Sebaik-baik dari kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya (H.R. Bukhari)
Tampilkan postingan dengan label Seri Ramadhaniyah TQ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seri Ramadhaniyah TQ. Tampilkan semua postingan

Jumat

Seri Ramadhaniyah TQ: Makna Al-'Afwu

Al-'Afwu

Secara Terminologis

Al-‘afwu berasal dari akar kata  عفا، يعف، عفوا، العفوة
artinya, mema’afkannya, mengampuninya.

Al-‘afwu berarti juga “berlebihan”.



Secara Etimologis

Berarti mema’afakan atau memberi maaf pihak lain; 

juga dapat berarti menahan diri, menghapuskan dan menggurkan kesalahan pihak lain terhadap pada dirinya.



Secara terminologi berdasarkan ayat-ayat Alquran

Ada berberapa makna konotatif. Di antaranya:

1. Meninggalkan, menghapuskan atau mengabaikan;
QS. Al-Baqarah (2): 109; 178 dan 237.


وَدَّ کَثِيْرٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ  لَوْ يَرُدُّوْنَكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِكُمْ كُفَّارًا   ۚ  حَسَدًا مِّنْ عِنْدِ  اَنْفُسِهِمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَـقُّ  ۚ  فَاعْفُوْا  وَاصْفَحُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖ  ۗ  اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى کُلِّ شَيْءٍ  قَدِيْرٌ

"Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman, menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dalam diri mereka setelah kebenaran jelas bagi mereka. Maka maafkanlah dan berlapang dadalah sampai Allah memberikan perintah-Nya. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
[QS. Al-Baqarah (2): 109]


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى ۖ الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَىٰ بِالْأُنْثَىٰ ۚ فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ۗ ذَٰلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ ۗ فَمَنِ اعْتَدَىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih."
[QS. Al-Baqarah (2): 178]


وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ إِلَّا أَنْ يَعْفُونَ أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ ۚ وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۚ وَلَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

"Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika isteri-isterimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan."
[QS. Al-Baqarah (2): 237]


Meringankan atau memudahkan;
• Memperluas;
QS. Al-Baqarah (2) : 187

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

[QS. Al-Baqarah (2): 187]


• Kelebihan;
QS. Al-Baqarah (2) : 219

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا ۗ وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,

[QS. Al-Baqarah (2): 219]


• Menambah banyak
QS. Al-A'raf (7) : 95

ثُمَّ بَدَّلْنَا مَكَانَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ حَتَّىٰ عَفَوْا وَقَالُوا قَدْ مَسَّ آبَاءَنَا الضَّرَّاءُ وَالسَّرَّاءُ فَأَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka berkata: "Sesungguhnya nenek moyang kamipun telah merasai penderitaan dan kesenangan", maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan sekonyong-konyong sedang mereka tidak menyadarinya.
[QS. Al-A'raf (7): 95]


Kita berharap kpd ALLaah Al-'Afuwwu, memberikan kepada kita 'Afwa:

  1. Mengabaikan segala catatan buruk kita dan menghapuskannya.
  2. Memaafkan segala kesalahan-kesalahan itu dan mengampuninya.
  3. Meringankan proses hisab dan memudahkan jalan ke jannahNya.
  4. Meluaskan, melebihkan dan menambah banyak karuniaNya sehingga kita bisa meluaskan dan membaginya kepada siapapun pihak yang kita kehendaki dengan seizinNya.


Yaa ALLaah, jadikanlah itu semua setara dengan nilai 1000 bulan atau 83,4 tahun...



HR. Rosyadi


Seri Ramadhaniyah TQ: Lailatul Qadr 2

TERUS CARI SEBELUM MALAM RAMADHAN BERAKHIR


Nggak perlu ribet nebak-nebak Lailatul Qadr malam yang ke berapa yaa...? 

Kerahkan saja kemampuan terbaik untuk mendapatkannya di setiap malam. Pasti - dengan izin ALLaah - kita akan dapat malam (lailatul) qadr.

Kalau punya uang Rp 10 jt, Infaq saja 1 jt tiap malamnya... pasti - dengan izin ALLaah - akan dapat 30 ribu kali lipatnya alias Rp 30 milyar.

Mau lebih besar dari itu? Kalau punya Rp 100 jt, kenapa tidak sekalian saja.. tiap malam 10 jt, pasti - dengan izin ALLaah - akan dapat Rp 300 milyar...
Itu perhitungan angka-angka dunia...

عن أَبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ غَالِيَةٌ أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الْجَنَّةُ

Abu Hurairah radhiyaLLaahu ‘anhu meriwayatkan bahwa RasuluLLaah shallaLLaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “ingatlah sesungguhnya barang dagangan ALLaah itu mahal harganya dan ketauhilah bahwa sesungguhnya barang dagangan ALLaah itu adalah jannah”
(HR. Tirmidzi, shahih di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no 954 - oleh Al Albani).

Kita butuh modal banyak untuk bisa menebus jannah ALLaah..

Jika ada orang yang harus ke neraka dulu untuk dibersihkan sebelum akhirnya dimasukkan ke surga. Maka yang kita inginkan adalah "nilai" yang bisa menebus jannah-Nya dalam posisi kita terjauhkan sejauh-jauhnya dari neraka. Itu baru yang namanya sukses besar...

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah berhasil-beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang bisa menipu.
[QS. Ali Imran (3): 185]

Jika ada orang hidup selama 80 tahun dalam keadaan terus menerus beribadah, terampuni dari segala dosa dan terhapuskan segala jejak khilaf dan salah karena lalai atau sengaja, sungguh amat berbahagialah dia. Bagaimanakah jika hidup penuh kebaikan selama 83,4 tahun bisa kita dapatkan hanya di satu malam saja?

Mari.. jangan anggap diri kita sudah mendapatkannya, sebelum yakin malam Ramadhan ini berakhir.

Semoga kita yang mendapatkan keberuntungan dari ALLaah swt bisa melakukan kebaikan yang terbaik di salah satu malam yang kebaikannya digandakan 1000 bulan - 83,4 tahun.

Salinglah mendoakan agar kita semua mendapatkan malam itu dalam keadaan ibadah terbaik, dengan melafazhkan

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni

Ya ALLaah sesungguhnya Engkau adalah Al-Afuwwu yang menyukai 'afw, maka berilah aku 'afw..


HR. Rosyadi



Baca:
Makna Al-'Afwu

Kamis

Seri Ramadhaniyah TQ: Lailatul Qadr

Temukan di 10 Malam Terakhir


Malam qadr terdapat pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, sebagaimana hadits shahih dari Nabi shallaLLaahu ’alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

هِيَ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

(Lailatul qadr) itu di sepuluh malam terakhir dari Ramadhan.

Dan itu terdapat pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Persoalannya, ganjil itu patokannya bisa dari hari yang telah lewat (dari depan), maka ia dicari pada malam 21, 23, 25, 27 dan 29.
Dan bisa juga berpatokan kepada hari yang tersisa, sebagaimana Nabi shallaLLaahu ’alaihi wa sallam bersabda,

لِتَاسِعَةٍ تَبْقَى لِسَابِعَةٍ تَبْقَى لِخَامِسَةٍ تَبْقَى لِثَالِثَةٍ تَبْقَى

Pada sembilan malam yang tersisa, tujuh malam yang tersisa, lima malam yang tersisa, tiga malam yang tersisa.

Sehingga jika Ramadhan ada 30 hari maka lailatul qadr terdapat pada malam-malam genapnya, dan jadilah malam ke-22 sebagai sembilan hari yang tersisa dan malam ke-24 sebagai tujuh hari yang tersisa dan begitu selanjutnya, yaitu terletaknya lailatul qadr pada malam 22, 24, 26 dan 28.

Dan jika Ramadhan-nya 29 hari, maka hitungan malam ganjil dengan penanggalan sisa hari sama dengan perhitungan dari awal, yaitu tanggal 21, 23, 25, 27, 29.

Sedangkan hari terakhir Ramadhan belum diketahui secara ru`yah hilal (apakah 29 atau 30 hari) maka dengan demikian hendaknya kita berusaha untuk mendapatkan lailatul qadr pada sepuluh malam terakhir seluruhnya. Dan itu sesuai dengan anjuran Nabi,

تَحَرَّوْهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ

Temukan dia (lailatul qadr) pada sepuluh malam terakhir.



HR Rosyadi

Sabtu

Seri Ramadhaniyah TQ: Berbuka Dengan cara Nabi


Jika ada, Ruthab (kurma basah),
Jika tidak ada, Tamr (kurma kering),
Jika tidak ada, meneguk air bening (water)


Tentunya dengan tangan kanan, diawali Basmalah dan ditutup dengan doa berbuka puasa.


Doa Berbuka Puasa

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَال :

َ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

RasuuluLLaah ﷺ jika berbuka, beliau berdoa : 

Dhahabazh-dzama-u wab tallatil-‘uruuqu wa tsabbatal-ajru in syaa ALLaah

“Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat dan semoga ganjaran didapatkan, in syaa ALLaah”

(HR Abu Dawud 2010)


Setelah itu sholat. 

Baru kemudian makan makanan lainnya.

Sebelumnya jangan lupa berdoa dan juga mendoakan saudara-saudara muslim lainnya.



عَنْ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ 

Dari Anas bin Malik berkata; dahulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berbuka dengan beberapa ruthab (kurma yang belum masak) sebelum melakukan shalat, jika tidak dengan air maka dengan beberapa kurma, dan apabila tidak ada kurma maka beliau meneguk air beberapa kali.
(HR. Abu Dawud: 2009, At-Tirmidzi: 632, Ahmad: 12215)



H. Riyadh Rosyadi

Rabu

Seri Ramadhaniyah TQ: Waktu Sahur

DOA dan Mohon Ampunan di Waktu Sahur


الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

(mereka yang dimasukkan ke taman surga dan mendapat keridhoan ALLaah itu yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.
[QS. Al-Imron (3): 17]


وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan (yang dimasukkan ke dalam taman-taman surga itu yang dahulunya) selalu memohonkan ampunan diwaktu sahur.
[QS. Az-Zariyat (51): 18]


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia saat tersisa sepertiga malam yang terakhir. Lalu ALLaah berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.
(HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758). 

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan hadits di atas dengan berkata, “Do’a dan istighfar di waktu sahur mudah dikabulkan.” 
(Fath Al-Bari, 3: 32).


H. Riyadh Rosyadi

Selasa

Seri Ramadhaniyah: PAKET TAZKIYYAH

خَبِيْثُ النَّفْسِ vs طَيِّبُ النَّفْسِ
THOYYIBUN NAFS VS KHOBIITSUN NAFS


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ

Dari Abu Hurairah radhiyaLLaahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

"Syaitan mengikat tengkuk kepala seseorang dari kalian saat dia tidur dengan tiga tali ikatan dan syaitan mengikatkannya sedemikian rupa sehingga setiap ikatan diletakkan pada tempatnya lalu (dikatakan) kamu akan melewati malam yang sangat panjang maka tidurlah dengan nyenyak. 

Jika dia bangun dan mengingat ALLaah maka lepaslah satu tali ikatan.
Jika kemudian dia berwudhu' maka lepaslah tali yang lainnya dan,

Jika ia mendirikan shalat lepaslah seluruh tali ikatan sehingga pada pagi harinya ia akan aktif bersemangat yang baik jiwa (thoyyibun nafsi). 

Namun bila dia tidak melakukan seperti itu, maka pagi harinya menjadi buruk jiwa (khobiitsun nafsi) yang malas beraktifitas."

(HR. Bukhari: 1074, Muslim: 1295, Abu Dawud: 1111)




عَنْ عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ تَعَارَّ مِنْ اللَّيْلِ فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي أَوْ قَالَ ثُمَّ دَعَا اسْتُجِيبَ لَهُ فَإِنْ عَزَمَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى قُبِلَتْ صَلَاتُهُ قَالَ أَبُو
عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ

Dari Ubadah bin Shamit radhiyaLLaahu 'anhu dari Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barang siapa yang terjaga pada malam hari kemudian mengucapkan,

LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYARIIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA 'ALAA KULLI SYAI-IN QADIIR, WA SUBHAANALLAAH, WAL HAMDU LILLAAH, WA LAA ILAAHA ILLALLAAH WALLAAHU AKBAR WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH  

(Tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah semata, tak ada sekutu bagiNya, milikNya semua kerajaan dan bagiNya seluruh pujian dan Dia Maha Mampu melakukan segala sesuatu. Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar dan tak ada daya serta kekuatan kecuali dgn pertolongan Allah)

Kemudian mengucapkan,
RABBIGHFIRLII
(Ampunilah aku, Ya Robb) 

atau beliau mengatakan: kemudian berdoa, maka doanya dikabulkan. 

Apabila ia bertekad untuk wudhu kemudian melakukan shalat maka shalatnya diterima."

Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan shahih gharib.
(HR At-Tirmidzi no 3336)




PAKET RAMADHAN
Semoga membentuk Nafs kita menjadi Thoyyib dan menghilangkan segala unsur khobiits-nya.

1. Bangun tidur dengan dzikruLLaah
2. Berwudhu
3. Santap sahur
3. Sholat dua rokaat atau lebih, perbanyak istighfar dan berdoa (sebelum atau sesudah waktu sahur)
4. Sholat Shubuh dengan sholat sunnah dua rokaat sebelumnya
5. Sholat Isyroq
_____


ٱللّٰهُمَّ آتِ أَنْفُسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَّكِّهَا فَأَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

ALLaahumma aati anfusanaa taqwaahaa, wa zakkihaa fa Anta khoiru man zakkaahaa, Anta waliyyuhaa wa mawlaahaa.

Ya ALLaah berikan kepada jiwa kami ketaqwaannya, bersihkanlah jiwa kami dan Engkaulah yang mampu membersihkan dengan sebaik-baiknya. Engkaulah pelindung jiwa dan Engkaulah penguasanya.



H. Riyadh Rosyadi

Seri Ramadhaniyah TQ: Adab di hari Jumat

ADAB-ADAB DI HARI JUM’AT


1. Banyak berdo’a dan taqorrub diri kepada ALLaah ﷻ.
Hari Jum’at ada waktu yang mustajab (dikabulkannya do’a).

Dari Abu Hurairah RadhiyaLLaahu 'anhu bahwa RasuluLLaah ﷺ membicarakan perihal hari Jum'at. Beliau bersabda,

 فِيْهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا.

Di dalamnya (hari Jum’at) ada satu waktu yang bila seorang hamba muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada ALLaaah ta'aalaa, niscaya permintaannya akan dikabulkan.’ Dan beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu yang dimaksud itu.
(HR. Al-Bukhari no. 833 dan Muslim no. 1406)

Dari Jabir bin ‘AbdiLLaah RadhiyaLLahu 'anhu, dari Nabi ShallaLLaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau ﷺ bersabda,

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوْجَدُ فِيْهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوْهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ.

Hari Jum’at itu dua belas jam. Tidak ada seorangpun hamba muslim yang memohon sesuatu kepada ALLaaah ﷻ di waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh ALLaah ﷻ. Maka carilah di akhir waktu tersebut, yaitu setelah ‘Ashar.
(HR. Abu Dawud no. 1048, an-Nasa-i dalam Sunannya III/99-100 dan al-Hakim dalam al-Mustadrak I/279)



2. Memperbanyak sholawat kepada Nabi ﷺ.

Dari Anas RadhiyaLLaahu 'anhu, RasuluLLaah  ﷺ bersabda,

أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْراً

Perbanyaklah oleh kalian shalawat kepadaku pada hari Jum’at dan malam Jum’at karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali niscaya ALLaah ﷻ bershalawat kepadanya sepuluh kali.
(HR. Al-Baihaqi III/249 sanadnya hasan. Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 1407)



3. Membaca surat al-Kahfi

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ.

Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at akan diberikan cahaya baginya di antara dua Jum’at.
(HR. Al-Hakim II/368 dan al-Baihaqi III/249. Shahih, Irwaa-ul Ghaliil no. 626)


4. Mandi besar, memakai wangi-wangian, dan memakai pakaian yang terbagus.

لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيْبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ اْلإِمَامُ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى.

Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, dan bersuci semampunya, berminyak dengan minyak, atau mengoleskan minyak wangi dari rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan shalat yang sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan (dengan seksama) ketika imam berkhutbah melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara Jum’at tersebut dan ke Jum’at berikutnya.
(HR. Al-Bukhari no. 883)



5. Bersegera datang lebih awal pada shalat Jum’at.

مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً.

Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at seperti mandi janabah lalu segera pergi ke masjid, maka seakan-akan berkurban dengan unta yang gemuk.
(HR. Al-Bukhari no. 881, Muslim no. 850, Abu Dawud no. 351, at-Tirmidzi no. 499)



6. Mengerjakan sholat sunnah empat raka’at setelah selesai sholat Jum’at,

إِذَا صَلَّيْتُمْ بَعْدَ الْجُمُعَةِ فَصَلُّوْا أَرْبَعًا

Apabila kalian telah selesai mengerjakan shalat Jum’at maka shalat (sunnah) lah empat raka’at.
(HR. Muslim no. 88)


Catatan,

1. Mengerjakan shalat sunnah empat roka’at tersebut setelah selesai berdzikir.
(HR. Muslim no. 883).

2. Dikerjakan empat roka'at semuanya setelah keluar dari masjid atau dua raka’at dulu di masjid lalu ditambah dua raka’at lagi dikerjakan di rumah.
(HR. Muslim no. 881, 833 dan Ibnu Majah no. 1127).


H. Riyadh Rosyadi


ِ

Seri Ramadhaniyah TQ: Yuk, Perbanyak Khatam Al-Quran

Contoh-Contoh Memperbanyak Khatam Quran Dari Para Imam



1. Abu Hanifah

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa Abu Hanifah termasuk pada golongan tabi`in, karena telah bertemu dengan sahabat Anas bin Malik. Banyak riwayat yang menegaskan bahwa beliau adalah ulama yang ahli ibadah.

Yahya bin Ayub, ahli zuhud yang semasa dengan beliau mengatakan:

"Tidak ada seorangpun yang datang ke Makkah, pada zaman ini lebih banyak shalatnya dibanding dengan Abu Hanifah."

Karena itu, beliau dijuluki Al Watad (tiang) karena banyak shalat (Tahdzib Al Asma, 2/220).

Lalu, bagaimana amalan ulama ahli ibadah ini dalam bulan Ramadhan?

Orang yang melakukan shalat fajar dengan wudhu isya selama 40 tahun ini mengkhatamkan Al-Quran 2 kali dalam sehari di bulan Ramadhan, pada waktu siang sekali, dan pada waktu malam sekali.
(Manaqib Imam Abu Hanifah, 1/241-242).

Bahkan disebutkan oleh Imam Al Kardari bahwa Abu Hanifah termasuk 4 tokoh yang bisa mengkhatamkan Alquran dalam 2 rakaat, mereka adalah Utsman bin Affan, Tamim Ad Dari, Said bin Jubair, serta Abu Hanifah sendiri.



2. Imam Malik rahimahullah

Apabila telah datang bulan Ramadhan, ia menghentikan membaca hadits dan majelis ilmu dan mengkhususkan diri membaca Al-Quran dari mushhaf.



3. Imam Syafi’i (204 H)

Beliau selama bulan Ramadhan biasa menghatamkan Al Qur’an dua kali dalam semalam, dan itu dikerjakan di dalam shalat, sehingga dalam bulan Ramadhan beliau mengkhatamkan Al-Quran enam puluh kali dalam sebulan.
(Tahdzib Al Asma’ wa Al Lughat, 1/ 45)


__________

A'uudzu biLLaahi minasy syaithaanir rajiim

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa yang mentaati ALLaah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh ALLaah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
[QS. An-Nisa (4): 69]


H. Riyadh Rosyadi

Seri Ramadhaniyah TQ: Mujahadah Ba'da Subuh

Pahala Setara Haji dan Umroh Sempurna



Dari Abu Umamah, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ صَلَّى صَلاةَ الصُّبْحِ فِي مَسْجِدِ جَمَاعَةً يَثْبُتُ فِيهِ حَتَّى يُصَلِّيَ سُبْحَةَ الضُّحَى، كَانَ كَأَجْرِ حَاجٍّ، أَوْ مُعْتَمِرٍ تَامًّا حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ

Barangsiapa yang mengerjakan shalat shubuh dengan berjama’ah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan shalat sunnah Dhuha, maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumroh secara sempurna.”
(HR. Thobroni, Shahih Targhib: 469)



Dari Anas bin Malik, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ.
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada ALLaah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” 
Anas berkata, Beliau ﷺ bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.”
(HR at-Tirmidzi no. 586, dinyatakan Hasan)


Secara teknisnya,
1. Sholat subuh berjamaah di masjid
2. Duduk berdzikir/membaca al-Quran
3. Tidak bicarakan urusan dunia,
4. Hingga matahari terbit (waktunya sekitar 90 menit setelah waktu adzan subuh atau 10-15 menit setelah waktu Thulu'/terbit matahari)
5. Sholat sunnah 2 rokaat, istilah ibnu Abbas namanya sholat sunnah Isyroq (matahari mulai terbit di Timur).
6. Untuk Muslimah, sebagian ulama membolehkan melakukannya di rumah.

Semoga ALLaah swt memudahkan kita semua dlm melaksanakannya.

اللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلٰى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

ALLaahmma a'innaa 'alaa dzikriKa wa syukriKa wa husni 'ibaadatiKa

Ya ALLaah bantulah kami mengingatMu, bersyukur dan beribadah dengan se-baik²nya (ihsan) kepada Engkau. (HR. Abu Daud dan Ahmad)


H. Riyadh Rosyadi

Senin

Seri Ramadhaniyah TQ: Dua Pemberi Syafa'at

Shaum dan Al-Quran Pemberi Syafa'at


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

Dari AbdullLLaah bin 'Amru, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Shiyam dan Al Qur'an kelak pada hari kiamat akan memberi syafa'at kepada seorang hamba.

Shiyam berkata: Duhai Rabb, aku telah menahannya dari makanan dan nafsu syahwat di siang hari, maka izinkahlah aku memberi syafa'at kepadanya.

Dan Al Qur'an berkata: aku telah menahannya dari tidur di malam hari, maka izinkanlah aku memberi syafa'at kepadanya. Beliau melanjutkan sabdanya: maka mereka berdua (Shiyam dan Al Qur'an) pun akhirnya memberi syafa'at kepadanya."

(HR. Ahmad, Al-Hakim, At-Tirmidzi, - Shohih Targhib wa Tarhib)



Keduanya berkumpul di bulan Ramadhan [Al-Baqoroh (2): 183-185].


يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"


اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍ ۗ  فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ  وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍ ۗ  فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ  وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّـکُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

"(yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."


شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ ۚ  فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَـصُمْهُ ۗ  وَمَنْ کَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ  يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ  ۖ   وَلِتُکْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ وَلَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ

"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur."


Marilah perbagus Shiyam dan Quran kita..

Jadikan kita pantas mendapatkan syafa'at dari keduanya.

 رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا..
Robbanaa taqobbal minnaa
Wahai Robb kami terimalah dari kami (dari shiyam dan quran kami)..


H. Riyadh Rosyadi

Seri Ramadhaniyah TQ: Waktu Mustajab

TIGA WAKTU TERKABULNYA DO’A DI BULAN RAMADHAN


1. Waktu Sahur

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia saat tersisa sepertiga malam yang terakhir. Lalu ALLaah berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.”
(HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758).

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan hadits di atas dengan berkata, “Do’a dan istighfar di waktu sahur mudah dikabulkan.”
(Fath Al-Bari, 3: 32).


2. Saat Sedang Berpuasa

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizalimi.” 
(HR. Ahmad 2: 305. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shahih)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan orang yang berpuasa untuk memperbanyak do’a demi urusan akhirat dan dunianya, juga ia boleh berdo’a untuk hajat yang ia inginkan, begitu pula jangan lupakan do’a kebaikan untuk kaum muslimin secara umum.”
(Al-Majmu’, 6: 273)


3. Ketika Berbuka Puasa

Nabi ﷺ bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak:
Pemimpin yang adil, Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, Do’a orang yang terzalimi.” 
(HR. Tirmidzi no. 2526, 3598 dan Ibnu Majah no. 1752. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Mengapa do’a itu mudah dikabulkan ketika berbuka puasa yaitu karena saat itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.
(Tuhfah Al-Ahwadzi 7: 278)



A'uudzubiLLaahi minasy syaithaanir rajiim

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
[QS. Al-Baqoroh (2): 186]



H. Riyadh Rosyadi

Seri Ramadhaniyah TQ: Peraturan Group

Peraturan Group TQ Selama Ramadhan


BismiLLaahir rahmaanir rahiim

Assalaamu'alaikum wrwb.

Seri Ramadhaniyah TQ ini dibuat untuk membantu mengawal program Ramadhaniyyah (ke-Ramadhan-an) di group TQ masing-masing.

Kita berharap kepada ALLaah swt dengan pengawalan ini bisa ikut membantu diri kita sendiri dan semua anggota group-nya untuk terus terpacu meraih keutamaan-keutamaan Ramadhan dengan jiddiyyah dan mujahadah (ber-sungguh-sungguh dan berjuang) dalam rangka:

- Tazkiyyah (pembersihan),
- Taqwiyyah (penguatan),
- Himaayah (perlindungan),
- Mu'aalajah Dazatiyyah (terapi diri).
___

1. Penting di-awal-awal untuk mengingatkan Peraturan Khusus Ramadhan.

2. Yang digabungkan di sini sebagai Admin sekaligus petugas khusus (dan boleh menunjuk rekan lain sebagai petugas khusus)

3. Petugas Khusus, bertugas mengingatkan hal-hak yang terkait dengan keutaman-keutamaan amal-amal tertentu di Ramadhan. Baik itu ayat Al-Quran, Hadits maupun berupa ucapan salafush shalih, para ulama, kisah-kisah tauladan (khususnya terkait Ramadhan).

4. Hadits-hadits hingga kisah-kisah itu agar disertai sumber periwayatannya yang jelas.

5. Jika mendapatkan hal-hal yang bisa di-postingkan di group masing-masing maka harap di sampaikan di group ini dulu.

6. Postingan (Reminder) Admin/petugas khusus di group masing-masing tidak dibatasi oleh waktu-waktu yang ada di Peraturan Khusus.

7. Reminder diposting pada jam-jam yang sangat dibutuhkan untuk mengingatkan, contoh:
* Keutamaan-keutamaan sahur (sebelum sahur),
* Keutamaan-keutamaan tilawah Al-Quran, berdoa, berdzikir, bersholawat (menjelang subuh, dzhuhur, ashar, maghrib, isya)
* Khusus keutamaan tarawih disampaikan sebelum maghrib dan sebelum Isya.
* Keutamaan ifthar (berbuka puasa) disampaikan sesudah ashar - sebelum maghrib.
* Keutamaan amal-amal sunnah lainnya seperti, shloat dhuha, shodaqoh, serta adab-adab shoum (boleh disampaikan menyesuaikan waktunya).

8. Setiap menyampaikan reminder, selalu ditulis awalnya dengan:

REMINDER (tidak untuk dikomentari/dibahas)

9. Dan untuk optimalnya program Ramadhaniyyah, silakan saling berbagi di sini,
* masukan-masukan lainnya,
* materi-materi yang bisa diposting di group masing-masing,
* dan lain-lain yang dibutuhkan.

Wassalaamu'alaikum wrwb.


H. Riyadh Rosyadi

Kamis

Seri Tanya Jawab TQ Ramadhan



Pertanyaan:

Mohon penjelasan ustadz. Mengapa kalau syaitan dibelenggu kok masih ada reaksi jin pengganggu yang bermunculan saat ruqyahan di bulan ramadhan. Bahkan kiriman sihir masih bisa bekerja berulang kali ?



Jawaban:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا كَانَتْ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَنَادَى مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلِكَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: "Jika tiba waktu awal malam di bulan ramadhan maka syaitan-syaitan dan para jin pembangkang dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada yang dibuka. Pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada yang ditutup, lalu ada penyeru yang berseru, Wahai pencari kebaikan, sambutlah... Wahai pencari keburukan, kurangilah. Sesungguhnya ALLaah memiliki (daftar) mereka yang dibebaskan dari neraka, dan itu ada pada setiap malam(nya)."

(HR. Ibnu Majah - No: 1632 dan At-Tirmidzi - No: 618. Shahih)


Sebagaimana penjelasan tentang hadits di atas, bahwa yang dibelenggu itu ada para Aktor Intelktualnya atau pimpinan-pimpinan besarnya.

Sementara pekerja-pekerja/petugas-petugas lainnya masih bebas walaupun tidak sekuat saat di luar ramadhan.


Dalam fatwa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

وقد ذهب بعض أهل العلم إلى أن الذين يصفدون من الشياطين مردتهم، فعلى هذا فقد تقع المعصية بوسوسة من لم يصفد من الشياطين

Sebagian ulama berpendapat bahwa setan yang dibelenggu hanyalah setan kelas kakap. Berdasarkan pendapat ini, adanya maksiat, disebabkan bisikan setan yang belum dibelenggu. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 40990).


Jika kita (yang menterapinya dan yang diterapinya) melaksanakan sebaik-baiknya amaliah Ramadhan, maka in syaaALLaah prosesnya akan lebih dipermudah.

Dan bisa dicoba dengan diawali membacakan hadits di atas atau redaksi lain yang sejenis dengan hadits itu. Ulang-ulangi terutama kalimat:

Shuffidatisy syayaathiin wa marodatul jinn.


H. Riyadh Rosyadi





Baca tulisan terkait lainnya:
Terapi Quran di bulan Ramadhan


Seri Ramadhaniyah TQ: Taujih Nabi Menyambut Ramadhan

Taujih Nabi ﷺ Menyambut Ramadhan

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا كَانَتْ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَنَادَى مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلِكَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: "Jika tiba waktu awal malam di bulan ramadhan maka syaitan-syaitan dan para jin pembangkang dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada yang dibuka. Pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada yang ditutup, lalu ada penyeru yang berseru, Wahai pencari kebaikan, sambutlah... Wahai pencari keburukan, kurangilah. Sesungguhnya ALLaah memiliki (daftar) mereka yang dibebaskan dari neraka, dan itu ada pada setiap malam(nya)."

(HR. Ibnu Majah - No: 1632 dan At-Tirmidzi - No: 618. Shahih)


Syayaathiin - الشَّيَاطِيْنُ adalah syaitan-syaitan, jamak dari syaitan.

Marodatul jin - مَرَدَةُ الْجِنِّ  adalah jin-jin besar yang memiliki pengaruh luas dan pembangkang terhadap kebenaran dan menjadi pengikut utama syaitan.

Mereka tidak disebut langsung sebagai bagian syaitan-syaitan.

Tampak dibedakan penyebutannya.

Yang jelas, mereka itu adalah para Aktor Intelektualnya.



Adapun para mandor dan petugas-petugas lapangan masih bebas bekerja walaupun tidak seleluasa di bulan lainnya.

Dan karena keadaan Ramadhan adalah sesuatu yang rutin setiap tahunnya akan dialami oleh pimpinan-pimpinan mereka selama satu bulan, maka mereka menyiapkan program terbaiknya di sebelas bulan sebelumnya.

Agar saat Ramadhan datang, mereka sudah menyusupkan ke dalam diri "targetnya" agar tetap bisa mengganggu.

Targetnya agar para pelaksana ibadah Ramadhan tidak bisa maksimal meraih segala keistimewaan yang sebetulnya sangat dimudahkan itu.

Targetnya adalah saat keluar dari Ramadhan masih tetap mudah mengganggu karena bekal ramadhan yang tidak efektif membekas ke jiwa.


Persiapan jelang Ramadhan adalah PERBANYAK TAZKIYYAH. 

PASTIKAN segala kotoran yang berada di dalam diri kita yang juga merupakan jejak syaitan MAKSIMAL TERBERSIHKAN.

...


H. Riyadh Rosyadi