai syariat)
    • Meyakini bahwa bukan bacaannya/tulisannya itu yang berefek tetapi ALLaah swt yang memberikan efeknya.
  2. Capai Keterhubungan dengan Obyek yang diterapi
    • Keterhubungan terkait dengan:
    • Aspek paham: misal, sama-sama paham melakukannya dalam rangka mendakwahi.
    • Aspek jiwa: rasa cinta dan iba, rahmah, islah. Sebaiknya bukan karena marah, benci, memusuhi (walaupun itupun bisa).
    • Memakai sarana penghubung seperti air atau herbal yang sesuai yang sudah dibacakan, memakai aroma atau uap yang dihirup (yang sudah dibacakan)
    • Menstabilkan kembali jiwa yang pernah terguncang dan merubahnya menjadi tenang dengan mengingat ALLaah swt.
  3. Secara waktu, kapanpun baik
  • Tetapi lebih baik dapatkan waktu-waktu utama yang semua itu adalah waktu-waktu mustajabah doa. Misalnya saat hari Tasyriq kemarin dengan kalimat Takbir-tahlil sebagaimana takbiran, itu cukup efektif.
  • Juga lakukan di tempat yang baik: hindari dekat lokasi pasar atau lokasi tempat-tempat pemujaan/kekufuran.
  • Di masjid atau tempat yang biasa dipakai untuk ibadah adalah lebih baik. Minimal tempat yang sudah terbersihkan dari segala unsur yang tidak disukai agama yang itu menjadi berpotensi ditempati jin pengganggu.


H. Riyadh Rosyadi

Rabu

Memahami Ghaibnya Makhluq


Ada yang menganggap bahwa ketika kita membahas keberadaan makhluk ghaib itu sama sekali tidak boleh menggali segala hal yang di luar konteks dalil naqli Al-Quran dan sunnah, serta sama sekali tidak boleh dengan penalaran akal.

Yang masuk dalam ranah Rukun Iman secara mutlak ada 6 perkara: (ALLaah, Malaikat-Malaikat Nya, Kitab-Kitab Nya, Rasul-Rasul Nya, Hari Akhir, Qodho-Qodar)

ALLaah swt Yang Maha Ghaib dan mutlak sifat ke-ghaiban-nya memberikan tanda-tanda keberadaanNya dan menerangkan sifat-sifatNya. Itu kita berhenti sampai di situ.

Malaikat sebagai makhluk ghaib, demikian dengan surga-neraka yang termasuk ghaib harus diimani, semuanya masuk dalam Rukun Iman.

Sementara meyakini adanya jin adalah juga wajib diimani keberadaannya dan itu sebagai bagian dari keimanan kepada ALLaah swt dan RasulNya yang telah menyebutkannya.

Perbedaannya, Jin yang keberadaannya diimani itu tidak masuk dalam Rukun yang enam.

Jika Al-Khaliq Yang Maha Menciptakan segalanya menyebutkan tanda-tanda keberadaanNya secara naqli dan 'aqli, maka apalagi ghaibnya makhluk, pasti ada tanda-tandanya.. Dan ALLaah swt menyebutkannya.

Sehingga boleh dan sah memadukan antara tanda-tanda naqliyah dan tanda-tanda 'aqliyah terhadap keberadaan makhluq.

Untuk tanda-tanda naqliyah didapat dengan keimanan-keyakinan.
Untuk tanda-tanda 'aqliyah bisa dengan pengamatan dan atau penalaran.

Kategori ilmu itu bisa juga didapat dengan pengamatan atas kejadian yang berulang-ulang. Disertai penalaran yang dibantu referensi yang ada, baik lengkap maupun terbatas.
Yang membedakannya adalah kualitas pengamatan dan penalaran itu.

Sesuatu (makhluk) yang tidak bisa diinderawi bukan berarti kita dilarang menggalinya. Karena keterbatasan indera manusia, bukan berarti tidak boleh menggali hal-hal tersebut untuk kepentingan dan manfaat bagi kita sendiri.

Yang dilarang itu adalah penggalian terhadap ALLaah swt Yang Maha Ghaib, itupun terkait Dzat-Nya, asal usulNya dan yang serupa dengan itu. Karena kita tidak akan sampai. Adapun tentang ATSAR-nya malah didorong untuk digali.

Jika kita menggali ni'mah-ni'mah ALLaah swt itu kita memang tidak akan mampu mendetailkannya, tetapi bukan berarti dilarang. Justeru perlu dan didorong untuk itu. Kita diajarkan dan didorong untuk selalu mengingat, mengetahui, merasakan dan menyadari tentang keberadaan ALLaah swt dan tentang segala ni'mahNya.

Tujuan besarnya adalah adalah agar selalu bersyukur atas segala apapun pemberianNya dan selanjutnya bersikap tepat terhadapNya.



Ghaib Makhluq Secara Inderawi

Ilustrasi,
Apa-apa yang ada di air kamar mandi, kita tidak tahu detail isinya tetapi kita meyakini ada sesuatu yang membahayakan jika kita meminumnya.

Penampakkan dan aroma air kamar mandi sama dengan air kemasan botol yang dijual itu. Apakah adanya kesamaan itu kita akan memperlakukan hal yang sama antara air kamar mandi dengan air kemasan botol itu untuk konsumsi minum sehari-hari? Tentu saja tidak.

Hal-hal yang tidak bisa dijangkau dengan indera kita jika bermanfaat atau membahayakan perlu kita gali. Itu bagi yang berminat dan berkesempatan. Bagi yang tidak berminat, tidak mengapa dengan cukup memakai petunjuk/informasi yang sudah ada, sudah jadi dan siap pakai.

Tidak ada tuntutan kepada semua orang untuk menjadi apoteker dalam meracik herbal/obat kimia. Tidak ada tuntutan bagi setiap orang untuk menjadi peneliti virus demam berdarah dengan segala sifat, tabiat, kekuatan dan kelemahannya.

Jika ada yang meneliti dan membuat kaidah-kaidahnya cukup dihormati saja. Jika bermanfaat yaa silakan dipakai, jika dianggap tidak bisa dipertanggungjawabkan yaa cukup disimak saja. Karena itu bisa benar bisa juga salah.

Tidak semua orang wajib melihat virus dengue (virus demam berdarah). Bagi yang mau mengikuti prosedur penanganan dan pencegahannya cukup dengan meyakini dan mengikutinya tanpa harus meneliti lebih dulu apalagi melihatnya dengan alat-alat di laboratorium.

Jika ada petunjuk naqliyah-nya maka kita pakai tanpa terburu-buru menyetop area 'aqliyah, eksplorasi. Yang penting kaidah keilmuannya tidak ditabrak dan menjadi rusak.

Dan jika belum sempat bertemu dengan kasus-kasus yang membutuhkan penelitian dan solusi penanganannya di bidang itu maka menyimak dulu lebih baik tanpa terburu membuat pernyataan-pernyataan. Atau jika ada yang belum dipahami, maka solusinya bertanya. Itu lebih bijak.

Semoga kita semua tetap berada dalam ranah kebaikanNya, terpelihara dari segala niat, sikap dan perilaku yang tidak sesuai dengan syariatNya.

Aamiin..


H. Riyadh Rosyadi

Senin

Seri Tanya Jawab: Menerima Upah dari Meruqyah, Bolehkah...?

HADITS-HADITS TENTANG RUQYAH YANG HAQ

Tanya jawab salah satu anggota room Terapi Quran dengan ustadz Riyadh Rosyadi.


Tanya:
Bolehkah menerima uang atau harta pemberian dari proses meruqyah?


Jawab:
Ada beberapa hadits terkait dengan upah/pemberian dari meruqyah,


١. عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال:
أنَّ ناسًا من أصحابِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ أتوا على حيٍّ من أحياءِ العربِ فلم يُقْرُوهم ، فبينَما همْ كذلِك ، إذْ لُدِغَ سيدُ أولئكَ ، فقَالوا : هلْ معَكُمْ من دَوَاءٍ أوْ راقٍ ؟ فقالوا : إنكُمْ لمْ تُقْرُونَا ، ولا نفعلُ حتى تجعَلوا لنَا جُعْلًا ، فجَعلوا لهم قطيعًا من الشاءِ ، فجعلَ يقرأُ بأمِّ القرآنِ ، ويجمعُ بزَاقَهُ ويَتْفُلُ ، فبَرَأَ فأتَوا بالشَّاِء ، فقالوا : لا نأْخُذُهُ حتى نسألَ النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ فسأَلوهُ فضَحِكَ وقالَ : ومَا أدراكَ أنها رُقيةٌ ، خذُوهَا واضرِبوا لي بِسَهْمٍ. 
 (رواه البخاري ٥٧٣٦، ومسلم ٢٢٠١)

1. Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyaLLaahu 'anhu, dia berkata: Bahwasanya sekelompok orang dari sahabat Nabi shallaLLaahu 'alaihi wasallam mendatangi suatu desa dari desa-desa Arab, tapi penduduknya tidak mau menjamu mereka. Ketika mereka seperti itu, tiba-tiba saja pemimpin desa tadi disengat binatang. Maka mereka berkata: “Apakah kalian punya obat atau orang yang ahli ruqyah (jampi)?” Maka mereka menjawab: “Kalian tadi tidak mau menjamu kami. Dan kami tidak akan mengobati sampai kalian memberikan untuk kami upah.” Maka mereka memberikan upah untuk mereka tiga puluh ekor kambing. Maka mulailah dia (Abu Sa’id) membaca Ummul Qur’an dan mengumpulkan ludahnya lalu meludahkannya sedikit (ke kepala kampung). Maka sembuhlah dia. Lalu mereka mendatangkan kambing-kambing itu. Para Shohabat tadi berkata: “Kita tidak mengambilnya sampai kita bertanya kepada RasuluLLaah shallaLLaahu 'alaihi wasallam". Maka merekapun bertanya kepada beliau. Maka beliau tertawa seraya bersabda: “Dari mana engkau tahu bahwasanya Ummul Kitab adalah ruqyah. Ambillah kambing-kambing tadi, dan berilah aku bagian darinya".
(HR. Al Bukhoriy 5736 dan Muslim 2201).



٢. عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال:
أنَّ نفَرًا من أصحابِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ مَرُّوا بماءٍ ، فيهمْ لَدِيغٌ أو سَلِيمٌ ، فَعَرَضَ لهمْ رجلٌ من أهلِ الماءِ ، فقالَ : هلْ فيكمْ منْ راقٍ ، إنَّ في الماءِ رجلًا لدِيغًا أو سَليمًا ، فانطلقَ رجلٌ منهمْ ، فقرأَ بفاتحةِ الكتابِ على شَاءٍ ، فبَرَأَ ، فجاءَ بالشَّاءِ إلى أصحابِهِ ، فَكرِهوا ذلكَ وقالُوا : أَخَذْتَ على كتابِ اللهِ أجرًا ، حتى قدِمُوا المدينةَ ، فقالوا : يا رسولَ اللهِ ، أخَذَ على كتابِ اللهِ أجرًا ، فقالَ رسولُ اللهِ صلى اللهُ عليهِ وسلَّمَ : إنَّ أحقَّ ما أخَذْتُمْ عليهِ أجرًا كتابُ اللهِ .
(رواه البخاري في صحيح البخاري ٥٧٣٧)

2. Dari AbduLLaah bin Abbas radhiyallahu ’anhuma, dia berkata: Bahwasanya sekelompok dari sahabat Nabi shallaLLaahu 'alaihi wasallam melewati suatu desa yang di kalangan mereka ada orang yang tersengat. Maka salah seorang penduduk desa tadi menghadang mereka seraya berkata: “Apakah di kalangan kalian ada orang yang bisa meruqyah? Sesungguhnya di desa ini ada orang yang tersengat.” Maka salah seorang dari mereka berangkat, lalu membacakan Al Fatihah dengan minta imbalan kambing-kambing. Lalu sembuhlah si sakit. Lalu datanglah orang tadi dengan membawa kambing-kambing kepada para sahabatnya. Tapi mereka tidak suka hal itu dan berkata: “Apakah engkau mengambil upah karena Kitabulloh?” sampai mereka tiba di Madinah. Lalu mereka berkata: “Wahai RasuluLLah, orang ini mengambil upah karena Kitabulloh.” Maka RasuluLLaah shallaLLaahu 'alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang paling berhak untuk kalian ambil upah darinya adalah Kitabulloh.”
(HR. Al Bukhoriy 5737)


٣. عن عم خارجة بن الصلت وهو علاقة بن صحار التميمي رضي الله عنه،
  أَتَى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَسْلَمَ ثُمَّ أَقْبَلَ رَاجِعًا مِنْ عِنْدِهِ فَمَرَّ عَلَى قَوْمٍ عِنْدَهُمْ رَجُلٌ مَجْنُونٌ مُوثَقٌ بِالْحَدِيدِ فَقَالَ أَهْلُهُ إِنَّا حُدِّثْنَا أَنَّ صَاحِبَكُمْ هَذَا قَدْ جَاءَ بِخَيْرٍ فَهَلْ عِنْدَكَ شَىْءٌ تُدَاوِيهِ فَرَقَيْتُهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ فَأَعْطُونِى مِائَةَ شَاةٍ فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ هَلْ إِلاَّ هَذَا. وَقَالَ مُسَدَّدٌ فِى مَوْضِعٍ آخَرَ هَلْ قُلْتَ غَيْرَ هَذَا. قُلْتُ لاَ. قَالَ خُذْهَا فَلَعَمْرِى لَمَنْ أَكَلَ بِرُقْيَةِ بَاطِلٍ لَقَدْ أَكَلْتَ بِرُقْيَةِ حَقٍّ.

3. Dari pamannya Kharijah bin Ash-Shalt yaitu 'Alaqah bin Shohaar at-Tamimi radhiyaLLaahu 'anhu, dia datang ke Madinah untuk menemui RasuluLLaah lantas masuk Islam. Saat hendak pulang dari Madinah menuju kampung halamannya beliau melewati suatu perkampungan. Di kampung tersebut terdapat orang gila yang dipasung dengan besi. Salah satu keluarga orang gila tersebut berkata kepada pamanku, “Kami dapat kabar bahwa nabimu mengajarkan kebaikan. Apakah anda memiliki sesuatu untuk mengobatinya?”. Pamanku lantas meruqyahnya dengan hanya membacakan surat Al-Fatihah. Setelah diruqyah orang tersebut sembuh seketika. Mereka pun memberiku seratus ekor kambing. Akhirnya kudatangi Nabi dan kuceritakan apa yang telah terjadi. Beliau merespon dengan bertanya, “Apakah engkau hanya meruqyah dengan membacakan surat Al-Fatihah?” “Tidak ada yang lain”, jawabku. Sabda Nabi, Ambillah (pemberian) tersebut sungguh engkau termasuk mendapat upah dengan ruqyah yang benar, bukan dengan ruqyah yang batil.
(HR. Abu Daud, hasan).


Hukumnya MUBAH - HALAL.
1. Ditarif boleh dengan asas kepatutan.
2. Diberi hadiah besar juga boleh diterima.
3. Tidak menerima juga boleh.

Dalam konteks dakwah dan pelayanan, semua aspek perlu diperhatikan dan disesuaikan. Lihat: Ahdats أحداث kejadian, Zhuruf ظروف keadaan/kondisi dan Awdha' أوضاع situasinya.


H. Riyadh Rosyadi