Sebaik-baik dari kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya (H.R. Bukhari)

Selasa

Gangguan dalam Sarana Hidup dan Sistem Hidup

Gangguan dalam Sarana Hidup dan Sistem Hidup


Sudah menjadi takdir ketentuan ALLaah subhaanahu wa ta’aalaa, syaitan merealisasikan permusuhannya melalui berbagai rencana dan caranya baik secara langsung maupun tidak langsung yang menimbulkan gangguan dalam hidup manusia.


Gangguan bisa pada aspek sarana prasarana hidup (kesehatan, ekonomi, sosial, keamanan) maupun sistem hidup (konsep dan aturan hidup serta aqidah, ibadah, akhlaq).

Suatu serangan ada yang bisa merasakannya dan ada yang tidak merasakannya..

Biasanya yang lebih mudah dirasakan sebagai gangguan adalah jenis gangguan pada sarana prasarana hidup dibandingkan sistem hidup. Padahal gangguan pada sistem hidup jauh lebih berbahaya serta merugikan dibandingkan dengan gangguan pada sarana prasarana hidup.


Syaitan berusaha merusak kedua aspek itu dari kehidupan manusia. Tujuan besarnya adalah untuk menggagalkan (merusak/menghambat) dua hal, yaitu tercapainya tujuan hidup dalam beribadah kepada ALLaah subhaanahu wata'aalaa dan terwujudnya tugas hidup sebagai khalifah fil ardhi (dalam konteks: pemimpin dan pengelola kehidupan di muka bumi). 


- Saat konsep aturan hidup yang berdasarkan aqidah-ibadah-akhlaqnya sudah rusak, maka saat sebagai pemimpin-pengelola juga akan merusak. 

- Saat konsep aturan hidup yang berdasarkan aqidah-ibadah-akhlaqnya baik, maka bagaimana agar akses untuk memimpin-mengelola dirusak (digagalkan).


Bagi syaitan, rusaknya sistem hidup lebih diprioritaskan daripada rusaknya sarana-prasarana hidup, karena rusaknya sistem hidup adalah target terbesarnya untuk bisa menyeret para hamba ALLaah kepada kesengsaraan abadi bersamanya (bersama syaithan). Walaupun keduanya tetap ditargetkan rusak.


Caranya,

Jika belum bisa langsung merusak sistem hidupnya maka dia akan:


1- Ditawarkan dukungan mencapai sarana prasarana hidupnya lalu setelah meraih sarana prasarana hidupnya, dia akan dijadikannya model/duta keberhasilan mengikuti sistem hidup syaitaniyah-nya.


2- Dihambat dan dirusak sarana prasarana hidupnya dengan harapan dia akan berputus asa lalu menyerah dan beralih ke berbagai alternatif sistem hidup yang ditawarkan syaitan itu. Selanjutnya dijanjikan pada pola poin 1 (pertama) di atas.


3- Pada akhirnya setelah habis masa berlakunya pada poin 1 dan 2 (pertama dan kedua) di atas, syaitan menarik dukungannya dalam urusan sarana prasarana hidup tersebut lalu dia akan kembali terjatuh dan rusak sarana prasarana kehidupannya, baik di dunia dan yang sudah pasti di akhirat.

____


Banyak yang tidak merasakan bahwa beberapa contoh sulukiyah-akhlaqiyah berikut ini adalah keadaan yang sangat disukai syaitan yang menjadi pintu masuk sekaligus menjadi tempat nyaman bersemayamnya syaitan dalam diri manusia.


ananiyah (egois), kibr (sombong), ‘uzlah minal jamaah - infirodiyah (memisahkan diri dari jamaah – beramal sendiri/tdk berjamaah), tafriqah (perpecahan), isti'jal (tergesa-gesa), infi'aliyah (emosional), ghadban (mudah tersinggung, pemarah), hasad, su-uzh zhan (buruk sangka), thuulul amal (panjang angan2), hubbud dun-ya (cinta dunia), i'jab bin nafs (kagum dengan diri sendiri), hubbuzh zhuhur (senang tampil), dst.. hal-hal yang sifatnya sulukiyah akhlaqiyah..


R. Rosyadi

Minggu

Benarkah ada larangan dalam mengungkap hasil diagnosa dari suatu gejala gangguan?

Menjawab pertanyaan dalam suatu majelis,
Benarkah ada larangan dalam mengungkap hasil diagnosa dari suatu gejala gangguan? (Dalam Ruqyah atau Terapi lainnya)
 
- Nabi shallaLLaahu 'alaihi wasallam mencontohkan dalam menyampaikan hasil analisa beliau kepada satu keluarga yang anaknya kurus bahwa anaknya itu membutuhkan ruqyah karena gangguan 'ain.
- Beliau shallaLLaahu 'alaihi wasallam juga menyarankan kepada ibunda 'Aisyah radhiyaLLaahu 'anhaa agar meruqyahkan dirinya karena 'ain.
- Beliau shallaLLaahu 'alaihi wasallam sendiri diberitahu oleh dua malaikat bahwa beliau terkena sihir, bahkan informasi itu lengkap secara detailnya.
- Saat sahabat Sahal bin Hunaif radhiyaLLaahu 'anhu terpelanting jatuh dan kondisinya kritis, beliau bertanya ke para sahabat: siapa yang menyebabkannya? (maksudnya sebab karena 'ain)..  dan itu dilakukan di depan banyak orang.

Jangan sampai kita membatasi sesuatu yang kesannya memutlakkan sebagai larangan sementara tidak ada nash yang memutlakkan pelarangan itu. 

Jadi, yg lebih pas itu bukan dilarang, tetapi agar berhati-hati.. 
Proporsional dan berhati-hati dalam mengungkapkan hasil diagnosa suatu gangguan

- Perlu kecermatan dalam analisa,
- Pertimbangkan kesiapan klien dan keluarganya saat menerima hasil diagnosa,
- Pilih kalimat yg aman dan nyaman utk menyampaikannya,
- Belum tentu semua konten analisa (hasil anamnesa-diagnosa) bisa disampaikan di saat bersamaan waktunya. Perlu bertahap.

Persoalan ghaib yang dimaksud dalam gangguan kalau dicermati bukanlah ghaib yang mutlak dilarang untuk dianalisa. Perlu dipahami bahwa persoalan ghaib dibagi menjadi 2, yaitu Ghaib Mutlak dan Ghaib Nisbi.
Jangan sampai salah dalam menempatkan masing-masingnya.

Contoh ghaib Nisbi (ghaib bagi sebagaian orang tetapi tidak bagi orang lain).

Barangkali, selain luka terbuka di permukaan kulit karena kecelakaan, maka bagi orang awam hampir semua sebab penyakit yang dirasakan adalah ghaib (tidak tampak secara inderawi). Tapi bagi orang tertentu itu bukan sesuatu yang ghaib. Yang ahli penyakit dalam, ahli mikroba, ahli saraf.. tanpa menunggu hasil laborat-pun tidak sedikit yang sudah bisa menyimpulkan penyebabnya. Hasil laboratorium untuk lebih memastikan akurasi perkiraannya.

Persoalannya, apakah hasil analisa itu mutlak dilarang untuk disampaikan kepada klien+keluarganya dan hanya cukup bagi terapis/dokternya saja?
Jawabannya, ini adalah boleh. Bisa disampaikan bisa juga tidak. Bisa disampaikan sebagian atau seluruhnya. Bukan mutlak larangan.
Jika ada keadaan yang berakibat negatif kepada klien karena disampaikan hasil diagnosa, maka itu adalah kasus yang memerlukan evaluasi di kasus itu terkait dengan cara atau momentumnya. Bukan terburu membuat sikap dan kesimpulan sebagai suatu yang terlarang untuk dilakukan.

Tanda-tanda gejala gangguan seperti 'Ain dan sihir banyak ditulis oleh para ulama yang juga terapis. Itu menunjukkan bahwa gangguan ghaib semacam itu bisa dianalisa. Pola umumnya bisa dibaca, disimpulkan, diklasifikasi hingga dijadikan kaidah. Baik secara umum dan secara khusus.

Hal ini bukanlah sesuatu yang mengherankan karena semua itu adalah makhluk ALLaah subhaanahu wa ta'aalaa yang tidak akan keluar dari sunnahNya, suatu hukum peristiwa yang tetap dan berulang-ulang. Dan jika ada perkembangan baru yang terjadi maka itu hanya berganti metode dan penamaan saja. Orang-orang yang tekun mengamati akan tetap bisa mengetahuinya, bi idzniLLaah.

Bahkan gangguan yang sebetulnya jauh lebih halus daripada penyakit-penyakit badan yaitu dalam bentuk penyesatan itupun jelas tanda-tandanya.

Maka, sekali lagi Tidak Ada Larangan Menyampaikan Hasil Diagnosa kepada orang yang diterapi baik dalam urusan Ruqyah maupun pengobatan lainnya. Yang perlu adalah Proporsional dan Kehati-hatian.


H. Riyadh Rosyadi