Sebaik-baik dari kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya (H.R. Bukhari)

Selasa

Point Kunci Dalam Proses Terapi

POINT-POINT KUNCI DALAM PROSES TERAPI APAPUN
Baik Terapi Haq Maupun Batil



A. PRAKTISI - PELAKU

Praktisi atau pelaku dalam proses terapi perlu memiliki:
  1. Kekuatan kepahaman dan kesadaran
    • yang berasal dari Ilmu dan keyakinan
  2. Kekuatan energi
    • Jiwa
  3. Kekuatan Pancar
    • Mata dan atau lidah/ucapan

B. OBYEK SARAN
Menjadi lebih efektif, ketika ada:
1. Kekuatan keyakinan
  • Membenarkan
2. Kekuatan kebutuhan
  •     Mencari dan memilih
3. Kekuatan penerimaan/kemauan
  •     Membuka diri dan patuh menghilangkan semua faktor penghalang


C. AKTIF DAN EFEKTIF
Keduanya menjadi aktif dan efektif ketika ada:
1. Kekuatan Konten yang dipakai
  • Sumbernya HAQ ataukah BATIL
2. Kekuatan Penghubung yang menyambungkan
  • Kontak: lahiriah/jiwa, komunikasi
  • Media: yang dimakan, diminum, dilihat, didengar, difikirkan/dibayangkan, disentuhkan, menimbulkan segala goncangan perasaan-emotion, dan sebagainya).
3. Waktu dan atau Tempat yang tepat dan sesuai.


________________________



Contoh Penerapan Untuk Terapi Batil

Misalnya HYPNO (sis, tis, ....... aplikasi hypno lainnya)

A. PRAKTISI 
Diperlukan:
1. Kepahaman dan yakin tentang Hypno. 
Maka ada penyebaran ajarannya, penjelasan-penjelasan (yang seolah itu ilmiah), penguatan-pemguatan oleh orang-orang yang bergelar, terpelajar, testimoni, dan seterusnya. Termasuk ketika akhirnya diikuti oleh kalangan agamis maka semakin kuatlah keyakinan itu.
2. Energi jiwa yang kotor dan jahat (khobits/syarr). 
Hal itu bisa didapat melalui jalur wirotsah (nasab), meditasi, konsumsi haram, dan amalan kasab lainnya. Jika pelakunya muslim, taat dalam ibadah dan paham ilmu agama maka energi itu biasanya didapat secara nasab dan atau kasab masa lalunya. Biasanya dari sana. 
Dan jiwa-jiwa yang bekerja di situ hakikatnya adalah sekutu syaitan. Jiwa-jiwa yang sudah bertransaksi ilmu batil itu (sesuai jenjang kadernya) bisa menggerakkan/memerintahkan makhluk-makhluk pekerja sesuai sanad hypno-nya untuk menjalankan tugasnya.
Janganlah remehkan Nasab-Kasab,  itu juga yang bisa menjadi energi 'Ain bagi seseorang.
3. Pancaran hypno melalui dua hal yang dengannya energi jiwa (khobit-syarr) itu keluar, yaitu mata dan lisan. 
Jika secara nasab-kasab juga sudah tersedia dan bertempat di mata dan atau lidah maka itu semakin melengkapi kekuatan pancarnya. Contoh jin-jin yang masuk dari kasab latihan ketajaman mata dan ajaran filsafat.


B. UNSUR OBYEK SASARAN

Jika sudah terkondisi dengan 2 hal (yakin dan butuh). 

Kadang yakin itu tidak perlu lagi jika kondisi 2 (kebutuhan dan harapan untuk sembuh itu sudah sangat besar) maka sangat mudah dimasuki. Tinggal membuka gerbangnya saja, yaitu keadaan trance

Jika power praktisinya sangat kuat dan syarat 1 dan 2 terpenuhi maka obyek dalam keadaan "light trance" sudah cukup masuk pengaruh hypno (kondisinya seperti sadar, mata terbuka).

Jika power praktisinya biasa saja maka keadaan 3 harus dikondisikan sedalam mungkin, misalnya diajari pejamkan mata, mengikuti instruksi-intruksi lainnya seperti "tarik nafas" (memberi jalan kepada jin yang mau masuk), perintah membayangkan dan seterusnya.. hingga tercapai kondisi trance yang diharapkan. Trance seperti ini disebut "deep trance" atau "very deep trance".


C. KONTEN dan PENGHUBUNG
Konten
Perhatikan asal usul dan sejarah Hypno. Kekuatan kata-kata yang bisa mempengaruhi tindakkan maka itu perlu ditelusuri sumbernya. Karena mereka bersanad. Dan sanad itu dalam hal ini tersambung kepada sumber energi induk yang sebenarnya.

Penghubung
Jika terkait dengan kasus terapi maka penghubungnya adalah
  1. Kontak dan komunikasi langsung berhadapan atau lewat media telekominikasi, dan sebagainya.
  2. Jika di obyek/klien itu ada makhluk lain di dlm dirinya yg serumpun atau bisa tunduk mentaati kekuatan makhluk yang ada di praktisi maka itu mempercepat proses pengaruh hypno tersebut.

Waktunya bisa kapanpun yang mereka sepakati, walaupun kadang dipilih oleh praktisinya sesuai dengan "bawaan jin yang menjadi sumber powernya".

Tempat secara umum yang kondusif, hening untuk bisa lebih konsentrasi.

Bagi praktisi yang kuat power serta berpengalaman dan kondisi obyek sudah full dengan 3 keadaan, maka tentang tempat tidak lagi menjadi masalah. Di keramaianpun bisa.

Maka, "mendapatkan" obyek sasaran bisa memiliki ketiga kondisi itu menjadi suatu yamg penting. Jika sudah tersedia semua itu adalah sasaran yang sangat tepat. Kalau belum, maka dibuat pra kondisi untuk mengarah ke ketiga kondisi itu.

__________________________________



Penerapan dalam Terapi Quran

A. Praktisi-pelaku TQ
1. Ilmu yang terus ditambah 
Sehingga paham dan keyakinan mendalam dan teguh tidak mudah goyah. Dari sumber yang HAQ, Al-Quran dan Hadits, penjelasan ulama, tajribah (praktek) yang terus menerus, evaluasi dan perbaikan.
2. Jiwa, harus terisi dengan kekokohan
  • Spiritual : ibadah, dzikr
  • Moral: akhlaq mahmudah (terpuji) dalam segala aspek termasuk halal-haram
  • Mental: stabilitas emosional
3. Kekuatan pancar
Mata dan Lisan yang terjaga dari segala yang haram/syubhat serta diarahkan kepada yang halal/disukai secara syari'at.

B. Obyek Sasaran yang diterapi. 
Upayakan untuk mendapatkan ketiga hal tersebut:
  1. Dipahamkan hingga yakin tentang hakikat sakit, kesembuhan dan pengobatan.
  2. Diarahkan sehingga hanya memilih segala hal yang dibolehkan syariat dari apapun bentuk dan teknis terapinya.
  3. Disadarkan sehingga siap menjalani proses dengan ikhlas, berharap diridhai ALLaah swt serta bersemangat menghilangkan faktor penghalang dengan taubat (jika perbuatan) dan memusnahkannya jika barang.

C. Menggunakan kekuatan HAQ untuk mengaktifkan proses terapi.
  1. Pastikan bahwa yang dipakai semuanya memenuhi kaidah syar'iyyah di dalam terapi:
    • Dengan Kalam ALLaah atau Asma dan sifat-Nya.
    • Dengan bahasa arab atau selainnya yang dipahami maknanya (sesuai syariat)
    • Meyakini bahwa bukan bacaannya/tulisannya itu yang berefek tetapi ALLaah swt yang memberikan efeknya.
  2. Capai Keterhubungan dengan Obyek yang diterapi
    • Keterhubungan terkait dengan:
    • Aspek paham: misal, sama-sama paham melakukannya dalam rangka mendakwahi.
    • Aspek jiwa: rasa cinta dan iba, rahmah, islah. Sebaiknya bukan karena marah, benci, memusuhi (walaupun itupun bisa).
    • Memakai sarana penghubung seperti air atau herbal yang sesuai yang sudah dibacakan, memakai aroma atau uap yang dihirup (yang sudah dibacakan)
    • Menstabilkan kembali jiwa yang pernah terguncang dan merubahnya menjadi tenang dengan mengingat ALLaah swt.
  3. Secara waktu, kapanpun baik
  • Tetapi lebih baik dapatkan waktu-waktu utama yang semua itu adalah waktu-waktu mustajabah doa. Misalnya saat hari Tasyriq kemarin dengan kalimat Takbir-tahlil sebagaimana takbiran, itu cukup efektif.
  • Juga lakukan di tempat yang baik: hindari dekat lokasi pasar atau lokasi tempat-tempat pemujaan/kekufuran.
  • Di masjid atau tempat yang biasa dipakai untuk ibadah adalah lebih baik. Minimal tempat yang sudah terbersihkan dari segala unsur yang tidak disukai agama yang itu menjadi berpotensi ditempati jin pengganggu.


H. Riyadh Rosyadi

Rabu

PERSOALAN INTINYA ADALAH NAFS bukan JIN

Terkait antara JIN yang masuk dan unsur SUKMA/NAFS yang lepas


Bagi yang sering meruqyah, bisa dipraktekkan..

Jika ditakdirkan reaksi jin-nya aktif, ekspresif, bicara-dialog..

Setelah urusan dakwahnya selesai (ALLaah swt izinkan berIslam), kemudian bacakan lagi untuk menguat/menambahkan imannya:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ   

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal,"
[QS. Al-Anfal (8): Ayat 2]


Sekaligus sekedar mengujinya..
setelah "yakin" mantap,
sebelum keluar agar ditanya:
• Sejak kapan?
• Selama ini bertempat di posisi mana?
• Apakah ruang itu kosong / berongga?
• Unsur sukma/nafs yang menempati posisi itu ke mana / ada di mana?

Baik jin wirotsah/nasab, kasab (ilmu-ilmu batil yang dipelajari, pengobatan yang tidak syar'i yang pernah dijalani), maupun sihir, biasanya menempati jawf (rongga) yang kosong yang memang tersedia atau ditinggalkan unsur sukma/nafs-nya yang terlepas.

Tidak setiap jin yang sudah keluar dari tubuh seseorang, otomatis unsur sukma/nafs-nya kembali ke asal ruangnya. Kadang masih tertahan di suatu tempat.

Keberadaan mereka (para jin) di sana secara mapan karena memang tersedia tempatnya.

• Ketika sukma/nafs terlepas di salah satu bagian fungsi tubuh maka emisi energi (dalam TCM disebut dengan Qi/Chi) di tubuh tersebut hilang, maka tubuh terasa menjadi dingin.
Kemungkinannya akan terjadi penurunan fungsi tubuh secara cepat atau bertahap, dan selain itu rongga itu berpotensi ditempati makhluk lain, yaitu jin.

• Dan ketika jin (yang tercipta dari api) itu masuk atau muncul sifat aslinya maka terjadi peningkatan emisi energi lebih dari seharusnya. Maka tubuh terasa menjadi panas.

**beberapa kasus kemasukan jin jenis tertentu kondisinya menjadi sangat dingin.



Solusi

Keadaan dingin-panas yang tidak fitrah ini bisa diimbangi dengan:

asupan herbal (nabati-hewani) unsur panas-dingin yang sesuai untuk organnya,
dan atau disertai stimulasi,

• dengan pembukaan melalui cup hijamah serta torehannya (sesuaikan keadaan dingin-panasnya) atau

• dengan tekanan/stimulasi pada titik-titik meridian tertentu baik jalur "accu" maupun "refleksiologi" untuk membuka jalurnya dan memberikan keseimbangan.


Jika stadium kemapanan jin itu baru atau melemah dan asupan dan stimulasi tadi tepat mengenai sasaran maka akan hilanglah gangguan penyakit itu dengan izin ALLaah  (فَإذا أُصِيْبَ دَوَاء الدَّاء برئ بإذن الله).

Jika stadium kemapanan jin itu sudah lama dan tambah menguat di organ tertentu (keadaan kronis), maka biasanya akan menguasai dan memiliki lapisan-laposan barikade yang tidak mudah ditembus dengan perlakuan material di atas (asupan dan stimulasi).

Idealnya, semua terapi menyertakan AL-QURAN yang sudah jelas terjamin SYIFA` dan DO'A sebagai terapi inti dan menyertakan pendamping terapi lainnya yang halal sesuai dengan permasalahannya.

=================

Terminologi yang lain dengan maksud yang sama adalah menggunakan istilah RUH..

sbagaimana Syaikh Muhammad Abu Bakr Ayyub (Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah) dan syaikh Al-Imam 'Izzuddien Abdussalaam menyebutnya lebih spesifik dengan RUH.

Ada ruh yaqzhah (bangun/sadar) dan ruh hayat (bahasa kita: nyawa).

Ada yang tersebar di seluruh anggota badan (gerak), ruh untuk melihat, ruh untuk mendengar, dst..

Ada juga ruh bukan fungsi fisik., ruh untuk ketaatan, ruh keikhlasan, ruh mahabbah, dst..

Sementara ini saya menggunakan istilah NAFS, mengikut QS. 39:42 dan Doa tidur in amskta nafsiy farhamhaa wa in arsaltahaa fahfazh-haa.


اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الْاَنْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَالَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَامِهَا   ۚ  فَيُمْسِكُ الَّتِيْ قَضٰى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَ يُرْسِلُ الْاُخْرٰٓى اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى   ۗ  اِنَّ فِيْ ذٰ لِكَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

"Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir."
[QS. Az-Zumar (39): 42]


Lebih detailnya bisa disimak di
http://shamela.ws/browse.php/book-9823/page-644

وكذا الروح التي يلقيها على من يشاء من عباده غير الروح التي في البدن.
قال: وأما القوى التي في البدن فإنها تسمى أيضاً أرواحاً فيقال: الروح الباصر، والروح السامع، والروح الشاهد، فهذه الأرواح قوى موزعة في البدن، وتطلق الروح على أخص من هذا كله، وهي قوة المعرفة بالله والإنابة إليه ومحبته، وانبعاث الهمة إلى طلبه وإرادته، ونسبة هذه إلى الروح كنسبة الروح إلى البدن، فإذا فقدتها الروح كانت بمنزلة البدن إذا فقد روحه، وهي الروح التي يؤيدها أهل ولايته وطاعته، ولهذا يقول الناس: فلان فيه روح، وفلان ما فيه روح قصبة فارغة فالعمل روح، وللأجساد روح، وللإخلاص روح، وللمحبة روح، وللتوكل روح، والناس متفاوتون في هذه الأرواح أعظم تفاوت، فمنهم من تغلب هذه الأرواح عليه فيصير روحانياً، ومنهم من يفقدها، أو أكثرها فيصير أرضياً والله المستعان (1) .
(1) انظر: الروح لابن القيم (1/219 - 220) .

WaLLaahu a'lam bish-showaab.


H. Riyadh Rosyadi

Memahami Ghaibnya Makhluq


Ada yang menganggap bahwa ketika kita membahas keberadaan makhluk ghaib itu sama sekali tidak boleh menggali segala hal yang di luar konteks dalil naqli Al-Quran dan sunnah, serta sama sekali tidak boleh dengan penalaran akal.

Yang masuk dalam ranah Rukun Iman secara mutlak ada 6 perkara: (ALLaah, Malaikat-Malaikat Nya, Kitab-Kitab Nya, Rasul-Rasul Nya, Hari Akhir, Qodho-Qodar)

ALLaah swt Yang Maha Ghaib dan mutlak sifat ke-ghaiban-nya memberikan tanda-tanda keberadaanNya dan menerangkan sifat-sifatNya. Itu kita berhenti sampai di situ.

Malaikat sebagai makhluk ghaib, demikian dengan surga-neraka yang termasuk ghaib harus diimani, semuanya masuk dalam Rukun Iman.

Sementara meyakini adanya jin adalah juga wajib diimani keberadaannya dan itu sebagai bagian dari keimanan kepada ALLaah swt dan RasulNya yang telah menyebutkannya.

Perbedaannya, Jin yang keberadaannya diimani itu tidak masuk dalam Rukun yang enam.

Jika Al-Khaliq Yang Maha Menciptakan segalanya menyebutkan tanda-tanda keberadaanNya secara naqli dan 'aqli, maka apalagi ghaibnya makhluk, pasti ada tanda-tandanya.. Dan ALLaah swt menyebutkannya.

Sehingga boleh dan sah memadukan antara tanda-tanda naqliyah dan tanda-tanda 'aqliyah terhadap keberadaan makhluq.

Untuk tanda-tanda naqliyah didapat dengan keimanan-keyakinan.
Untuk tanda-tanda 'aqliyah bisa dengan pengamatan dan atau penalaran.
(Sekedar refresh..)

Kategori ilmu itu bisa juga didapat dengan pengamatan atas kejadian yang berulang-ulang. Disertai penalaran yang dibantu referensi yang ada, baik lengkap maupun terbatas.
Yang membedakannya adalah kualitas pengamatan dan penalaran itu.

Sesuatu (makhluk) yang tidak bisa diinderawi bukan berarti kita dilarang menggalinya. Karena keterbatasan indera manusia, bukan berarti tidak boleh menggali hal-hal tersebut untuk kepentingan dan manfaat bagi kita sendiri.

Yang dilarang itu adalah penggalian terhadap ALLaah swt Yang Maha Ghaib, itupun terkait Dzat-Nya, asal usulNya dan yang serupa dengan itu. Karena kita tidak akan sampai. Adapun tentang ATSAR-nya malah didorong untuk digali.

Jika kita menggali ni'mah-ni'mah ALLaah swt itu kita memang tidak akan mampu mendetailkannya, tetapi bukan berarti dilarang. Justeru perlu dan didorong untuj itu. Mengingat, mengetahui, merasakan dan menyadari... kita bahkan didorong untuk minta diajarkan untuk itu.

Tujuan besarnya adalah adalah agar selalu bersyukur atas segala apapun pemberianNya dan selanjutnya bersikap tepat terhadapNya.



Ghaib Makhluq Secara Inderawi

Apa-apa yang ada di air kamar mandi, kita tidak tahu detailnya tetapi kita meyakini ada sesuatu yang membahayakan jika kita meminumnya.

Penampakkan dan aroma air kamar mandi kita sama dengan air kemasan botol yang dijual itu. Apakah kita memperlakukan hal yang sama antara air kamar mandi dengan air kemasan botol itu untuk konsumsi minum sehari-hari?

Hal-hal yang tidak bisa dijangkau dengan indera kita jika bermanfaat atau membahayakan perlu kita gali. Itu bagi yang berminat dan berkesempatan. Bagi yang tidak berminat, tidak mengapa dengan cukup memakai sesuatu yang sudah jadi dan siap pakai.

Tidak ada tuntutan kepada semua orang untuk menjadi apoteker dalam meracik herbal/obat kimia. Tidak ada tuntutan bagi setiap orang untuk menjadi peneliti virus demam berdarah dengan segala sifat, tabiat, kekuatan dan kelemahannya.

Jika ada yang meneliti dan membuat kaidah-kaidahnya cukup dihormati saja. Jika bermanfaat yaa silakan dipakai, jika dianggap tidak bisa dipertanggungjawabkan yaa cukup disimak saja. Karena itu bisa benar bisa juga salah.

Tidak semua orang wajib melihat virus dengue (virus demam berdarah). Bagi yang mau mengikuti prosedur penanganan dan pencegahannya cukup dengan meyakini dan mengikutinya tanpa harus meneliti dulu apalagi melihatnya dengan alat-alat di laboratorium.

Jika ada petunjuk naqliyah-nya maka kita pakai tanpa terburu-buru menyetop area 'aqliyah, eksplorasi. Yang penting kaidah keilmuannya tidak ditabrak dan menjadi rusak.

Dan jika belum sempat bertemu dengan kasus-kasus yang membutuhkan penelitian dan solusi penanganannya di bidang itu maka menyimak dulu lebih baik tanpa terburu membuat pernyataan-pernyataan. Atau jika ada yang belum dipahami, maka solusinya bertanya. Itu lebih bijak.

Semoga kita semua tetap berada dalam ranah kebaikanNya, terpelihara dari segala niat, sikap dan perilaku yang tidak sesuai dengan syariatNya.

Aamiin..


H. Riyadh Rosyadi

Senin

Seri Tanya Jawab: Menerima Upah dari Meruqyah, Bolehkah...?

HADITS-HADITS TENTANG RUQYAH YANG HAQ

Tanya jawab salah satu anggota room Terapi Quran dengan ustadz Riyadh Rosyadi.


Tanya:
Bolehkah menerima uang atau harta pemberian dari proses meruqyah?


Jawab:
Ada beberapa hadits terkait dengan upah/pemberian dari meruqyah,


١. عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال:
أنَّ ناسًا من أصحابِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ أتوا على حيٍّ من أحياءِ العربِ فلم يُقْرُوهم ، فبينَما همْ كذلِك ، إذْ لُدِغَ سيدُ أولئكَ ، فقَالوا : هلْ معَكُمْ من دَوَاءٍ أوْ راقٍ ؟ فقالوا : إنكُمْ لمْ تُقْرُونَا ، ولا نفعلُ حتى تجعَلوا لنَا جُعْلًا ، فجَعلوا لهم قطيعًا من الشاءِ ، فجعلَ يقرأُ بأمِّ القرآنِ ، ويجمعُ بزَاقَهُ ويَتْفُلُ ، فبَرَأَ فأتَوا بالشَّاِء ، فقالوا : لا نأْخُذُهُ حتى نسألَ النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ فسأَلوهُ فضَحِكَ وقالَ : ومَا أدراكَ أنها رُقيةٌ ، خذُوهَا واضرِبوا لي بِسَهْمٍ. 
 (رواه البخاري ٥٧٣٦، ومسلم ٢٢٠١)

1. Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyaLLaahu 'anhu, dia berkata: Bahwasanya sekelompok orang dari sahabat Nabi shallaLLaahu 'alaihi wasallam mendatangi suatu desa dari desa-desa Arab, tapi penduduknya tidak mau menjamu mereka. Ketika mereka seperti itu, tiba-tiba saja pemimpin desa tadi disengat binatang. Maka mereka berkata: “Apakah kalian punya obat atau orang yang ahli ruqyah (jampi)?” Maka mereka menjawab: “Kalian tadi tidak mau menjamu kami. Dan kami tidak akan mengobati sampai kalian memberikan untuk kami upah.” Maka mereka memberikan upah untuk mereka tiga puluh ekor kambing. Maka mulailah dia (Abu Sa’id) membaca Ummul Qur’an dan mengumpulkan ludahnya lalu meludahkannya sedikit (ke kepala kampung). Maka sembuhlah dia. Lalu mereka mendatangkan kambing-kambing itu. Para Shohabat tadi berkata: “Kita tidak mengambilnya sampai kita bertanya kepada RasuluLLaah shallaLLaahu 'alaihi wasallam". Maka merekapun bertanya kepada beliau. Maka beliau tertawa seraya bersabda: “Dari mana engkau tahu bahwasanya Ummul Kitab adalah ruqyah. Ambillah kambing-kambing tadi, dan berilah aku bagian darinya".
(HR. Al Bukhoriy 5736 dan Muslim 2201).



٢. عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال:
أنَّ نفَرًا من أصحابِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ مَرُّوا بماءٍ ، فيهمْ لَدِيغٌ أو سَلِيمٌ ، فَعَرَضَ لهمْ رجلٌ من أهلِ الماءِ ، فقالَ : هلْ فيكمْ منْ راقٍ ، إنَّ في الماءِ رجلًا لدِيغًا أو سَليمًا ، فانطلقَ رجلٌ منهمْ ، فقرأَ بفاتحةِ الكتابِ على شَاءٍ ، فبَرَأَ ، فجاءَ بالشَّاءِ إلى أصحابِهِ ، فَكرِهوا ذلكَ وقالُوا : أَخَذْتَ على كتابِ اللهِ أجرًا ، حتى قدِمُوا المدينةَ ، فقالوا : يا رسولَ اللهِ ، أخَذَ على كتابِ اللهِ أجرًا ، فقالَ رسولُ اللهِ صلى اللهُ عليهِ وسلَّمَ : إنَّ أحقَّ ما أخَذْتُمْ عليهِ أجرًا كتابُ اللهِ .
(رواه البخاري في صحيح البخاري ٥٧٣٧)

2. Dari AbduLLaah bin Abbas radhiyallahu ’anhuma, dia berkata: Bahwasanya sekelompok dari sahabat Nabi shallaLLaahu 'alaihi wasallam melewati suatu desa yang di kalangan mereka ada orang yang tersengat. Maka salah seorang penduduk desa tadi menghadang mereka seraya berkata: “Apakah di kalangan kalian ada orang yang bisa meruqyah? Sesungguhnya di desa ini ada orang yang tersengat.” Maka salah seorang dari mereka berangkat, lalu membacakan Al Fatihah dengan minta imbalan kambing-kambing. Lalu sembuhlah si sakit. Lalu datanglah orang tadi dengan membawa kambing-kambing kepada para sahabatnya. Tapi mereka tidak suka hal itu dan berkata: “Apakah engkau mengambil upah karena Kitabulloh?” sampai mereka tiba di Madinah. Lalu mereka berkata: “Wahai RasuluLLah, orang ini mengambil upah karena Kitabulloh.” Maka RasuluLLaah shallaLLaahu 'alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang paling berhak untuk kalian ambil upah darinya adalah Kitabulloh.”
(HR. Al Bukhoriy 5737)


٣. عن عم خارجة بن الصلت وهو علاقة بن صحار التميمي رضي الله عنه،
  أَتَى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَسْلَمَ ثُمَّ أَقْبَلَ رَاجِعًا مِنْ عِنْدِهِ فَمَرَّ عَلَى قَوْمٍ عِنْدَهُمْ رَجُلٌ مَجْنُونٌ مُوثَقٌ بِالْحَدِيدِ فَقَالَ أَهْلُهُ إِنَّا حُدِّثْنَا أَنَّ صَاحِبَكُمْ هَذَا قَدْ جَاءَ بِخَيْرٍ فَهَلْ عِنْدَكَ شَىْءٌ تُدَاوِيهِ فَرَقَيْتُهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ فَأَعْطُونِى مِائَةَ شَاةٍ فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ هَلْ إِلاَّ هَذَا. وَقَالَ مُسَدَّدٌ فِى مَوْضِعٍ آخَرَ هَلْ قُلْتَ غَيْرَ هَذَا. قُلْتُ لاَ. قَالَ خُذْهَا فَلَعَمْرِى لَمَنْ أَكَلَ بِرُقْيَةِ بَاطِلٍ لَقَدْ أَكَلْتَ بِرُقْيَةِ حَقٍّ.

3. Dari pamannya Kharijah bin Ash-Shalt yaitu 'Alaqah bin Shohaar at-Tamimi radhiyaLLaahu 'anhu, dia datang ke Madinah untuk menemui RasuluLLaah lantas masuk Islam. Saat hendak pulang dari Madinah menuju kampung halamannya beliau melewati suatu perkampungan. Di kampung tersebut terdapat orang gila yang dipasung dengan besi. Salah satu keluarga orang gila tersebut berkata kepada pamanku, “Kami dapat kabar bahwa nabimu mengajarkan kebaikan. Apakah anda memiliki sesuatu untuk mengobatinya?”. Pamanku lantas meruqyahnya dengan hanya membacakan surat Al-Fatihah. Setelah diruqyah orang tersebut sembuh seketika. Mereka pun memberiku seratus ekor kambing. Akhirnya kudatangi Nabi dan kuceritakan apa yang telah terjadi. Beliau merespon dengan bertanya, “Apakah engkau hanya meruqyah dengan membacakan surat Al-Fatihah?” “Tidak ada yang lain”, jawabku. Sabda Nabi, Ambillah (pemberian) tersebut sungguh engkau termasuk mendapat upah dengan ruqyah yang benar, bukan dengan ruqyah yang batil.
(HR. Abu Daud, hasan).


Hukumnya MUBAH - HALAL.
1. Ditarif boleh dengan asas kepatutan.
2. Diberi hadiah besar juga boleh diterima.
3. Tidak menerima juga boleh.

Dalam konteks dakwah dan pelayanan, semua aspek perlu diperhatikan dan disesuaikan. Lihat: Ahdats أحداث kejadian, Zhuruf ظروف keadaan/kondisi dan Awdha' أوضاع situasinya.


H. Riyadh Rosyadi

Kamis

Seri Tanya Jawab TQ: Sertifikat Tempat Tinggal Jin...?

Tanya Jawab salah satu anggota room Terapi Quran dengan ustdz Riyadh Rosyadi. 


Tanya:
Mengapa sertifikat harus dibakar? apakah itu juga bisa jadi sarana tempat tinggalnya jin?


Jawab:
Ilmu-ilmu yang tidak sesuai dengan kaidah agama apalagi yang masuk dalam kategori batil itu selalu meminta perjanjian sebagai ikatan ketersambungan (sanad) dan ketergabungan (dengan kelompok) untuk mengalirkan sumber energinya kepada pengikut/anggotanya.

Sertifikat itu adalah salah satu tanda ikatan perjanjian itu. Dan ikatan-ikatan itu harus dilepaskan dan dimusnahkan sebagai bukti berlepas diri secara total.

بَرَآءَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۤ اِلَى الَّذِيْنَ عَاهَدْتُّمْ مِّنَ الْمُشْرِكِيْنَ

"(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya kepada orang-orang musyrik yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka)."
[QS. At-Taubah (9): 1]


قَدْ كَانَتْ لَـكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْۤ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗ ۚ  اِذْ قَالُوْا لِقَوْمِهِمْ اِنَّا بُرَءٰٓؤُا مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَآءُ اَبَدًا حَتّٰى تُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَحْدَهٗۤ اِلَّا قَوْلَ اِبْرٰهِيْمَ لِاَبِيْهِ لَاَسْتَغْفِرَنَّ لَـكَ وَمَاۤ اَمْلِكُ لَـكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍ   ۗ  رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَاِلَيْكَ اَنَـبْنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ

"Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja, kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu. (Ibrahim berkata), Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,"
[QS. Al-Mumtahanah (60): 4]

H. Riyadh Rosyadi

Rabu

Seri Tanya Jawab TQ: Mengatasi Pikun

Tanya jawab salah satu anggota room TQ, Peserta Pelatihan TQ di satu daerah dengan ustadz Riyadh Rosyadi.


Tanya:
1. Dalam kurun waktu satu tahun belakangan ini merasakan cepat pikun/lupa.. hal yang baru saja di lihat atau di dengar bisa terlupakan dan akhir-akhir ini semakin parah dengan disertai pusing.


Jawab:
Lakukan RID ditujukan kepada yang di kepala, yang bikin cepat lupa dan pusing..

Redaksinya bisa seperti ini,
BismiLLaahirrahmanirrahiim, kepada kalian makhluq ALLaah yang ditakdirkanNya ada di kepalaku yang bikin aku cepat lupa dan pusing, dengar baik-baik..

(lanjutkan dengan kalimat RID)

Kemudian langsung diikuti dengan ikhtiar nafs.
Semoga ALLaah swt memudahkan prosesnya.

* jangan lupa sudah didahului dengan bersih-bersih segala unsur yang berpotensi menjadi "media" baik barang atau perbuatan.


H. Riyadh Rosyadi

Seri Tanya Jawab TQ: Asma

Penyakit Asma


Tanya:
Ada seorang anak (Masih SD) yang kena penyakit asma, setelah diagnosa ternyata itu penyakit sudah menahun dan ada juga anggota keluarganya dari neneknya mengalami hal yang sama. Saya pernah mendengar bahwa tidak ada penyakit turunan, yang ada itu jin turunan. Sudah dilakukan pemutusan, apakah cukup satu kali saja atau berulang kali?


Jawab:
Pemutusan yang bagaimana maksudnya? Jika dengan ikrar, sebaiknya tetap dengan bacaan Al-Quran. Ulang-ulangi beberapa kali.

Pertemuan awal jika efektif proses anamnesa-nya maka itu memudahkan dalam menjalankan SOP RID-nya. Apalagi sempat ke lokasi mereka tinggal dan usaha (jika ada), lebih utuh lagi anamnesa untuk diagnosa dan prognosa-nya

Seri Tanya Jawab TQ: Syaithon Saja kah Musuh Manusia..?

Tanya jawab salah satu anggota room TQ, Peserta Pelatihan TQ di satu daerah dengan ustadz Riyadh Rosyadi.


Tanya:
Dari hasil belajar saya menyimpulkan, bahwa ALLaah hanya menyebut di dalam Al-Qur'an, syaithon sajalah musuh manusia, benarkah kesimpulan ini?

Sedang makhluk lain di luar jin dan manusia adalah Taslim (tunduk) kepada ALLaah, termasuk bakteri, virus, cacing dan makhluk-makhluk patogen yang lain.

Itu artinya, yang menjadi penyebab utama manusia sakit itu sebenarnya adalah syaithon, baik dari jin ataupun manusia.

Adapun manusia sakit oleh sebab virus atau bakteri atau binatang patogen lainnya, adalah jalan saja yang digunakan syaithon untuk membuat kita sakit, agar kita bisa di taklukkan, benarkah begitu?



Jawab:
Kalau kejahatan eksternal, kita bisa tengok di surat Al-Falaq.
Di situ ada makhluq syarr (min syarri maa kholaq - dari kejahatan segala makhluk ciptaanNya).

Makhluq paling syarr itu adalah makhluq yang memiliki sifat-sifat kuat syaithan (dalam hal ini syaithan sebagai kata sifat).

Dan yang paling kuat sifat ke-syaithan-annya adalah Iblis. Dan dia sudah diberi "dispensasi" oleh ALLaah swt untuk tidak terkena sangsi mati karena kejahatannya hingga hari kiamat. Inilah musuh utama yang sesungguhnya [QS. Al-A'raf (7): 27].

Kemudian dia menggalang makhluk lain untuk mau dan bisa bekerja bersamanya mewujudkan cita-cita besarnya. Akhirnya qabilahnya (anak keturunan) dan para pengikutnya setianya (dari kalangan jin lain dan manusia) menjadi para makhluk yang memiliki sifat-sifat syaithaniyyah juga, mereka menjadi para syayaathiin (syaitan-syaitan).


يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا ۗ إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.
[QS. Al-A'raf (7): 27]


Hewan-hewan dari dunia jin dan dunia manusiapun yang memiliki karakter jahat (syarr) didayagunakan syaitan untuk kepentingannya. Demikian juga makhluk lainnya yang berkarakter khobits (lawannya thayyib) dari jenis tumbuh-tumbuhan atau jenis lainnya yang kita belum tahu detail rinciannya itu.

Keberadaan syaitan merupakan ujian dari ALLaah swt, termasuk semua peristiwa yang kita alami adalah ujian (baik senang-susah), termasuk sakit. Apapun sebabnya - itu bagian dari ujian.

Syaitan ambil bagian dari setiap peluang yang tersedia untuk masuk ke dalam kehidupan kita untuk bisa menyeret kita bersamanya ke dalam neraka. Itulah target sebenarnya. Dan (atas takdir-ketetapan ALLaah swt pula) syaitan bisa "menciptakan" peluang-peluang yang bisa mengarah ke tujuan besarnya itu.

Peluang-peluang itu bisa berupa kenikmatan atau kesengsaraan.
Dan peluang-peluang yang bersumber dari manapun - baik yang "asli" dari ALLaah maupun yang "diciptakan" syaitan - semuanya adalah ujian ALLaah swt juga.


H. Riyadh Rosyadi


Link artikel terkait:
https://terapiquran2015.blogspot.co.id/2017/05/jin-syaitan-dan-iblis.html