*Ibu.. Pintu Surgaku, Pintu Surga Bangsaku*
Seorang sahabat Nabi ﷺ bercerita,
Aku dahulu dengan penuh semangat juang dan kesiapan diri datang kepada RasuluLLaah ﷺ agar diperkenankan menemani beliau bertempur membela agama dengan mengharap keridhoan ALLaah ta'ala. Lantas Nabi ﷺ bertanya kepadaku apakah engkau masih mempunyai ibu? Aku jawab, iya, ada ya Rasulallaah. Lalu beliau memerintahkanku kembali pulang ke rumah lalu bersabda:
فَالْزَمْهَا، فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا
"Falzamhaa fa innal-jannata tahta rijlayhaa" tetaplah engkau bersama ibumu itu, karena sesungguhnya surga itu berada di bawah telapak kakinya.
Begitulah pengalaman tak terlupakan yang diceritakan kembali oleh seorang sahabat Nabi yang bernama Jaahimah kepada Muawiyah, anak laki-lakinya. (HR. Ibnu Majah, An Nasaa-i, At-thabrani & Al Hakim. Derajad hadits Hasan Shahih).
Kisah lain dituturkan langsung oleh sahabat Umar bin Khattab radhiyaLLaahu 'anhu. Rasulullah ﷺ berpesan kepada dirinya,
Akan datang kepada kalian (seorang yang bernama) Uways bin Amir bersama penduduk Ahlu Yaman, berasal dari Murod dan kemudian dari Qorn. Dahulu dia pernah tertimpa penyakit kulit kemudian sembuh dari penyakit tersebut kecuali tinggal sebesar kepingan dirham. Dia memilki seorang ibu yang dia sangat berbakti kepadanya, seandainya saja dia meminta kepada Allah untuk menyembuhkan (sisa) penyakitnya tersebut maka akan disembuhkan baginya. (Wahai Umar) apabila engkau diberi kesanggupan meminta kepadanya untuk memohonkan ampun (kepada ALLaah) untukmu maka lakukanlah.
(HR. Muslim).
Ibu bermakna induk, sumber, dan asal. Dalam bahasa Arab, kata ibu ditulis أُمٌّ (ummun). Kata ini digunakan untuk menunjuk sesuatu yang menjadi pusat rujukan dan asal pembentukan.
Kata ummah (أمّة) berada dalam satu rumpun makna dengan umm, karena menunjuk pada sekelompok makhluk yang disatukan oleh satu asal, tujuan, sistem nilai, dan kepemimpinan.
Satu umat tidak akan kokoh tanpa adanya induk yang menjadi pusat dan rujukan dalam peran pengasuhan dan pembinaan yang mengayomi, melindungi, mendidik, mengarahkan, menumbuhkan, menguatkan, dan memelihara dengan kasih sayang. Di sinilah peran ibu menjadi fondasi awal terbentuknya umat yang diharapkan.
Sebagai makhluk, ibu pastilah memiliki segala keterbatasan, tetapi pada saat yang sama dialah yang diberikan "anugerah dan amanah" sifat ketarbiyahan terbaik dalam dirinya. Kepada ALLaah dan kemudian kepada Ummu kita wajib bersyukur. Bersyukur kepada Robb dengan cara mengesakanNya dalam menyembah dan bersyukur kepada orang tua khususnya kepada ibu disebut berbakti dengan kualitas terbaik secara ihsan. [QS. Luqman (31) ayat 14 dan Al Isro (17) ayat 23]
Sekalipun ketaatan berpusat kepada ayah, namun perhatian, perawatan dan bakti teristimewa diberikan kepada al-umm, ibu. Seperempat bagian bakti diberikan kepada ayah sementara selebihnya yang tiga perempatnya diberikan kepada ibu.
Para sahabat Nabi ﷺ memahami bahwa berbakti kepada ibu memiliki kedudukan yang sangat agung, bahkan dalam kondisi tertentu dapat lebih utama daripada jihad di jalan Allah, khususnya ketika jihad tersebut belum bersifat wajib ‘ain. Para ulama menjelaskan bahwa apabila jihad berada pada level fardhu kifayah, maka berbakti kepada orang tua—terutama kepada ibu—lebih diutamakan.
Sahabat Jaahimah menceritakan kepada puteranya (Muawiyah) mengenai pengalamannya itu tentu agar sang putera bisa lebih tepat memperlakukan ibundanya. Semangat berjuang tidak boleh meninggalkan yang lebih pokok dan lebih prioritas. Dan itu sekaligus sebagai bentuk kesempurnaan dalam melaksanakan ajaran baginda Nabi ﷺ.
Contoh lain dimiliki oleh salah seorang tabi'in terbaik, Uwais Al Qorni. Sedemikian keutamaan Uwais Al Qorni sehingga sahabat sekelas Umar bin Khattab radhiyaLLaahu 'anhu disarankan oleh RasuluLLaah ﷺ meminta kepada Uwais agar berkenan memohonkan ampunan kepada ALLaah untuk dirinya (Umar). Karomah yang dilimpahkan oleh ALLaah ta'ala kepada dirinya lantaran besar bakti Uwais kepada sang ibu, disamping juga karena memang sangat dalamnya cinta Uwais kepada baginda Nabi ﷺ.
Umar bin Khattab kelak berhasil bertemu Uwais yang kemudian melaksanakan arahan Nabi ﷺ itu setelah beliau menjadi Amirul Mukminin, pemimpin umat Islam.
Dalam syair terkenal disebutkan
الأُمُّ مَدْرَسَةٌ إِذَا أَعْدَدْتَهَا
أَعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِّبَ الأَعْرَاقِ
Ibu adalah madrasah; jika engkau mempersiapkannya, maka engkau telah menyiapkan sebuah bangsa yang baik asal-usulnya.
Bagi bangsa ini di tanggal ini (22 Desember) barangkali menjadi pengingat bahwa ibu adalah madrasah yang menjaga kesucian fitrah sang anak semenjak janin di dalam kandungannya, ketika dalam buaiannya hingga menjelang kedewasaan si anak. Mengingatkan bahwa ibu adalah madrasah yang menjadikan setiap keluarga, masyarakat dan bangsa ini mampu melahirkan para pejuang dan pahlawannya. Madrasah yang dari keikhlasan rahim sucinya akan muncul para pemimpin yang kelak mengawal bangsa ini dengan ketulusan, kesucian niat, kejujuran, kearifan yang penuh keadilan.
Jika memang hari ini (22 Desember) menjadi pengingat tentang kedudukan ibu, maka harus mampu menjadikan kita lebih tepat dalam memperlakukannya sejak awal.
Ibu harus dimuliakan dengan perlakuan terbaik bahkan sebelum anak-anaknya terlahir. Perlakuan terbaik harus didapatkan ibu agar perannya sebagai madrasah berfungsi dengan baik. Setara dengan keutamaannya dan kemuliaanya di sisi ALLaah ta'ala. Memuliakan ibu berarti juga membekalinya dengan ilmu pengetahuan terbaik, keterampilan hidup terbaik, membekalinya dengan gizi terbaik, dengan kesehatan terbaik dan perlindungan terbaik.
Pemuliaan ibu harus yang terbaik agar desah nafas dan detak jantungnya mampu mengalirkan kasih sayang robbani (perwujudan nilai-nilai Robb) bagi anak-anaknya.
Ketika negara menjadikan secara resmi tanggal 22 Desember sebagai hari ibu, itu artinya negara memimpin bangsa ini dalam memberi perlakuan yang terbaik kepada para ibu dalam memuliakannya, termasuk juga pembinaan yang setepat-tepatnya kepada setiap calon ibu. Negara harusnya adalah pihak yang pertama kali menyadari makna dari doa yang selalu dipanjatkan oleh setiap keluarga,
"Robbanaa hab-lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrota a'yunin waja'alnaa lil muttaqiina imaamaa",
wahai Robb kami karuniakanlah kepada isteri-isteri kami dan anak keturunan kami sebagai penyejuk mata (hati) kami dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa.
Dari isteri yang menyejukkan hati, dari rahimnya terlahir generasi, dari asuhannya muncul para pemimpin negeri yang dinanti.
________________
Riyadh Rosyadi (Rosyad),
Tempat/tanggal lahir: Magetan, 22 Desember 1968
Tidak ada komentar:
Posting Komentar