Sebaik-baik dari kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya (H.R. Bukhari)

Selasa

Kita Hidup di Era Ke-Empat



Ada 5 era kehidupan yang dialami oleh umat Islam secara keseluruhan.

Hanya ada satu era yang tanpa dikawal oleh sulthan (pemimpin) yang menjaga syariat.

Dan itu adalah era saat kita hidup di zaman ini.

Empat era lainnya terdiri dari tiga era yang telah berlalu dan satu lagi yang akan muncul di akhir zaman umat Muhammad ﷺ.



Era/Masa terjaganya/terkawalnya syariat ada di empat era.

Dan terbaiknya ada di masa Kenabian.

Masa terbaik berikutnya ada di dua masa yang dua-duanya disebut Era Khilafah 'Ala Minhajin Nubuwwah, satunya telah berlalu dan satu lagi di akhir masa nanti (yang Salib dihancurkan dan babi semuanya dibunuhi).

Tiga era itulah masa-masa emas kehidupan umat.



Masa penjagaan syariat berikutnya ada di masa raja-raja yang pemerintahannya tetap menjaga syariat walaupun dinamika kepemimpinannya beragam.

Persoalan-persoalan mulai bermunculan.

Beruntungnya era ini selain komitmen berlandaskan syariat tetap ada juga hadirnya para ulama salaf yang luar biasa dari berbagai bidang yg menjadi tempat kembali umat dlm setiap persoalan.

Intinya, keempat era itu adalah masa di mana umat mendapatkan keberkahan hidup.

Komitmen dan kedekatan dengan bimbingan syariat menjadi penyelamat, penjaga dan solusi kehidupan.



Saat kita (ditaqdirkan) hidup di era keempat ini - era raja diktator - yang memaksa kita hidup terlepas dari nilai dan ruh syariat, nyaris semua sektor adalah sekular (terpisahkan dari nilai syariat) maka terbukalah malapetaka di setiap sektor itu.

 وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
[QS. Al-A'raf (7): 96]


وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا...

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit..."
[QS.Taha (20): 124]


ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
[QS. Ar-Rum (30): 41]



Di kehidupan Era inilah ujian terbesar kehidupan.

Tidak hanya umat Islam tetapi juga seluruh umat manusia bahkan imbasnya ke semua makhluk.



Kembali kepada fitrah adalah solusinya.

Dan itu artinya menyatukan kembali nilai-nilai langit dan bumi dalam satu gerak kehidupan.

Jadikanlah Islam utuh dalam hal apapun. Termasuk Islamkan secara utuh Preventive (pencegahan), Promotive (pelayanan kesehatan), Curative (pengobatan) dan Rehabilitative (pemulihan) dalam penyelenggaraan Kesehatan.

Itulah bedanya hidup di era keempat ini

Berjuang melalui Islamic Medicine adalah Berjuang mengembalikan keutuhan nilai-nilai Islam dalam kehidupan.


H. Riyadh Rosyadi

Hadits 5 Era Kehidupan Umat Islam


حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ سَالِمٍ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَشِيرٌ رَجُلًا يَكُفُّ حَدِيثَهُ فَجَاءَ أَبُو ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ فَقَالَ يَا بَشِيرُ بْنَ سَعْدٍ أَتَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأُمَرَاءِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ أَنَا أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ فَجَلَسَ أَبُو ثَعْلَبَةَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

Telah berkata kepada kami Sulaiman bin Dawud al-Thayaalisiy; di mana ia berkata, "Dawud bin Ibrahim al-Wasithiy telah menuturkan hadits kepadaku (Sulaiman bin Dawud al-Thayalisiy). Dan Dawud bin Ibrahim berkata, "Habib bin Salim telah meriwayatkan sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir; dimana ia berkata, "Kami sedang duduk di dalam Masjid bersama Nabi ﷺ, –Basyir sendiri adalah seorang laki-laki yang suka mengumpulkan hadits Nabi saw. Lalu, datanglah Abu Tsa’labah al-Khusyaniy seraya berkata, "Wahai Basyir bin Sa’ad, apakah kamu hafal hadits Nabi saw yang berbicara tentang para pemimpin? Hudzaifah menjawab, "Saya hafal khuthbah Nabi ﷺ."   Hudzaifah berkata,
"Nabi ﷺ bersabda,
▫ Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak ALLaah masa itu akan datang. Kemudian, ALLaah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya.

▫ Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak ALLaah masa itu akan datang. Lalu, ALLaah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya.

▫ Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit, dan atas kehendak ALLaah masa itu akan datang. Lalu, ALLaah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya.

▫ Setelah itu, akan datang masa raja diktator (pemaksa); dan atas kehendak ALLaah masa itu akan datang; lalu ALLaah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya.

▫ Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian) . Setelah itu, beliau diam".


Hadits:
Musnad Ahmad, Juz IV, hlm, 273, no hadits 18.430.
Dinilai hasan oleh Nashiruddin Al Albani, Silsilah Al Ahadits Al Shahihah, 1/8;
Dinilai hasan pula oleh Syaikh Syu’aib Al Arna’uth, dalam Musnad Ahmad bi Hukm Al Arna’uth, Juz 4 no hadits 18.430;
Dinilai shahih oleh Al Hafizh Al ‘Iraqi dalam Mahajjah Al Qurab fi Mahabbah Al ‘Arab, 2/17).



H. Riyadh Rosyadi