Sebaik-baik dari kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya (H.R. Bukhari)
Tampilkan postingan dengan label ketahanan keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ketahanan keluarga. Tampilkan semua postingan

Minggu

Seri Pengalaman TQ: Syukur PadaMu Yaa Robb, Suamiku Berubah

[Pengalaman harian Praktek Terapi Quran]


Setelah merasakan beberapa perbaikan pasca terapi quran pertama yang lalu, saya terfikir tentang keadaan rumah tangga saya.
Saya yang tengah berusaha berhijrah, ingin mengamalkan semua tuntunan agama secara kaffah tapi terasa belum bisa berjalan seiring dengan suami.

Lalu teringat ketika saat ta'lim disampaikan, bahwa RID (Ruqyah Indzar Da'awy) bisa digunakan untuk membantu orang lain meskipun dari kejauhan tanpa sepengetahuannya, sayapun mencoba mengamalkannya dengan niat ingin membantu suami agar terlepas dari belenggu-belenggu yang membuatnya malas dan berat melakukan ibadah.

Setelah beberapa hari saya rutinkan membaca RID tersebut, AlhamduliLLaah... ALLaahu Akbar... kami melihat sendiri begitu banyak perubahan dalam ibadah pada suami saya.

Jika azan berkumandang, dia yang lebih dahulu mengingatkan kami untuk sholat di awal waktu kemudian dia bergegas ke masjid.

 MasyaALLaah... Hidayah dan taufiq adalah milik ALLaah, dan rupanya ALLaah berikan kepada suami melalui ikhtiar Terapi Qur'an ini.

Saya semakin yakin, mendoakan dan membantu orang lain dengan ikhlas, tanpa sepengetahuannya akan berbalas 'imbalan' tidak terduga dari ALLaah.

Alhamdulillahilladzi bini'matihii tatimmus shoolihaat.

......
*catatan:
RID adalah Ruqyah Indzar Da'awi, meruqyah dengan memberi peringatan kedakwahan.

Seri Pengalaman TQ: Doa dan Ikhtiar Seorang Ibu Tak Tertolak

[Pengalaman praktek Terapi Quran]


Peristiwa dialami oleh seorang ibu di Cirebon.

Kisah ini terjadi pada salah seorang sahabat saya yang saat itu tengah dilanda masalah dengan anak laki-lakinya.

Sahabat saya tengah mencurahkan isi hatinya, tentang kesedihan dan kekhawatiran seorang ibu tentang anak laki-lakinya yang sudah 2x pergi meninggalkan rumah. Kali ini si anak pergi karena marah orangtuanya tidak menuruti permintaannya agar dibelikan motor.

Tidak terbayang bagaimana sedihnya hati seorang ibu, manakala buah hatinya pergi meninggalkan rumah, tanpa kata tanpa pamit dan tanpa kabar sampai hari kelima.

Singkat cerita, saya anjurkan sahabat saya agar melakukan RID (Ruqyah Indzaar Da'awy) khusus untuk anaknya.
Ditujukan pada mahluk yang membuat hati anak tersebut keras tidak mau mendengar nasihat orangtuanya.

Setelah beberapa hari, sahabat saya mengirim pesan mengatakan bahwa anaknya tengah berada di Jakarta. Si anak bercerita bahwa dia tersesat, dan ditemani seorang laki-laki yang mengantarnya sampai ke sebuah warnet.

Setelah si anak dijemput dan bertemu dengan kedua orangtuanya, Ibunya masih terus melanjutkan RID setiap malam untuk anaknya.

Beberapa minggu tidak berkabar, saya coba menghubungi sahabat saya dan menanyakan kabar perkembangan anaknya.

 AlhamduliLLaah... Kabar baik yang saya dengar. Dia bercerita kalau saat ini anaknya sudah mulai kembali sholat ke masjid, mau mendengarkan setiap perkataan orangtuanya dan tidak lagi berkata kasar/membantah orangtuanya.

MasyaALLaah... begitulah usaha seorang ibu. Dengan doa-doanya, ikhtiarnya melakukan RID untuk buah hatinya mengetuk pintu langit dan membuka hati anak tersebut kembali kepada jalan yang benar.


*catt: _RID adalah Ruqyah Indzar Da'awi, meruqyah dg memberi peringatan kedakwahan_

_______

Seri Pengalaman TQ: Terapi Warung dengan QS. Al-Baqoroh

Berikut adalah pengalaman salah satu anggota room Terapi Quran yang dibina oleh ustadz R. Rosyad. 


Semalam di warung banyak sekali cicak, sampai merinding. Langsung saya bacakan ayat kursi dan 4 Qul (Al-Kafirun, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas) berulang ulang kali.

Bersamaan dengan ini, malam ini ALLaah masih menguji warung saya. Sejak dari ba'da ashar dibuka sampai Isya', belum ada 1 pun pengunjungnya.

AlhamduliLLaah setelah saya baca QS. Al-Baqoroh baru 3 lembar sudah ada pengunjung yang datang secara beruntun.

SubhanaLLaah AlhamduliLLaah.. ALLaah Maha Pemberi Rezeki.

- Fulanah -

_______________



ShodaqoLLaah wa shodaqo RasuluLLaah shallaLLaahu 'alaihi wasallam..

Diantara Keutamaan Surat Al-Baqoroh dan Ali Imran

Dari Abu Hurairah radhiaLLaahu 'anhu bahwa RasuluLLaah shallaLLaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya setan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al-Baqarah.
(HR. Muslim no. 780)


Abu Umamah Al-Bahili radhiaLLaahu 'anhu berkata: Saya mendengar RasuluLLaah shallaLLaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ

Bacalah Al Qur`an, karena ia akan datang memberi syafa’at kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti. Bacalah Az-Zahrawain, yakni Al-Baqarah dan surah Ali Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat nanti, seperti dua tumpuk awan menaungi pembacanya, atau seperti dua kelompok burung yang sedang terbang dalam formasi hendak membela pembacanya. Bacalah surah Al-Baqarah, karena membacanya adalah berkah dan tidak membacanya adalah penyesalan. Dan para penyihir tidak akan dapat menghadapi/mengalahkannya.
(HR. Muslim no. 804)

R. Rosyad

Jumat

Ibu.. Pintu Surgaku, Pintu Surga Bangsaku

*Ibu.. Pintu Surgaku, Pintu Surga Bangsaku*


Seorang sahabat Nabi ﷺ bercerita,

Aku dahulu dengan penuh semangat juang dan kesiapan diri datang kepada RasuluLLaah ﷺ agar diperkenankan menemani beliau bertempur membela agama dengan mengharap keridhoan ALLaah ta'ala. Lantas Nabi ﷺ bertanya kepadaku apakah engkau masih mempunyai ibu? Aku jawab, iya, ada ya Rasulallaah. Lalu beliau memerintahkanku kembali pulang ke rumah lalu bersabda:
فَالْزَمْهَا، فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا
"Falzamhaa fa innal-jannata tahta rijlayhaa" tetaplah engkau bersama ibumu itu, karena sesungguhnya surga itu berada di bawah telapak kakinya.

Begitulah pengalaman tak terlupakan yang diceritakan kembali oleh seorang sahabat Nabi yang bernama Jaahimah kepada Muawiyah, anak laki-lakinya. (HR. Ibnu Majah, An Nasaa-i, At-thabrani & Al Hakim. Derajad hadits Hasan Shahih).

Kisah lain dituturkan langsung oleh sahabat Umar bin Khattab radhiyaLLaahu 'anhu. Rasulullah ﷺ berpesan kepada dirinya,

Akan datang kepada kalian (seorang yang bernama) Uways bin Amir bersama penduduk Ahlu Yaman, berasal dari Murod dan kemudian dari Qorn. Dahulu dia pernah tertimpa penyakit kulit kemudian sembuh dari penyakit tersebut kecuali tinggal sebesar kepingan dirham. Dia memilki seorang ibu yang dia sangat berbakti kepadanya, seandainya saja dia meminta kepada Allah untuk menyembuhkan (sisa) penyakitnya tersebut maka akan disembuhkan baginya. (Wahai Umar) apabila engkau diberi kesanggupan meminta kepadanya untuk memohonkan ampun (kepada ALLaah) untukmu maka lakukanlah.
(HR. Muslim).

Ibu bermakna induk, sumber, dan asal. Dalam bahasa Arab, kata ibu ditulis أُمٌّ (ummun). Kata ini digunakan untuk menunjuk sesuatu yang menjadi pusat rujukan dan asal pembentukan.
Kata ummah (أمّة) berada dalam satu rumpun makna dengan umm, karena menunjuk pada sekelompok makhluk yang disatukan oleh satu asal, tujuan, sistem nilai, dan kepemimpinan.
Satu umat tidak akan kokoh tanpa adanya induk yang menjadi pusat dan rujukan dalam peran pengasuhan dan pembinaan yang mengayomi, melindungi, mendidik, mengarahkan, menumbuhkan, menguatkan, dan memelihara dengan kasih sayang. Di sinilah peran ibu menjadi fondasi awal terbentuknya umat yang diharapkan.

Sebagai makhluk, ibu pastilah memiliki segala keterbatasan, tetapi pada saat yang sama dialah yang diberikan "anugerah dan amanah" sifat ketarbiyahan terbaik dalam dirinya. Kepada ALLaah dan kemudian kepada Ummu kita wajib bersyukur. Bersyukur kepada Robb dengan cara mengesakanNya dalam menyembah dan bersyukur kepada orang tua khususnya kepada ibu disebut berbakti dengan kualitas terbaik secara ihsan. [QS. Luqman (31) ayat 14 dan Al Isro (17) ayat 23]

Sekalipun ketaatan berpusat kepada ayah, namun perhatian, perawatan dan bakti teristimewa diberikan kepada al-umm, ibu. Seperempat bagian bakti diberikan kepada ayah sementara selebihnya yang tiga perempatnya diberikan kepada ibu.

Para sahabat Nabi ﷺ memahami bahwa berbakti kepada ibu memiliki kedudukan yang sangat agung, bahkan dalam kondisi tertentu dapat lebih utama daripada jihad di jalan Allah, khususnya ketika jihad tersebut belum bersifat wajib ‘ain. Para ulama menjelaskan bahwa apabila jihad berada pada level fardhu kifayah, maka berbakti kepada orang tua—terutama kepada ibu—lebih diutamakan.

Sahabat Jaahimah menceritakan kepada puteranya (Muawiyah) mengenai pengalamannya itu tentu agar sang putera bisa lebih tepat memperlakukan ibundanya. Semangat berjuang tidak boleh meninggalkan yang lebih pokok dan lebih prioritas. Dan itu sekaligus sebagai bentuk kesempurnaan dalam melaksanakan ajaran baginda Nabi ﷺ.
Contoh lain dimiliki oleh salah seorang tabi'in terbaik, Uwais Al Qorni. Sedemikian keutamaan Uwais Al Qorni sehingga sahabat sekelas Umar bin Khattab radhiyaLLaahu 'anhu disarankan oleh RasuluLLaah ﷺ meminta kepada Uwais agar berkenan memohonkan ampunan kepada ALLaah untuk dirinya (Umar). Karomah yang dilimpahkan oleh ALLaah ta'ala kepada dirinya lantaran besar bakti Uwais kepada sang ibu, disamping juga karena memang sangat dalamnya cinta Uwais kepada baginda Nabi ﷺ.

Umar bin Khattab kelak berhasil bertemu Uwais yang kemudian melaksanakan arahan Nabi ﷺ itu setelah beliau menjadi Amirul Mukminin, pemimpin umat Islam.

Dalam syair terkenal disebutkan
الأُمُّ مَدْرَسَةٌ إِذَا أَعْدَدْتَهَا
أَعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِّبَ الأَعْرَاقِ
Ibu adalah madrasah; jika engkau mempersiapkannya, maka engkau telah menyiapkan sebuah bangsa yang baik asal-usulnya.

Bagi bangsa ini di tanggal ini (22 Desember) barangkali menjadi pengingat bahwa ibu adalah madrasah yang menjaga kesucian fitrah sang anak semenjak janin di dalam kandungannya, ketika dalam buaiannya hingga menjelang kedewasaan si anak. Mengingatkan bahwa ibu adalah madrasah yang menjadikan setiap keluarga, masyarakat dan bangsa ini mampu melahirkan para pejuang dan pahlawannya. Madrasah yang dari keikhlasan rahim sucinya akan muncul para pemimpin yang kelak mengawal bangsa ini dengan ketulusan, kesucian niat, kejujuran, kearifan yang penuh keadilan.

Jika memang hari ini (22 Desember) menjadi pengingat tentang kedudukan ibu, maka harus mampu menjadikan kita lebih tepat dalam memperlakukannya sejak awal.

Ibu harus dimuliakan dengan perlakuan terbaik bahkan sebelum anak-anaknya terlahir. Perlakuan terbaik harus didapatkan ibu agar perannya sebagai madrasah berfungsi dengan baik. Setara dengan keutamaannya dan kemuliaanya di sisi ALLaah ta'ala. Memuliakan ibu berarti juga membekalinya dengan ilmu pengetahuan terbaik, keterampilan hidup terbaik, membekalinya dengan gizi terbaik, dengan kesehatan terbaik dan perlindungan terbaik.

Pemuliaan ibu harus yang terbaik agar desah nafas dan detak jantungnya mampu mengalirkan kasih sayang robbani (perwujudan nilai-nilai Robb) bagi anak-anaknya.

Ketika negara menjadikan secara resmi tanggal 22 Desember sebagai hari ibu, itu artinya negara memimpin bangsa ini dalam memberi perlakuan yang terbaik kepada para ibu dalam memuliakannya, termasuk juga pembinaan yang setepat-tepatnya kepada setiap calon ibu. Negara harusnya adalah pihak yang pertama kali menyadari makna dari doa yang selalu dipanjatkan oleh setiap keluarga, 

"Robbanaa hab-lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrota a'yunin waja'alnaa lil muttaqiina imaamaa",

wahai Robb kami karuniakanlah kepada isteri-isteri kami dan anak keturunan kami sebagai penyejuk mata (hati) kami dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa.

Dari isteri yang menyejukkan hati, dari rahimnya terlahir generasi, dari asuhannya muncul para pemimpin negeri yang dinanti.

________________
Riyadh Rosyadi (Rosyad),
Tempat/tanggal lahir: Magetan, 22 Desember 1968

Minggu

Seri Tanya Jawab: Terapi Quran Untuk Rumah dan Tempat Usaha

Pertanyaan:

Assalamualaikum Afwan ustada saya mau bertanya, bagaimana melakukan Terapi Quran untuk rumah? syukron sebelumnya.

- Peserta TQ Ambon -



Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Idealnya khatamkan Al-Baqoroh dengan bacaan cukup keras. Sambil buat air ruqyah Al-Baqoroh → setiap satu halaman terbaca tiupkan ke air (bisa satu galon penuh).

Bisa baca bersama-sama (beberapa orang), dibagi sejumlah yang membaca, dengan cara berurutan atau jika waktu terbatas, bisa dibaca bersamaan. Dengan tetap meniupkan ke air setiap satu halaman selesai.

Air tersebut disemprotkan ke seluruh penjuru rumah/kantor/tempat usaha, dan bisa diminum seluruh anggota keluarga.


Tetapi sebagaimana materi kita, Secara Praktek,

1. Sebelum membacakan ayat-ayat Al-Quran atau doa-doa kesembuhan, maka perbanyaklah mohon ampunan kepada ALLaah swt dengan mengakui dosa kesalahan itu di hadapanNya atas segala perbuatan yang keliru. Dan terhadap orang/makhluk lain meminta dan memberi maaf.

→  Lakukanlah kewajiban-kewajiban terkait dengan upaya menghilangkan kezaliman sebagaimana di atas.

2. Menghentikan perbuatan/amalan yang keliru dan memusnahkan segala barang yang tidak diridhai / tidak disukai ALLaah swt, yang malaikatNya juga tidak menyukai itu. Dan jika ALLaah swt dan para malaikatNya tidak menyukai semua itu maka sebaliknya itu adalah segala hal yang disukai syaitan.
(Silakan lihat Cek List 2)

3. Iringi dengan perbuatan baik yang diridhai ALLaah swt, seperti shodaqoh.

4. Membacakan ayat-ayat Al-Quran dengan memohon agar ALLaah swt Yang Maha Meyembuhkan berkenan memberikan kesembuhanNya/solusi-Nya.


H. Riyadh Rosyadi

Seri Tanya Jawab TQ: Tentang Hypno

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustdz kalau membisikan kata-kata positif pada anak ketika baru terlelap boleh tidak?
Apakah hanya cukup membacakan 4 Qul + Qs. Al-Hasr dan doa secara lisan saja?

- Peserta TQ Cirebon-




Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.
- Bacakan ayat-ayat Al-Quran yang disunnahkan dan bacaan ruqyah jika diperlukan.
- Bacakan do'a-do'a apa saja yang baik tentunya dengan meminta kepada ALLaah swt.

Nasihat itu pada saat terjaga/sadar. Bukan saat tidak sadar. Seperti itu merupakan teknik Hypno. Memberi sugesti di alam bawah sadarnya.

Nasihat saat sadar dan DOA langsung maupun tidak langsung.




Tambahan dari Peserta lain:
Bu,  saya pernah melakukan itu dan semenjak mengenal ruqyah/Terapi Quran saya tinggalkan. Betul kata ustadz itu teknik hypno cabang ilmu dari NLP.

Pernah di Indramayu saya ajak seorang perawat untuk ikut pelatihan dimana diantara mempelajari sugesti alam bawah sadar untuk terapi kesehatan. 3 bulan kemudian perawat ini mengalami sakit dan ketika diruqyah jin nya ngoceh masuk dari pintu sugesti alam bawah sadar. Semoga kita semua bisa menghindari hal-hal demikian.


Jawaban:

JazakaLLaah khoir untuk sharingnya pak..

Sekalipun itu ocehannya jin, yang harus diperhatikan adalah pengulangan-pengulangan yang banyak sekali ditemui dilapangan dari kasus serupa di beberapa kejadian dan tempat yang berbeda itu merupakan tanda (ayat2) bagi ulul albab.



Pertanyaan:

Doa langsung maupun tidak langsung bagimana penjabaranya ustadz?


Jawaban:

Langsung itu maksudnya saat ada anaknya baik dalam terjaga maupun tertidur. Tidak langsung itu, saat tidak ada anaknya.

Seri Tanya Jawab TQ: Terapi Untuk Adik Yang Sedang Bermasalah

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum ustadz, bagaimana cara yang tepat dalam islam, untuk menasehati adik ustadz, saya punya adik laki-laki yang agak sedikit brlebihan dalam bergaul dengan teman-temannya.

Dia masih sekolah, 2 hari yang lalu dia jual hp nya untuk senang-senang dengan teman-temannya.

Orang tua sudah menasehati, tidak di anggap. Sampai pernah di pukul juga masih tetap saja.

Saya juga pernah bilang kepadanya: kalau kamu sekolah tidak serius, bergaul dengan anak-anak tidak baik, tidak usah sekolah saja. Uang sekolah lebih baik untuk mamak bapak. Malah dijawab: Kalau kamu tidak mau membiayai saya sekolah ya sudah tidak apa.

Bagaimana ustad, apa ada amalan khusus untuk kasus keluarga kami?

-Peserta TQ Lampung-



Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb

Pelajari QS. Al-Ahqaf 46: Ayat 15:

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًا   ۗ  حَمَلَـتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا   ۗ  وَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰـثُوْنَ شَهْرًا   ۗ  حَتّٰٓى اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةً   ۙ  قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْۤ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْۤ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰٮهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْ     ۗ  ۚ  اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

"Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim."


Doa sambil "mengamalkan" yang dituntunkan ayat tersebut dalam keseharian.

Periksa kamarnya, bacaannya, dan barang-barang yang dimilikinya..
Jika ada hal-hal yang berpotensi menjadi kesenangan jin pengganggu maka singkirkan/musnahkan.
Berikan selalu makanan dan minuman yang sudah "dibacakan".

Lakukan beberapa hari, kemudian ajak bicara lagi.


H. Riyadh Rosyadi

Kamis

Seri Pengalaman TQ: Terapi Rumah Untuk Uang Sering Hilang

BismiLLaah...

Saya mau cerita pengalaman saya melakukan Terapi Quran.

Dulu rumah saya selalu  tidak aman. Hampir setiap hari ada saja uang yang hilang. Kalau bukan milik saya, ya milik suami atau bahkan tabungan anak-anak. 

Uang hanya aman kalau waktu tidur saya taruh di saku baju yang saya pakai atau ditaruh di dalam sarung bantal. Pokoknya pusiing deh,.. Setiap perlu uang saya mesti ke ATM.

Tapi setelah saya konsultasi, saya mulai TQ.

Setelah subuh saya ambil air galon satu teko terus dibacakan QS. Al Baqarah. Dibagi 3 orang. Suami membaca juz 1, say membaca juz 2 dan anak sulung saya membaca sisanya. 

Setiap baca satu halaman ditiupkan ke air. Setelah itu saya percik air di semua sudut  rumah. 

Saya juga siramkan sebagian di bak mandi dan saya suruh anggota keluarga minum air tersebut.

Alhamdulillah, sudah dua pekan lebih setelah itu saya sekeluarga merasa aman tidak ada kekhawatiran lagi saat meletakkan uang di rumah.

Mohon doanya mudah-mudahan benar-benar aman seterusnya. Karena hal tersebut telah berlangsung sekitar 2 tahun. 

Kami sekeluarga merasa diteror dengan kasus uang (dan barang) yang hilangnya misterius.


Peserta TQ Ambon

Selasa

VISI MISI KELUARGA MUSLIM

Seperti apakah bentuk keluarga kita?

Maklum, ada yang mengatakan rumahku surgaku. Tapi, tak sedikit mengatakan rumah gue kayak neraka. Atau, hambar saja. Tak ada rasa bahwa kita punya keluarga.

Apa pun bentuk keluarga kita itu adalah hasil dari perpaduan tiga faktor pembentuknya.
Ketiga faktor itu adalah paradigma yang kita miliki tentang keluarga, kompetensi seluruh anggota keluarga kita dalam membangun keluarga, dan macam apa aktivitas yang ada dalam keluarga kita.
Kalau dalam paradigma kita bahwa keluarga bahagia adalah yang bergelimangan harta, maka motivasi kita dalam berkeluarga adalah mengkapitalisasi kekayaan. Maka, pusat perhatian kita dalam berkeluarga adalah menambah kekayaan semata.

Bagi paradigma berkeluarga seorang muslim berasal dari motivasi bahwa berkeluarga adalah untuk beribadah kepada Allah, menjaga kesucian diri, dan merealisasikan amal bahwa berkeluarga adalah bagian dari sebuah gerakan menegakkan hukum-hukum Allah di muka bumi. Sehingga, pusat perhatiannya dalam berkeluarga adalah meningkatkan kualitas ruhiyah (ruhani), fikriyah (akal-pemikiran), nafsiyah (emosi kejiwaan), jasadiyah (fisik), dan ijtima'iyah (sosial) setiap anggota keluarganya.

Membangun keluarga sakinah mawadah wa rahmah (samara) adalah sasaran antara yang dibutuhkan seorang muslim dalam mencapai tujuan berkeluarganya. Dalam keluarga yang samara itulah kita akan melahirkan pribadi islami untuk saat ini dan masa depan, menjadi pemimpin umat yang berkualitas.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
(25:74)

Jadi, sangat penting bagi seorang muslim membangun kompetensi untuk membangun keluarga. Apa itu kompetensi berkeluarga?

Kompetensi berumah tangga adalah segala pengetahuan, keterampilan, dan sikap dasar yang harus dimiliki agar seseorang dapat berhasil membangun rumah tangga yang kokoh yang menjadi basis penegakkan nilai-nilai Islam di masyarakat. Maka tak heran jika Rasulullah saw. menyuruh kita untuk pandai-pandai memilih pasangan hidup. Jangan asal pilih.

Abi Hurairah r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda, “Seorang wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Berbahagialah orang yang menikahi wanita karena agamanya, dan merugilah orang yang menikahi wanita hanya karena harta, kecantikan, dan keturunannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Abdillah bin Amrin r.a. berkata, bahwa Rasu­lullah saw. telah bersabda, “Janganlah kamu menikahi wanita hanya karena kecantikannya, sebab kecantikan itu pada saatnya akan hilang. Janganlah kamu menikahi wanita hanya karena hartanya, sebab harta boleh jadi membuatnya congkak. Tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab seorang wanita budak yang jelek lagi hitam kelam yang memiliki agama (kuat dalam beragama) adalah lebih baik daripada wanita merdeka yang cantik lagi kaya, tetapi tidak beragama.” (HR. Ibnu Majah).

Ibnu Abbas r.a. berkata, bahwa Nabi saw. telah bersabda, “Empat perkara, barangsiapa memilikinya berarti dia mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat: hati yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berdzikir, badan yang sabar dikala mendapat musibah, dan istri yang dapat menjaga kehormatan diri serta dapat menjaga harta suami.” (HR. Thabrani dalam kitab Al-Kabir dan Al-Ausath, sedang sanad dalam salah satu dan dua riwayat adalah bagus).

Keshalihan diri kita dan pasangan hidup kita adalah modal dasar membentuk keluarga samara. Seperti apakah keluarga samara?

Yaitu keluarga dengan KARAKTERISTIK sebagai berikut:
- Keluarga yang dibangun oleh pasangan suami-istri yang shalih.
- Keluarga yang anggotanya punya kesadaran untuk menjaga prinsip dan norma Islam.
- Keluarga yang mendorong seluruh anggotanya untuk mengikuti ajaran islam.
- Keluarga yang anggota keluarganya terlibat dalam aktivitas ibadah dan dakwah, dalam bentuk dan skala apapun.
- Keluarga yang menjaga adab-adab Islam dalam semua sisi kehidupan rumah tangga.
- Keluarga yang anggotanya melaksanakan kewajiban dan hak masing-masing.
- Keluarga yang baik dalam melaksanakan tarbiyatul aulad (proses mendidik anak-anak).
- Keluarga yang baik dalam mentarbiyah khadimah (mendidik pembantu).

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. [QS. Ruum (30): 21]

Untuk apa Allah memberikan samara kepada pasangan suami-istri muslim? Sebagai modal untuk meraih kebahagiaan. Bukankah tujuan hidup kita sebagai seorang manusia adalah memperoleh kebahagian?

Bagi seorang muslim, ada TIGA LEVEL KEBAHAGIAAN yang ingin dicapai sesuai dengan QS. Al-Baqarah (2) ayat 201.

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”

1.  رَبَّنـــَا آتِــنَا فِي الدُّنْيــَا حَسَنَةً
Robbanaa aatina fid dun-yaa hasanah

2.  وَ فِي اْلآخَرَةِ حَسَنَةً
Wa fil aakhiroti hasanah

3.  وَ قِــنَا عَذَابَ الــنَّارِ
Waqinaa 'adzaaban naar

Itulah sebaik-baik doa seorang muslim. Kita bercita-cita meraih kebahagiaan di dunia. Ketika meninggalkan dunia, kita mendapat kebahagiaan di akhirat. Yang dimaksud dengan al-hasanah (kebaikan) di akhirat adalah surga.

Tapi, ada orang yang langsung masuk surga dan ada orang yang dibersihkan dulu dosa-dosanya di neraka baru kemudian masuk surga. Nah, obsesi tertinggi kita adalah wa qinaa adzaaban nar, masuk surga dengan tanpa tersentuh api neraka terlebih dahulu. Sebab, inilah kesuksesan yang sebenarnya bagi diri seorang mukmin.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [QS. Ali Imran (3): 185]

Karena itu, doa rabbanaa atinaa fiiddunya hasanah… haruslah menjadi syiar yang selalu disenandungkan oleh setiap muslim sepanjang hidupnya di dunia.

Ketika seorang muslim dan muslimah menikah, syiar ini bertransformasi menjadi: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim (66): 6)

Inilah tugas pokok seorang kepala keluarga: menjaga agar tidak satupun anggota keluarganya tersentuh api neraka.

Untuk menunjukkan bahwa tugas ini sangat penting, Allah swt. memvisualisasikan bagaimana dahsyatnya neraka dan tidak nyamannya orang yang masuk ke dalamnya. Bahkan, orang yang masuk ke dalam neraka menjadi bahan bakar. Diperlakukan kasar dan keras.
Padahal, kita tidak pernah ridha jika istri kita diganggu orang di jalan, kita marah jika anak kita dilukai orang, kita tidak mau anggota keluarga kita tidak nyaman akibat kepanasan atau kehujanan. Itulah bentuk rasa sayang kita kepada mereka. Seharusnya, bentuk kasih sayang itu juga menyangkut nasib mereka di akhirat kelak. Kita tidak ingin satu orang anggota keluarga kita tersentuh api neraka.

Tugas berat ini tentu tak mungkin ditanggung oleh seorang kepala keluarga sendiri tanpa ada keinginan yang sama dari setiap anggota keluarga. Artinya, akan lebih mudah jika seorang suami beristri seorang muslimah yang punya visi yang sama: sama-sama ingin masuk surga tanpa tersentuh api neraka. Inilah salah satu alasan bahwa kita tidak boleh asal dalam memilih pasangan hidup.
Karena itu, hubungan suami-istri, orang tua dan anak, adalah hubungan saling tolong menolong. Saling tolong menolong agar tidak tersentuh api neraka.

" Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. At-Taubah (9): 71]
Tolong menolong.
Itulah kata kunci pasangan samara dalam mengelola keluarga. Suami-istri itu akan berbagi peran dan tanggung jawab dalam mengelola keluarga mereka. Sungguh indah gambaran pasangan suami-istri yang seperti ini. Suaminya penuh rasa tanggung jawab, istrinya mampu menjaga diri dan menempatkan diri.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka.” [QS. An-Nisa' (4): 34]

Pasangan suami-istri yang seperti itu sadar betul bahwa keluarga harus dikelola seperti sebuah organisasi. Bukankah keluarga adalah unit terkecil dalam susunan organisasi masyarakat? Bukankah keluarga miniatur sebuah negara? Jadi, kenapa banyak keluarga berjalan tanpa pengorganisasian yang memadai?

Jika kita yakin bahwa keluarga adalah sebuah lembaga, maka sebagai lembaga harus terorganisasi. Ada pemimpin ada yang dipimpin. Ikatan antara pemimpin dan yang dipimpin adalah ikatan kerjasama. Kerjasama haruslah punya tujuan yang terukur. Dan tujuan yang ingin dicapai haruslah diketahui bagaimana cara mencapainya. Itu artinya, cara pencapaiannya harus direncanakan. Setiap rencana baru bisa sukses jika diiringin kemauan yang kuat (azzam).

Dan salah satu rahasia keberhasilan realisasi sebuah rencana adalah ketika rencana itu dibuat dengan prinsip syura. Semakin tinggi tingkat partisipasi, maka akan semakin tinggi potensi keberhasilan tujuan itu dicapai. Inilah salah satu rahasia keberhasilan Rasulullah saw. mengelola para sahabat. Karena Rasulullah saw. selain berlemah-lembut, juga mengajak peran aktif mereka dalam bermusyawarah membuat rencana-rencana strategis (lihat QS. Ali Imran (3): 159].

Artinya, keluarga juga akan sukses mencapai tujuan-tujuannya jika menerapkan prinsip syura dalam perencanaannya. Bahkan, untuk urusan menyapih (ibu berhenti memberi ASI) pun harus disyurakan. Ini perintah Allah swt. Silakan lihat QS. Al-Baqarah (2) ayat 233.

Jadi, jika ingin tidak ada satu orang keluarga pun tersentuh api neraka, kita harus merencanakannya. Tetapkan ini sebagai visi keluarga kita. Lalu, breakdown agar menjadi sebuah langkah yang aplikatif. Jika kita perinci, kira-kira akan menjadi seperti ini.

VISI keluarga kita:
Tidak ada satu pun anggota keluarga tersentuh api neraka وَ قِــنَا عَذَابَ الــنَّارِ

MISI keluarga kita:Mencapai derajat takwa yang sebenarnya التَّقْوَى حَقَّ تُـقَـاتِه)ِ)
Menyiapkan diri dan anggota keluarga sebagai pemimpin umat di level dan di sektor manapun, yang membimbing sesuai nilai² agama yg benar.

STRATEGI untuk mencapai visi dan misi keluarga kita:1. Setiap anggota keluarga mengikuti tarbiyah (pendidikan) dalam bentuk tilawah Al-Qur’an, ada proses tazkiyah (pembersihan diri), dan taklim.
2. Setiap anggota keluarga menjalankan ibadah sampai derajat ihsan.
3. Setiap anggota keluarga berdakwah dan berjuang fii sabilillah.
4. Ada anggota keluarga yang menjadi pemimpin masyarakat (istikhlafu fiil ardhi).
ARAH KEBIJAKAN keluarga kita:
1. Semua anggota keluarga kita harus tertarbiyah (terbina dengan pembinaan keislaman) yang baik.
2. Setiap anggota keluarga harus memiliki jadwal ibadah unggulan pribadi, baik secara ritual maupun sosial.
3. Secara jama’i (bersama-sama), keluarga harus punya jadwal ibadah unggulan, baik ritual maupun sosial.
4. Harus memiliki agenda dakwah di dalam keluarga.
5. Harus memiliki agenda dakwah di untuk masyarakat sekitar.
6. Menghadirkan suasana keluarga yang mendukung tercapainya visi dan misi keluarga.
7. Mendidik setiap anggota keluarga untuk mencapai kualitas keluarga sebagai pemimpin umat.
8. Menyediakan anggaran, sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung tercapainya visi dan misi keluarga.

Setelah arah dan kebijakan ditetapkan, perincilah ke dalam program dan kegiatan yang aplikatif.
Mungkin tabel seperti di bawah ini bisa membantu dalam menyusun rencana agar tidak satu pun anggota keluarga kita tersentuh api neraka.

RENSTRA KELUARGA KITA
Dengan mengharap bimbingan dan rahmat Allah swt., kami bertekad melaksanakan rencana ini.
Buat Renstra (Rencana Strategis) Keluarga bersama-sama dalam Raker Keluarga).

Jadi, masuk surga memang harus direncanakan. Bukan sekadar diharapkan!


_____________________
Mochammad Bugi
(Berdasarkan materi taujih H. Riyadh Rosyadi, Makkah 2007).