Sebaik-baik dari kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya (H.R. Bukhari)
Tampilkan postingan dengan label sukma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sukma. Tampilkan semua postingan

Rabu

Serial Nafs: Testimoni Ikhtiar Nafs

Untuk Marqi (yang diterapi):

Terutama untuk Doa Ikhtiar Pembebas Nafs... ini bisa kita jadikan metode untuk mengetahui apakah ada Nafs pasien yang terpenjara atau tergadai oleh Jin maupun yang terlepas.


Contoh 1:
Pasien ibu-ibu sering rontok rambutnya dari SMA sampai sekarang sudah punya anak 1. Ketika saya tanya tentang nasab ternyata bapaknya dulu suka ngelmu dan simpan benda pusaka. Asumsi saya sakitnya ini bisa jadi ada Nafs di kepalanya yang sudah tergadai.

Ketika saya minta baca doa ikhtiar pembebas si ibu merasakan merinding dan ada terasa angin dingin masuk ke kepalanya. Wallahu a'lam apakah ini Nafsnya yang kembali atau bukan. yang jelas setelah itu merasaka agak ringan di kepalanya.



Contoh 2 :
Ada seorang muslimah sering kesurupan. Setelah digali nasabnya ternyata sama. Bapaknya masih aktif sebagai dukun dan masih menyimpan benda-benda pusaka 1 lemari.

Saat baca doa ikhtiar pembebas Nafs dia melihat ke 6 saudaranya sedang terpenjara dalam peti besar. Kami coba bebaskan dan berhasil. Asumsi ke 6 saudaranya Nafsnya sudah tergadai. Dan ternyata setelah kita bebaskan Jin penunggu peti itu marah-marah dan mengakui bahwa semua keluarganya sudah tergadai dengan si Jin yang selama ini membantu bapaknya.



Untuk Roqi:

Yang jelas lebih mempermudah mengidentifikasi penyakit ini karena medis atau non medis terutama ada kaitanya dengan Nafs yang terlepas atau tidak.



Seri Tanya Jawab Nafs: Mainan Anak-Anak

Tanya jawab salah satu anggota room TQ, Peserta Pelatihan TQ di satu daerah dengan ustadz Riyadh Rosyadi.


Tanya:
Assalamu'alaikum...ustad mau tanya; kalau anak kecil 3 tahun punya kecintaan yang sangat kepada mainan tertentu (misal pesawat) apakah itu aku berpengaruh pada sukmanya? kapan kita perlu "mengganti" kecintaannya tersebut?



Jawab:
Wa'alaikumussalaam wrwb

Secara prinsip Nafs itu harus dilindungi dan dikembangkan potensi kebaikannya. Ada 4 hal yang perlu penyikapan sesuai dengan keadaannya,

1. Setiap keadaan yang sudah berada pada sesuatu yang diharamkan/kebatilan harus dihentikan dan dibersihkan bekasnya dengan taubat dan kaffarah.

2. Setiap hal yang menuju ke arah yang diharamkan maka harus dicegah sedini mungkin dan dialihkan ke arah yang lebih aman.

3. Setiap keadaan pada sesuatu yang mubah harus dikendalikan dan diarahkan sesuai dengan bimbingan syariat.

4. Setiap keberadaan pada sesuatu yang utama kebaikannya sesuai agama harus disupport (didukung dan difasilitasi), dikembangkan secara proporsional, bertahap dan seimbang menuju puncak capaian tertingginya.

** Jika pesawat mainan itu secara karakter dan simbolnya aman, maka itu masuk kriteria 3.
Kendalikan agar tidak isrof (berlebihan dalam hal waktu dan kecintaan kepada obyek), arahkan dengan memahamkannya bahwa itu adalah teknologi sebagai anugerah ilmu ALLaah swt untuk menjadi sarana kita beribadah kepada ALLaah dan meninggikan agamaNya.

Jumat

Serial Nafs: Edisi Berbagi Pengalaman

Berikut merupakan pengalaman salah satu yang berkonsultasi mengenai Nafs dengan Ustadz Riyadh Rosyadi melalui Whattsapp. Semoga Nafs-nya sudah kembali.




[14/10 20.39] "km":
Salam, Ustadz mau tanya. Semalam saya bermimpi di jalan raya dekat rumah yang biasa saya lewati jika hendak ke kios dan mengantar anak.

Di dalam mimpi itu,
1. Saya kok bisa berniat ingin menemui orang yang dulu suka kepada saya.
2. Di jalan raya itu saya bersama teman berkendaraan, tapi disitu kami dihadang 3 ekor anjing, 2 berukuran tanggung (agak besar-red) matanya biru, 1 anjing besar warna hitam. Saya memutuskan belok untuk kembali, saat berbalik ada 1 lagi anjing, tapi saya lari tidak terkejar, lalu saya terbangun.

Katanya salah satu gangguan itu bertemu hewan-hewan buas. Apakah mimpi saya termasuk gangguan nafs atau hanya sekedar mimpi? sebab saya tidak lupa sampai sekarang.


[14/10 21.51] R. Rosyad:
Wa'alaikumusalam. wr wb.
Kemungkinan nafs (soul) "km" ada di tempat itu atau bersama dia. Dan nafs itu tertawan. 
Mohon kepada ALLaah swt untuk membebaskan nafs itu dan mengembalikannya.


[14/10 21.52] R. Rosyad:
Bacakan Ruqyah Nafs (ikhtiar nafs)


[14/10 23.03] "km":
maaf saya tertidur karena belum sehat betul.
berkali-kali/sering mimpi saya itu. Kalaul tempat pasti berubah-ubah, tapi selalu ada kesamaan yaitu pasti hadirnya orang itu terus. Padahal kenyataannya saya memikirkan orang tersebut juga tidak. Di mimpi itu juga dia sepele tp mengapa di mimpi itu saya selalu berharap dan merasa lelah. Sering sekali.


[20/10 08.34] "km":
salam, ustadz, AlhamduliLLaah perdarahannya sudah berhenti. Namun pagi ini saya sangat lemes, berkunang-kunang dan saya merasa ketakutan lagi. Saya sudah makan dan minum tetap lemes.

Saya meniatkan Ruqyah dengan Alfatihah, ayat kursi dan 3 Qul. Baru sekali selesai bacaan, untuk baca 3x saya menguap terus, Mengantuk sekali, sambil mual.

Begitu selesai saya usap ke badan. Awalnya semakin lemea tapi mata sudah mulai tidak berkunang-kunang dan takutnya berkurang.
Ini masih agak lemas, mau baca lagi seperti tidak ada kekuatan. Mengantuk, menguap terus ustadz.



[20/10 08.39] R. Rosyad:
Wsalam.wrwb. Mohon kepada ALLaah swt mengembalikan nafs-nafs yang terlepas. Baca ikhtiar Nafs.


[20/10 08.41] "km":
Iya ustadz. Meskipun menguap terus tetap dilanjutkan?


[20/10 08.48] R. Rosyad:
Kalau begitu, dengarkan ini, sambil minta kepada ALLaah: ketenangan hati, disertakan dengan junuduLLaah dan dikumpulkan nafs-nafs yang terlepas itu.

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, [Qs. Al-Fath (48): 4].


أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [Qs. Al-Baqoroh (2) :148].


[20/10 09.04] "km":
AlhamduliLLaah ustadz, ayat dari ustadz bisa saya baca 1x, juga doa Nafs-nya, sambil saya mendengar kiriman audio Quran dari ustadz itu. Langsung nangis terus ustadz. 

AlhamduliLLaah mata saya tidak berkunang-kunang lagi, pusingnya hilang dan saya merasa bertenaga lagi. AlhamduliLLaah ALLaah mengabulkan doa-doa. Terima kasih ustadz.


[20/10 09.06] "km":
Sejak saya tahu TQ saya hampir tidak pernah makan obat-obatan. Terima kasih.
Ini tadi orang rumah sebelumnya sudah sibuk mencari dokter/bidan untuk ke rumah. AlhamduliLLaah.


[20/10 09.28] R. Rosyad:
AlhamduliLLaahi Robbil 'Aalamiin.


Selasa

Seri Tanya Jawab Terapi Quran

Tanya Jawab ustadz Riyadh Rosyadi dengan anggota group whatsapp Terapi Quran yang beliau asuh.


Tanya
[26/7 00.33] :
Ustadz, kadang setelah saya mengikuti pembicaraan yang mengarah pada ghibah, kurang menjaga pandangan. Pagi nya ba'da subuh saya RID di masjid pasti di akhir RID setelah saya tuntun untuk keluar, pasti saya reaksi mau muntah.

Apakah hal tersebut salah satu pintu strategis jalannya syetan jin masuk dalam diri kita?


Jawab
[26/7 00.39] R. Rosyad:
Iya, jelas sekali..
ALLaah swt berfirman,


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. [Qs. Al-Hujurat (49): 12]


وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).
[Qs. Al-An'am (6): 68]


قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُم ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". [Qs. An-Nur (24): 30]


Sebaiknya sering-sering juga RID Nafs (doa dan ayat-ayat Nafs itu).
Semoga ruang-ruang sukmanya tertutup kembali dan tidak mudah dimasuki oleh yang tidak berhak.


H. Riyadh Rosyadi

Jumat

Seri Tanya Jawab TQ Tentang Sukma (Nafs): Balasan Perjanjian dengan Jin

BALASAN MENGADAKAN PERJANJIAN DENGAN JIN
Tanya:
Assalamu'alaikum wrwb. ustadz mau tanya
apakah orang yang berinteraksi dengan jin misalnya meminta dengan sengaja atau tidak sengaja meminta bantuan jin, jin selalu akan meminta balasan baik ada ikatan perjanjian maupun tidak ada perjanjian dari orang yang bersangkutan. JazaakaLLaahu atas jawabannya.
(Al-Akh di Surabaya)
_________
Jawab:
Wa'alaikumussalaam wrwb.
Jika ada perjanjian di era nasabnya, maka jin-jin itu terikat tugas. Sesuai isi perjanjiannya. Jika menjaga/membantu maka mereka bekerja "membantu" sekalipun tidak diminta oleh keturunan (anak cucu)nya. Bagi mereka cukup dengan perjanjian awal saja karena dengan itu mereka mendapatkann jalan untuk mengakses keturunannya.
Bagi mereka, mendapatkan akses langsung adalah "balasan" besar. Apalagi seseorang yang terakses itu lebih mudah digiring ke arah yang keliru, suka dengan ilmu-ilmu yang mengaktifkan jin-jin nasab, suka dengan kesenangan-kesenangan yang menyeret kepada nafsu dunia, popularitas, kesombongan, hasad, dsb. Hingga sekalipun menjalankan suatu yang asalnya adalah kebaikan akan terselipkan dorongan-dorongan menyimpang seperti di atas.
Sehingga jika sudah masuk kepada ketertarikan kuat semua itu, maka syaitan jin itu akan memperoleh jatah "jiwa" orang itu untuk dimilikinya (jenis sebab no 1 dan 4 lepasnya sukma).
Maka sungguh banyak, dimana saat sukma (jiwa-jiwa) yang terlepas itu diikat dan "dibina" oleh syaithan sesuai dengan harapannya, dan jika sudah "jadi" akan dikembalikan lagi ke orang yang bersangkutan menjalankan misi syaithan itu tanpa disadarinya.

لَعَنَهُ اللَّهُ ۘ وَقَالَ لَأَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا
(Syaitan) yang dilaknati Allah dan syaitan itu mengatakan: "aku benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah dijatahkan (untukku)
(An-Nisa 4:118)

Saat sukma pernah terlepas di masanya (dengan sebab salah satu dari empat hal itu), dan jika jatuhnya sukma itu di kelompok sesat (apakah nasab atau kasab) maka sangat mungkin sukma itu dibina dengan pembinaan kesesatannya itu. Sukmanya ada di tempat sesat dan dibina di sana, sementara ruang sukma yg ditubuhnya dihuni oleh jin dari kelompok sesat tsb. Sukmanya legam/kotor dan ruang sukmanya juga demikian.
Jika ada manusia yang salah satu/beberapa sukmanya yg terbina itu akhirnya menjadi agen sesat yg dikelilingi jin-jin sesat, maka peluangnya manusia itu tersesat menjadi sangat besar. Dan manakala alam sadarnya (seolah) tidak sesat atau ybs sudah bertaubat, sementara unsur-unsur bawah sadarnya (sukma-sukma dan jin-jin nasab-kasab) masih berpolutan pekat maka sangat dimungkinkan sukma-sukma dan jin-jin itu masih ikut bekerja dengan tujuan-tujuan penyesatannya.
Semoga kita termasuk yang bersungguh-sungguh menengok latar belakang diri masing-masing baik secara nasab-kasab, lalu memohon pertolonganNya dengan mujahadah (bersungguh-sungguh) mentazkiyyah diri. Sehingga polutan-polutan berbahaya itu tidak menyertai setiap langkah gerak kita dalam kebaikan.
Aamiin.
H. Riyadh Rosyadi

NAFS dalam Terapi Quran

Serial Nafs - 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Merefresh bagi yang pernah...
Menginfokan bagi yang belum tahu...
Menguatkan bagi yang masih ragu...
___________


ALLaah swt berfirman,

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

ALLaahu yatawaffa l-anfusa hiyna mautihaa wallatiy lam tamut fii manaamihaa.  Fayumsikullatiy qodhoo 'alaihal mauta wa yursilul ukhraa illaa ajalin musammaa. Innafii dzaalika la aayaatin liqowmin yatafakkaruun

ALLaah memegang/mengambil nafs (seseorang) pada saat kematiannya dan nafs (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nafs (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nafs yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) ALLaah bagi kaum yang berpikir.
[QS. Surat Az-Zumar (39): 42]

Dalam akhir ayat itu ada isyarat bahwa peristiwa yang terkait dengan aktifitas nafs itu ada hal-hal yang bisa diamati dan menjadi tanda-tanda bagi mereka yang berfikir (yang menggunakan akalnya).


Penyebutan Nafs di dalam Al-Quran atau dalam penyebutan umum sehari-hari itu bisa beberapa maksud, diantaranya:

1. Ruh, makhluk yang menyatu dengan jasad yang jika dia terpisah maka jasad itu disebut mati atau tidur (mati besar, mati kecil). QS. 39:42, 6:93


2. Sumber daya kehidupan yg jika itu hilang/berkurang maka bisa berakibat sakit atau mati QS. 2:155.

 وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ 

Dan Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.

Di ayat tsb, ujian kehidupan itu dengan berkurangnya harta (al amwaal), jiwa (Al anfus) dan buah²an (Ats tsamaraat)..


Penjelasan ulama tafsir tentang yang dimaksud dengan berkurangnya Al Anfus (jamaknya nafs).


- Tafsir Al-Jalalain:

.. «والأنفس» بالقتل والموت والأمراض

berkurangnya "Al anfus" (jamaknya nafs) maknanya berkurang melalui pembunuhan, kematian dan sakit.


- Tafsir As-Sa'di:

.. والْأَنْفُسِ أي: ذهاب الأحباب من الأولاد، والأقارب، والأصحاب، ومن أنواع الأمراض في بدن العبد أو بدن من يحبه

berkurangnya Al anfus di sini bermakna "perginya (kematian)" org² yg dicintai seperti anak², kerabat dekat dan para sahabat. Bermakna juga berbagai macam sakit yg diderita seorang hamba atau org yg dicintainya.


Tafsir Al-Baghawi:

.. والأنفس الأمراض،

berkurangnya Al anfus maknanya adalah sakit


Tafsir Al-Qurthubi:

.. والأنفس قال ابن عباس : بالقتل والموت في الجهاد .

وقال الشافعي : يعني بالأمراض

Terkait Al anfus berkata Ibnu Abbas: maknanya berkurangnya melalui pembunuhan dan kematian di dalam jihad.

Berkata Imam Asy Syafi'i: yang dimaksud dengan (berkurangnya) Al Anfus adalah sakit.


Dalam hal ini Nafs disejajarkan keadaannya dg material (harta dan buah²an) yg bisa hilang/berkurang. 


Dalam hal ini jika nafs itu berkurang dalam diri seseorang maka bisa berakibat kematian atau sakit.


3. Bermakna pribadi, individu, person - syakhshun, fardun. QS. 2:48, 3:145, 5:25, 28:33, 39:56



4. Bermakna sebagai pembawa nilai keadaan diri atau jati diri (bersih-kotor, baik-buruk) yang prosesnya bisa diupayakan dan itu akan menjadi tanggungjawab orang tsb sebagai bagian dari "kasab" amal perbuatannya-nya.


وَنَفۡسࣲ وَمَا سَوَّىٰهَا ۝  فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا ۝  قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ۝  وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا

Wa nafsin wamaa sawwaahaa, fa alhamahaa fujuurohaa wa taqwaahaa, Qod aflaha man zakkaahaa waqod khooba man dassaahaa.

Demi jiwa (nafs) dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada nafs itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikannya (nafs) itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. 
(QS. al-Syams [91]: 7-10).


لَا یُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَیۡهَا مَا ٱكۡتَسَبَتۡۗ ....

Laa yukallifuLLaahu nafsan illaa wus'ahaa, lahaa maa kasabat wa'alaihaa maktasabat ...

ALLaah tidak membebani seseorang (satupun nafs) melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia (nafs itu) mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya...
(Surat Al-Baqarah, [2] Ayat 286)

Dari sini dikenal nafs terbagi 3 keadaan sifat dan kondisi;

- An-Nafs al-Muthmainnah, nafs yang tenang.

- An-Nafs al-Lawwaamah, nafs yang mencela/mengoreksi dirinya sendiri.

- An-Nafs al-Ammaaratu bis-suu`, nafs yang memerintahkan keburukan.

 

4. Bermakna jenis atau unsur yang sama QS. 30:21, 

Diri sendiri QS. 4:61

 

5. Bermakna 'Ain, Hasad. 

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ ﷺ قَالَ أَكْثَرُ مَنْ يَمُوْتُ مِنْ أُمَّتِيْ بَعْدَ قَضَاءِ اللّٰهِ وَقَدَرِهِ بِالْأَنْفُسِ يَعْنِيْ بِالْعَيْنِ

Dari sahabat Jabir radliyaLLaaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah ﷺ : ​Kebanyakan yang meninggal dari umatku setelah qadha dan qadar ALLaah adalah karena al-Anfus (jama` dari nafs) yaitu Al-‘Ain.

(HR. Bukhari).

 

6. Bermakna darah .

Kaidah sebagian ulama dalam fiqh

مَا لَا نَفْسَ لَهُ سَائِلَةٌ، فَهُوَ طَاهِرٌ بِجَمِيعِ أَجْزَائِهِ وَفَضَلَاتِهِ

 

Segala (hewan) yang tidak memiliki nafs (baca: darah) yang mengalir, ia suci semua bagian tubuhnya dan semua yang keluar darinya” 

[Al Mughni, 2/67].



Dalam pembahasan di sini lebih dekat kepada nafs sebagai unsur materi seperti Point 1 dan 2, yaitu makhluk yang keberadaannya bisa bersatu atau berpisah dari jasad. Yang jika bersatu maka disebut hidup atau bangun/sadar dan jika berpisah disebut mati atau tidur. Atau jika berkurang menjadi sakit atau (hingga) mati.

Walaupun dalam penerapannya bisa terkait dengan makna nafs dalam pengertian yang lainnya juga (no 3 sd 6).

Dan istilah Nafs ini bisa juga dengan penamaan Ruh. Perbedaannya hanya dalam penyebutan yang disesuaikan pada posisi dan keadaannya.

Jika status dan posisinya masih terhubung bersama jasad maka lebih disebut dg nafs . Jika posisinya sudah terpisah dg jasad disebut dg ruh.

https://s.id/1oWPz



Nafs dalam pengertian 1 dan 2 itu sebagaimana yang dijelaskan oleh As-Syaikh Izzudin Abdussalaam dan beberapa ulama lainnya menyebutkan bahwa nafs dimaksud di QS. Azzumar (39) ayat 42 itu sebagai ruh yaqzhah dan ruh hayat.

Ruh yaqzhah (ruh bangun/sadar) itu melekat padanya fungsi-fungsi yang ada dalam diri manusia saat terjaga atau dalam keadaan sadarnya.

Sedangkan ruh hayat (ruh hidup) itu adalah ruh yang tetap ada di badan saat manusia tertidur dan ruh itu tidak ikut mati pada saat matinya badan.


اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

ALLaah memegang/mengambil nafs (seseorang) pada saat kematiannya dan nafs (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nafs (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nafs yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) ALLaah bagi kaum yang berpikir.
[QS. Surat Az-Zumar (39): 42]

وقال الشيخ عز الدين بن عبد السلام في كل جسد روحان أحدهما روح اليقظة التي أجرى الله العادة إنها إذا كانت في الجسد كان الإنسان مستيقظا فإذا خرجت من الجسد نام الإنسان ورأت تلك الروح المنامات والأخرى روح الحياة التي أجرى إليه الله العادة أنها إذا كانت في الجسد كان حيا فإذا فارقته مات

Berkata asy-syaikh 'Izzuddin Abdussalaam: Di dalam jasad manusia ada dua ruh. Salah satunya adalah Ruh Yaqzhah (ruh kesadaran) yang ALLaah swt telah jalankan fungsinya yaitu jika ruh itu ada di dalam jasad maka manusia itu dalam keadaan terjaga (bangun/sadar). Dan apabila ruh itu keluar dari jasad manusia itu tidur dan ruh itu bisa melihat berbagai mimpi. Dan satunya lagi adalah Ruh Hayat (ruh kehidupan) yang ALLaah swt jalankan terhadapnya ketetapan yaitu apabila ruh hayat itu ada di dalam jasad maka jasad itu hidup dan jika terpisah dari jasad maka matilah dia.

Selanjutnya Imam 'Izzuddin menjelaskan,

ويدل على وجود روحي الحياة واليقظة قوله تعالى {الله يتوفى الأنفس} الآية تقديره يتوفى الأنفس التي لم تمت أجسادها في نومها فيمسك الأنفس التي قضى عليها الموت عنده ولا يرسلها إلى أجسادها ويرسل الأنفس الأخرى وهي أنفس اليقظة إلى أجسادها إلى إنقضاء أجل مسمى وهو أجل الموت فحينئذ تقبض أرواح الحياة وأرواح اليقظة جميعا من الأجساد ولا تموت أرواح الحياة بل ترفع إلى السماء حية

Dan keterangan tentang adanya dua ruh (yaitu) Hayat dan Yaqzhah adalah firman ALLaah swt
  {الله يتوفى الأنفس} - Azzumar ayat 42 ,
Dia mengambil nafs² yang para jasadnya belum mati yaitu di dalam keadaan tidurnya. Dan Dia juga menahan nafs yang telah ditetapkanNya mati yang nafs itu tidak dikirimkan kembali kepada jasadnya.

Dan dikembalikan nafs-nafs lain ke masing² jasadnya - itulah nafs yaqzhah - hingga tiba ketetapan ajal yang sudah ditentukan, yaitu ajal kematian. Saat itulah dicabutnya arwah yaqzhah dan arwah hayat dari para jasad secara bersamaan. Dan arwah hayat tidaklah mati akan tetapi dia diangkat menuju langit dalam keadaan hidup.

(كتاب شرح الصدور بشرح حال الموتى والقبور للإمام جلال الدين السيوطي ص. ٣٢١)

(Kitab Syarhush Shudur Bisyarahi Haalil Mawtaa walqubuur - Imam Jalaluddin As-Suyuthi, hal 321)

Adapun ruh yaqzhah inilah yang lebih dekat dengan pengertian yang disebut oleh Ibnul Qoyyim sebagai  القوى التي في البدن  Kekuatan/energi yang terdapat di badan yang masing-masing di setiap fungsinya ada ruh tersendiri. Dan dalam pengertian inilah pembahasan Nafs yang kita maksudkan.

وأما القوى التي في البدن فإنها تسمى أيضا أرواحا، فيقال الروح الباصر والروح السامع والروح الشامّ. فهذه الأرواح قوىً مودعة في البدن، تموت بموت الأبدان، وهي غير الروح التي لا تموت بموت البدن ولا تبلى كما يبلى
(كتاب الروح لإبن قيم الجوزية ص.٦٢٠)

..adapun kekuatan (energi) yang terdapat di badan maka itu disebut juga dengan arwaahan (ruh-ruh), maka disebutlah ruh penglihatan, ruh pendengaran, ruh penciuman. Dan ruh-ruh ini sebagai kekuatan yang tersimpan di badan. Ruh itu mati bersama dengan kematian badan dan ruh-ruh tersebut bukanlah ruh (baca: ruh hayat) yang tidak mati bersama kematian badan dan tidak rusak binasa bersama rusak binasanya badan.

Adapun kekuatan-kekuatan yang ada dalam tubuh juga disebut sebagai ruh, seperti disebutkan ruh al-basir (ruh penglihatan), ruh as-sami‘ (ruh pendengaran), dan ruh as-syam (ruh penciuman). Ruh-ruh ini adalah kekuatan-kekuatan yang ditempatkan dalam tubuh, yang akan mati bersama matinya tubuh.

 (Kitab Ar-Ruh - ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, hal 620).
_____________________


Rangkuman Dari Paparan

BismiLLaahirrahmanirrahiim

Beberapa fenomena dalam kehidupan manusia yang menunjukkan bahwa nafs/ruh itu bisa lepas sebagian dari badannya dan kembali lagi: 
  1. Fenomena yang ada terkait dengan nafsnya keluar dan orangnya masih dalam keadaan sadar ~ contohnya sebagian para dukun, para peng-elmu raga sukma,
  2. Fenomena yang ada terkait dengan nafs yang keluar dan orangnya tidak sadar dan masih hidup ~ tidur, pingsan, anastesia (pembiusan total)
  3. Fenomena amnesia (lupa ingatan): orangnya hidup, sadar dan beraktifitas tetapi kehilangan fungsi ingatannya: ada yang total dan ada yang parsial/sebagian. Di sini menunjukkan bahwa nafs pembawa data ingatan tsb sedang tidak ada atau minimal terganggu.
  4. Fenomena mati perasaan (emotional numbness), kehilangan rasa emosional : senang, sedih, takut, marah. Tahu bahwa itu sesuatu yang menyedihkan tetapi tidak bisa menunjukkan ekspresi kesedihannya selain hanya meneteskan air mata saja.
  5. Penculikan dan penawanan oleh syaitan terhadap sebagian unsur dari setiap bayi terlahir untuk dijadikan tawanannya dengan cara menusuk pinggang/rusuknya. Dan bisa bebas jika ditebus dengan menyembelih aqiqahnya. (Ibnul Qoyyim). Dan bagian unsur yang diculik itu adalah nafs-nya.

Nafs, susunan dan keadaannya
  1. Nafs/sukma/ruh itu terbagi dua kelompok besar: nafs yaqzhah dan nafs hayat. Yang yaqzhah tersebut adalah nafs yang menjalankan fungsi tubuh. Jika posisi yaqzhah-nya keluar dari jasad sementara hayat-nya masih ada, maka manusianya tetap hidup tapi mati secara fungsi: tidur/pingsan. ~ Syaikh Izzuddin Abdussalaam.
  2. Nafs yaqzhah terdiri dari banyak bagian sesuai dengan fungsi-fungsi yang melekat pada diri seseorang. Baik itu fungsi fisik anggota tubuh maupun fungsi emotional dan spiritual ~ Ibnul Qoyyim.
  3. Nafs bisa terlepas dari tubuh dan bisa kembali. Jika lepas nafs hayat maka nafs yaqzhah juga ikut lepas bersamanya dan itu disebut maut, kematian. Prosesnya bisa bersamaan atau diawali dulu dengan lepasnya nafs yaqzhah bagian demi bagian.
  4. Jika yang terlepas hanya nafs yaqzah-nya saja secara total, maka orang tersebut dalam keadaan hidup tetapi tidak sadar: tidur atau pingsan, pembiusan (anastesi). Sebagian ulama menyebut tidur dengan istilah maut sughra.
  5. Nafs yaqzhah bisa dengan sadar dan sengaja dikeluarkan dari tubuh seseorang, contoh: meraga sukma, meniatkan tidur.
  6. Nafs yaqzhah bisa merasakan/mengalami peristiwa kehidupan tanpa disertai jasadnya. Dan keadaan jasadnya ada dua macam:
    • tidak sadar sama sekali seperti orang tidur (mimpi), pingsan, koma, pembiusan total, mati suri. Ini berarti nafs yaqzhah-nya tidak ada yang tersisa di badan atau sebagian besarnya keluar. Tapi setelah terbangun dia bercerita tentang apa yang dialaminya selama terlihat dia tidak sadar.
    • masih bisa dalam keadaan sadar dan bisa berkomunikasi tetapi keadaannya lemah, menyampaikan keadaan yang dialaminya di alam lain. Ini berarti sebagian nafs yaqzhah-nya keluar dan sebagian masih tinggal di dalam tubuhnya.
  7. Keadaan kehilangan fungsi secara total atau sebagian, baik fungsi fisik anggota tubuh maupun fungsi psikis emotional-nya. Dan itu berarti terlepasnya sebagian Nafs yaqzhah. Tepatnya terlepas pada fungsi² yang hilang tersebut.




PROSES TERGANGGUNYA NAFS

PROSES MELEMAH hingga TERLEPASNYA NAFS (Hayat maupun Yaqzhah) baik sebagian kecil, sebagian besar maupun keseluruhan bisa disebabkan karena 5 keadaan:


  1. Perjanjian batil (Kasab maupun Nasab): ~ Nafs menjadi jaminan atau tumbal. Jumlah nafs dan fungsi yang lepas sesuai dengan kadar perjanjiannya.
  2. Paksaan: tusukan syaitan pada saat awal terlahir, sihir.: ~ adanya Nafs yang ditahan menjadi tawanan. Jumlah dan ukurannya sesuai dengan kadar target sasaran dan kemampuan aksesnya.
  3. Tekanan dan kerusakan fisik: siksaan fisik, kerja paksa, kecelakaan, keracunan (pengaruh kimia baik sintetik maupun natural): ~ bagian Nafs terlepas/tercecer, posisi lepasnya biasanya di lokasi peristiwa. Yang terlepas bagian yang terkena tekanan fisik tersebut.
  4. Tekanan mental: teror/intimidasi/bully, musibah.: ~ bagian Nafs terlepas/tercecer, posisi lepasnya biasanya di lokasi peristiwa. Dan biasanya melepas nafs yaqzhah di bagian fungsi yang terkait dengan persoalannya baik fungsi fisik maupun psikis. Sehingga karena tekanan mental bisa berakibat gangguan fisik ataupun mental.
  5. Ketertarikan yang amat sangat kepada sesuatu, baik yang diharamkan maupun yang awalnya mubah tetapi tidak dengan rambu syariat (berlebihan, mubadzir).: ~ bagian nafs ada yang tertahan di "dunia ketertarikan" itu. Misal:
    • Hubungan kholwat / saling suka dengan lawan jenis yang bukan mahram, maka ada bagian nafs-nya yang diikat oleh syaitan bersama nafs lawan jenisnya. Biasanya nafs yaqzhah bagian emotional perasaan.
    • Hobi yang sampai mendekati isrof bahkan tabdzir. Maka nafs yaqzhah terlepas di dunia yang disukainya itu. Untuk anak-anak, ini sangat rawan dan mudah terlepasnya. Contoh yang perlu ekstra hati-hati adalah: hobi permainan, hiburan, koleksi barang, dsb.

_____________________________


Nafs Itu Satu Kesatuan Yang Terpartisi

Nafs itu satu kesatuan yang terdiri dari beberapa bagian yang jumlahnya banyak, sebanyak fungsi-fungsi yang ada di dalam diri kita, baik fungsi fisik maupun psikis. Jika ada yang bermasalah karena cedera/terluka/terkontaminasi atau bahkan ada yang terlepas, maka itu akan melemahkan fungsi pada yang bermasalah tersebut. Baik masalah fisik ataupun psikis.

Apalagi jika tempat/ruang nafs itu digantikan oleh jin, maka kendali secara penuh dilakukan oleh mereka di bagian fungsi itu. Dan nafs ada yang primer dan sekunder, berdasarkan fungsinya.

___________________



Unsur Ghaib (lain-asing) Yang di Dalam Diri Manusia

Secara keberadaannya selain nafs bawaan asli, ada unsur ghaib lain/asing yang masuk ke dalam diri manusia. Dan itu ada dua kemungkinan:

1. Menempel di nafs tertentu (di bagian/fungsi tertentu di tubuh). Ini biasanya benda-benda ghaib yang dipasangkan (susuk, santet). Benda ghaib tsb dalam kondisi tertentu bisa berubah menjadi wujud fisik.
2. Menempati/menguasai ruang nafs yang hilang/terlepas. Ini biasanya jin. Atau bisa juga nafs orang lain walaupun kasusnya jarang terjadi.


Nafs Yang Terlepas Sejak Kecil

Ada nafs yang terlepas sejak kecil bahkan sejak lahir (baca kembali tentang: Jiwa Yang Tergadai). Bahkan ada juga yang sejak masih dalam kandungan ibunya.

Biasanya yang terlepas sejak kecil, diantara 5 jenis proses terganggu atau terlepasnya nafs itu karena sebab pertama yaitu perjanjian nasab dan secara khusus seperti ditumbalkan dan karena perlakuan ritual (adat) yang tidak sesuai dengan syariat. Akhirnya semakin memudahkan para jin menempati ruang kosong yang ditinggalkan nafs-nya itu.

Bagian nafs yang lepas, jika tidak kembali sementara jin-jin sudah pergi maka kemungkinan ada dua keadaan:
1. Kondisi fisik/mental akan (cepat/berangsur) melemah,
2. Ruang nafs itu akan dimanfaatkan/diisi oleh jin (kafir/fasiq) lainnya.


WaLLaahu a'lam bish showwaab, 
R. Rosyadi